Layalli

July 11, 2008

Melirik peluang usaha “Odong-odong” …

Filed under: Uncategorized — layalli @ 4:47 pm

Entah siapa yang memberikan nama odong-odong pada kendaraan yang menyerupai becak ini. Akan tetapi disetiap perumahan nama odong-odong sudah

tidak asing lagi terutama di kalangan anak-anak. Cara kerjanya seperti becak yaitu dengan di genjot, akan tetapi dapat membawa penumpang lebih bayak sekitar 4 – 8 orang anak kecil tergantung modelnya. Dilengkapi dengan tape untuk memutar lagu anak-anak, juga diberi hiasan agar anak-anak tertarik untuk menaikinya. Pada awalnya odong-odong hanya menyediakan bangku panjang yang terbuat dari kayu dan dikasi jok busa bagi penumpangnya. Anak-anak di jemput di depan rumah masing dibawa memutar komplek perumahan diiringi dengan 3 lagu anak-anak. Tiga lagu dihargai seribu rupiah cukup murah. Setelah lagu habis anak tersebut akan diatar ketempat semula.

Pertama-tama muncul banyak ibu-ibu yang cemas anaknya di bawa, sehingga ikut naik juga. Ada juga yang menugaskan pembantu atau kakaknya untuk mengikuti dari belakang dengan menggunakan sepeda. Setelah cukup mengenal pengendaranya maka anak-anak di percayakan untuk naik sendiri tanpa pengawalan. Hal ini berlangsung cukup lama sampai suatu saat ada ibu yang mengeluh bahwa perhiasan yang kenakan anaknya hilang. Tentunya tidak dapat semerta-merta menuduh pengendara yang mencurinya. Kadang pada saat ramai ada anak yang diturunkan disitulah kesempatan bagi pencuri.

Sempat beberapa bulan karena berita miring tersebut, dengan ide yang kreatif di designlah odong-odong versi baru. Bangku yang tadinya panjang diganti dengan bangku berbentuk mobil-mobilan, bebek, ayam, dll. Meskipun tarif tiga lagu tetap seribu rupiah untuk menghemat accu lagunya di remix sehingga cepat selesai. Cara kerjanya sama di genjot dengan bantuan accu mobil-mobilan tersebut dapat naik turun, sehingga tidak perlu memutari komplek perumahan lagi akan tetapi tetap di tempat. Odong-odong versi baru ini tidak membuat orang tua cemas karena dapat tetap mengawasi anaknya. Tidak jarang anak naik odong-odong sambil disuapi makan. Tidak menjadi masalah apabila harus membayar lebih dari seribu yang penting makanan di piring habis dan anakpun senang. Tidak jarang mereka menjadi pelanggan setia, sehingga pengendara odong-odongpun dapat menghapal nama-nama mereka.

Odong-odong jenis ini membutuhkan biaya cukup besar karena menggunakan bangku yang terbuat dari mainan anak-anak. Pengendara odong-odong bukan pemilik kendaraan tersebut. Mereka menyewa odong-odong dengan jumlah setoran perharinya Rp. 30.000,- .

Pak Ahmad yang dulunya berprofesi sebagai tukang ojeg menuturkan bahwa lebih untung mengendarai odong-odong dibandingkan ngojek. Akibat PHK dan mudahnya proses pembelian kendaraan roda dua, pengendara ojeg meningkat drastis jumlahnya. Kalau dulu dengan bekerja setengAh hari dapat mengantongi uang berkisar Rp. 20.000 – Rp. 30.000,- sekarang sampai sorepun kadang hanya mengantongi uang Rp. 15.000,-. “Orang sekarang lebih memilih jalan kaki atau naik angkot ketimbang naik ojeg mbak, tuturnya.” Setelah memilih jadi pengendara odong-odong penghasilan perharinya setelah di potong setoran berkisar antara Rp. 20.000 – Rp. 30.000. “ Kerjanya juga nggak lama pagi dari jam 08.00 – 10.30 kemudian keluar lagi sore dari jam 13.00 – 18.00.” katanya lagi.

Zaman susah sekarang ini sepertinya odong-odong dapat di jadikan alternatif peluang usaha,anda tinggal memilih apakah menjadi pemilik odong-odong atau penyewa odong-odong.

Foto

Lokasi: Perumahan Bintara Alam Permai

30 Juni 2008

Pict AFI

No Comments Yet »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Blog at WordPress.com.