Mungkin kali ini kamu benar, tapi benar bukan berarti bisa berbuat semena-mena kan? Toh kebenaran tidak perlu pengakuan, klarifikasi dan lain sebagainya. Kebenaran akan muncul dengan sendirinya. Hanya masalah waktu, iya masalah waktu. Akan ada masanya nanti kamu juga akan berbuat salah, pasti itu, yang terpenting dari sebuah kesalahan adalah perbaikan. Kesalahan tidak dapat terhapus dengan waktu jika tidak diiringi dengan perbaikan. Jika kamu dalam posisi bersalah maka perbaikilah! Jika kamu berada di posisi yang benar, berlapang dadalah, maafkanlah sebagaimana kamu ingin dimaafkan jika berbuat salah. Memaafkan disini berarti dengan ikhlas memaafkan dan tidak akan pernah menggunakan kesalahannya dimasa lalu sebagai senjata untuk menjatuhkannya.
Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:
Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur’an, 7:199)
Dalam ayat lain Allah berfirman: “…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An Nuur, 24:22)
Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:
… dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)