Cegah Kanker Serviks dengan Pemeriksaan IVA

Dari berbagai sumber.

Metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) jadi alternatif baru untuk deteksi dini kanker serviks selain pemeriksaan dengan Pap Smear. Laila Nuranna. ahli kanker kandungan dari FKU1/RSCM menyatakan, berbeda dengan Pap Smear yang di Indonesia metodenya masih mengalami kendala, terutama terkait laboratorium, dengan IVA cara untukmengenali sel kanker relatif tidak sulit.

“Sebenarnya IVA secara metodologi sudah lama dikenal, namun kajian yang menyatakan bahwa IVA tidak terlalu buruk dan mudah dilakukan baru dilakukan sekitar tahun 2004-2005. Di Indonesia. Depkes juga sudah mengadopsinya. Di beberapa daerah di Indonesia bahkan sudah dikeluarkan Perda yang menetapkan pemeriksaan IVA hanya dikenakan biaya Rp5000. Jakarta seharusnya tidak boleh ketinggalan.” ujarnya.

IVA. lanjutnya, memiliki beberapa keunggulan dibandingkan Pap Smear selain dari sisi biaya yang Jauh lebih murah. Karena tidak membutuhkan pemeriksaan laboratorium, hasil IVA bisa langsung diketahui oleh pasien saat itu juga. IVA pun cukup tinggi yakni 60-92 persen atau hampir sama dengan Pap Smear yang mencapai 65-95 persen.

“Sensitivitas IVA bahkan lebih tinggi dari Pap Smear. Dalam waktu 60 detik kalau ada kelainan di serviks akan timbul plak putih yang bisa dicurigai sebagai lesi kanker. Berdasarkan uji coba yang kami lakukan di Jakarta pada tahun 2004-2005. prevalensi IVA positif yakni pasien yang di leher rahimnya ditemukan lesi atau luka pra kanker, jumlahnya mencapai 4.4 persen. Sementara dari hasil pemeriksaan yang baru-baru ini kami lakukan prevalensinya mencapai 2-8 persen. Ini sangat membantu dalam menyelamatkan perempuan,” urainya.

Menurut Laila, jika seseorang dilatih dengan intensif maka mereka akan dengan mudah mengenali kelainan yang terjadi di leher rahim. Saat ini pihaknya sedang menyusun modul yang mengatur bagaimana memberi sertifikasi kepada tenaga kesehatan yang melakukan pemeriksaan dengan IVA. Seluruh bidan, imbuhnya, berpotensi untuk bisa melakukan pemeriksaan IVA. DI samping pendekatan kepada pasien lebih mudah dilakukan oleh bidan, tenaga bidan yang dapat diberdayakan pun cukup besar yakni sebanyak 84 ribu orang.

“Lain halnya dengan Pap Smear yang hanya bisa dilakukan oleh ahli patologi atau si-toteknisi yang mampu melihat sel-sel kanker lewat mikros-kop. Mendidik ahli patologi atau sitoteknisi tidak semudah mendidik bidan sehingga tidak mengherankan kalau jumlah mereka juga sangat sedikit. Sekarang kami sedang melakukan advokasi agar kemampuan melakukan IVA sudah dimiliki oleh para bidan sejak mereka masih di sekolah, jadi sebelum mereka melayani pasien sudah bisa,” paparnya.

Laila menjelaskan, kesadaran perempuan Indonesia untuk melakukan deteksi dini kanker serviks secara teratur masih rendah. Cakupan deteksi dini di Indonesia kurang dari lima persen sehingga banyak kasus kanker serviks ditemukan pada stadium lanjut yang seringkali menyebabkan kematian. Karena itu. dalam rangka International World Cancer Day, Female Cancer Program bersama FKU1 dan RSCM mengadakan deteksi dini kanker serviks gratis dengan metode IVA bagi 600 perempuan.

“Dengan deteksi dini secara teratur, kanker serviks dapat diketahui lebih awal dan ditangani lebih cepat. Saat ini kanker serviks juga sudah dapat dicegah dengan vaksinasi. Vaksinasi memberi perlindungan terhadap HPV, virus penyebab kanker serviks. dan dapat diberikan sejak perempuan Indonesia berusia 10 tahun. Vaksinasi bersama dengan deteksi dini diyakini dapat menurunkan angka kejadian kanker serviks.” ucapnya.

Kanker serviks merupakan kanker yang paling banyak dialami perempuan Indonesia. Data menunjukkan setiap hari terjadi 20-24 kasus kanker serviks baru. Setiap satu jam seorang perempuan di lndone-sia meninggal karena kanker serviks. Setiap perempuan berisiko terkena kanker serviks tanpa melihat kondisi sosial, ekonomi dan gaya hidup.

Secara global kanker serviks membunuh seorang perempuan setiap dua menit, mempengaruhi lebih dari 1,4 juta perempuan di dunia. Diperkirakan sekitar 80 persen perempuan akan terkena infeksi HPV dalam hidupnya. Bagi sebagian besar perempuan, virus tersebut akan dibersihkan oleh sistem kekebalan tubuhnya. Namun. Jika infeksi HPV tersebut menetap, seorang perempuan akan berisiko terkena kanker serviks. (cr-5)

Tahun lalu POMG disekolah anak saya mengadakan acara pemeriksaan IVA di Klinik sekolah. Yang melakukan pemeriksaan bidan dan dipimpin oleh Dokter. Biayanya Rp. 30.000,-. Pemeriksaan hanya dilakukan sebentar, sekitar 5 menit, dan hasilnya dapat langsung diketahui. Alhamdulillah hasilnya baik dan disarankan tahun depan periksa kembali. Ayo Moms, jangan malas, luangkan waktu untuk periksa ya.

2 thoughts on “Cegah Kanker Serviks dengan Pemeriksaan IVA

  1. niken dharmayanti

    Ass ibu dokter saya ingin periksa mulut rahim, setelah periksa IVA ternyata ada darah keputihan, dan bintil-bintil putih bagaimana dokter saya seharusnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s