Anakku Muntah

Subuh tadi Adik muntah sampai 3 kali, lemas dia, sudah pasti tidak mau dikasi makan dan minum. Aku tetap usaha kasi dia minum sedikit-sedikit. Dikasi oralit menjerit …GAK ENAK BUNDAAAA….

Akhirnya jurus lama keluar, dikasi parutan bawang merah dengan minyak, plus minyak kayu putih. Masih saja suara diperutnya rame. Akhirnya Bunda keluar nyari pohon jarak yang Bunda tanam di taman komplek sewaktu Abang kecil. Di ambil beberapa helai dicuci bersih, keringkan, diolesi minyak goreng, lalu di panggang sebentar di atas api (sekedar lewat aja biar layu). Kemudian di tempelkan ke perut anak. Selang 3 jam di periksa daunnya udah mengering semua. Menurut orang tua, daun jarak menyerap angin dalam tubuh. Masih belum cukup juga minta ayah beli lacto B ke apotik. Fungsi Lacto B untuk menetralkan pencernaan saja, isinya kan bakteri baik, istilah awamnya. Lumayan gak muntah lagi, gantinya mencret 2 kali. Tambah lagi kayu putih dan daun jarak. Tetap dikasi air minum sedikit-sedikit 2 sdm setiap 5-10 menit. Fokus ke anak saja, karena jika dikasi minum agak banyak akan merangsang untuk muntah lagi. Sore hari alhamdulillah sudah ceria mulai nyanyi-nyanyi sendiri dan bisa makan 4 suap nasi.

Sering konsultasi dengan dokter anak, menurut dokter muntah adalah reaksi alami tubuh dalam rangka mengeluarkan sesuatu yang tidak baik (racun) dari tubuh. Sama dengan diare, biasanya setelah muntah disusul dengan diare , lalu demam karena kekurangan cairan lalu berangsur-angsur pulih. Jadi dokter tidak menyarankan membeli obat pencegah muntah atau mencegah diare. Biarkan saja racun-racunnya dibuang karena memang mekanisme alami tubuh. Yang perlu dijaga adalah asupan air dan mineralnya jangan sampai dehidrasi. Oralit/larutan gula dan garam adalah temuan orang Indonesia yang diakui dunia. Jadi segala merk pedialite apalah itu, cuma niru aja, keren yah Indonesia.
Jika kita baca dikemasan obat yang kandungannya koalin dan pektin (obat diare), terdapat tulisan, untuk mengobati diare yang tidak diketahui penyebabnya, lebih kurang begitu tulisannya. Yah… tuh obat aja gak tau sebab sakitnya apa, berani-beraninya ngobatin.🙂. Jangan panik, selama anak masih ceria dan ada cairan yang masuk Insha Allah tidak berbahaya. Jangan berusaha memberi anak makanan karena pasti merangsang muntah. Jika anak lemas, dan kekurangan cairan baru segera dibawa ke dokter.

Giliran Bu Guru nelpon dari sekolah bilang Abang muntah. Jadinya bunda gak PD, harus menghadapi dua anak sakit, ya sudah banyak berdoa saja. Karena abang di tambah sakit kepala dia minta di bawa ke dokter. Sampai di dokter tidak dikasi obat cuma disarankan minum oralit. Abang tidak suka rasanya “terpaksa” beli pedialite. Alhamdulillah jadi tidak kuatir lagi.

Dokternya anak-anak memang melihat karakter orang tua pasien. Jika orang tua mudah panik, maka anak diberi obat anti muntah sama obat diare. Akan tetapi jika sudah saling mengenal antara dokter dengan pasien, maka dokter akan lebih hati-hati dalam memberi obat. Diperlukan komunikasi antar dokter dan orang tua. Kita tidak boleh pasrah saja terima obat lalu diminum. Dokter juga manusia kan.

Saya setiap ke dokter dikasi obat selalu bertanya fungsi obat apa? Cara kerja bagaimana? Efek sampingnya? Perlu tidak minum obat, apa bisa dengan cara alami? Bawel saudara-saudara, hasilnya malah dapat ilmu yang jelas, sejelas-jelasnya. Pun dokter jarang memberi antibiotik, kalau memang tidak perlu sekali. Cuma sebagai orang tua harus sabar menjalani proses penyembuhannya. Memang ada yang suka lebih praktis, dua kali minum obat sudah keliatan sembuh. Kalau saya lebih suka agar mekanisme tubuhnya berjalan sesuai fungsi. Tubuhnya dulu yang melawan penyakit, kalau tidak sanggup baru dibantu obat. Jika masih ada obat tradisional pakai yang tradisional dulu, tradisional yang benar-benar alami bukan racikan dalam bentuk obat herbal.

Sama ketika anak demam, saya cek dulu suhunya jika masih 38 drajat jarang saya beri obat demam. Demam mekanisme tubuh untuk melawan penyakit. Ada penyakit-penyakit tertentu yang dapat dilawan dengan menaikkan suhu badan. Tubuh kita diciptakan dengan sempurna, tinggal menjalani proses. Sekali lagi butuh kesabaran dan kesepakatan kedua orang tua. Sering kejadian saya tidak kasi obat demam, tapi diam-diam suami saya yang kasi hehehe. Jika sampai 3 hari masih demam, segera bawa ke dokter. Disini naluri Ibu harus dipercaya, karena Ibu yang paling tau kondisi anaknya, apakah perlu segera ke dokter atau bisa ditangani di rumah. Semoga cepat sembuh ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s