Am I really a Mother?

TFT trip bareng sekolah. :)
TFT trip bareng sekolah.🙂

Percakapan sehari sebelum jambore di sekolah anakku.

Abang: “Bunda, Abang besok pergi jambore, itu semua musti dibawa nda……..(menunjukkan kertas yang di berikan oleh gurunya).
Bunda: “Ya udah siapakan sendiri ya, kan orang tua nggak boleh ikut.”
Semangat sekali dia menyiapkan perlengkapannya, meskipun ada sesuatu yang tidak beres, tapi tidak apa-apa umurnya baru 6,5 tahun. Setidaknya dia lebih mandiri, ya itu yang selalu aku tanamkan, mandiri dan tidak menunda-nunda waktu, kerjakan apa yang bisa kamu kerjakan sekarang.

Rabu 21 oktober 2009.
Hari ini berangkat ke cikeas, tidak ada hubungan dengan pelantikan mentri-mentri tapi jambore dari sekolah anakku. Biasa sangat susah dibangunkan, tapi hari ini beda, dia sangat-sangat kooperatif.
Bunda: “Ingat ya Bang, gak boleh pergi sendiri-sendiri ikut sama Bu Guru, kalau mau pipis bilang, biar gurunya tidak cari-cari.
Abang:” Miss Bunda bukan Ibu… Miss Wida”.
Bunda:”Oh iya Miss Wida…”

Tik tok tik tok tik tok
Sudah hampir jam 5 sore, tapi kok belum ada tanda-tanda kepulangannya. Hmm getting worried. Telpon Miss Wida tidak di jawab, oh mungkin sedang sibuk mengurus anak-anak. Sms Rini, ternyata sama, saat ini Rini sedang duduk di teras menanti kepulangan Hafidz. Ibu, ya ibu pada umumnya tentu saja sedikit cemas apabila tidak sesuai dengan jadwal. Tapi ini kan Jakarta pasti macet di jalan (trying to make an excuse).

Jam 5.49 sudah magrib dan belum juga pulang, sebentar-sebentar melihat kearah jendela menanti apakah ada suara motor berhenti sambil berdoa di dalam hati…”Ya Allah tolong anak saya di jaga.” Setelah itu merasa lebih tenang dan bersiap-siap tuk sholat magrib. Alhamdulillah beberapa menit kemudian terdengar suara pagar di buka, it must be him!

Membuka pintu melihat wajahnya…. waw feels like a million year that I haven’t seen him.
Bunda:” Sudah pulang yah…” *sok cool
Abang:” Iya… ternyata Bunda, Abang ngelewatin rumah SBY di cikarang…”
Bunda:” Cikeas kali … “
Abang:”Iya bener Cikeas….”
….
Dan cerita terus bergulir dari mulutnya penuh antusias, I pretend to listen to him, but not a single word he says I can remember. Hanya terus bersyukur di dalam hati bahwa anakku telah sampai dirumah dengan selamat, sehat dan yang terpenting, He is very happy.
Abang:” Abang outbond seru nda naik keatas …..bla..bla..bla…”
Anakku sudah besar sekarang, dia sangat menikmati masa kecilnya. Dia tidak tau bahwa ibunya sangat menyayangi dan mencemaskannya. Tiba-tiba rasa kesadaran itu muncul, perlahan-lahan teringat apa yang pernah di tulis oleh Kahril Gibran:”….anakmu bukan anakmu….”

Keiklasan itu muncul bahwa benar adanya yang terpenting adalah kebahagiaan mereka, bukan apa yang seharusnya (versi orang tua) mereka lakukan demi “masa depan mereka”. Terkadang aku merasa paling tau apa yang anakku butuhkan. Ternyata aku salah besar… dengan membiarkan mereka tumbuh sebagaimana seharusnya, menikmati segala kegiatannya dan membuat mereka bahagia itulah yang terpenting. Karena….anakku bukan anakku….. suatu saat mereka akan pergi meninggalkan kami dan mencari kebahagiaannya sendiri. Sebelum waktu itu datang kenapa harus cemas, jalani saja saat ini sambil mempersiapkan untuk masa depan, masa depan bukan untuk di cemaskan tapi untuk di raih. Bukankah selama ini aku selalu mengajarkan agar mereka mandiri dan tidak mensia-siakan waktu?
Aku kira itu awal yang baik buat bekal mereka meraih masa depan.
Sekarang aku sedikit mengerti dengan kata-kata om gibran di bawah ini.…

Anakmu Bukan Anakmu- Kahlil Gibran
ANAKMU bukan anakmu !

“Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir
melaluimu tetapi bukan berasal darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena
jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun.

Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan
tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang melucur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s