Point of view

Terkadang, kita dihadapkan pada situasi dimana kita harus memilih yang terbaik diantara yang terburuk, dengan semua konsekuensi yang akan dihadapi, dengan semua kekurangan yang kita miliki, dengan segala rintangan yang ada dan dengan segala macam kepentingan yang menempel didalamnya.
Seharusnya, teorinya dengan bertambahnya usia dan pengalaman saya bisa mengambil tindakan dengan lebih tepat dan bijak. Akan tetapi pada kenyataannya dengan segala kekurangan yang saya miliki pasti akan ada friksi disana sini. Intinya saya tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang walaupun saya berusaha sekuat tenaga bahkan berusaha mengesampingkan kepentingan saya pribadi.

Kelemahan saya yang sering terjadi berulang-ulang adalah tidak bisa menebak apa-apa yang tersurat. Saya bisa menerima semua pendapat, menghargai orang lain tapi saya kurang jago menebak isi dibalik kalimat-kalimat yang absurd. Pointnya gini kalau berbicara dengan saya just speak up. I don’t mind, no hurt feeling. Iya seharusnya saya paham saya tinggal di Indonesia yang kaya akan budaya, adat istiadat yang masih dijunjung tinggi, pertimbangan sikap santun dan segan dan sejenisnya. Maafkan kelemahan saya, dan saya menulis ini dengan segala kerendahan hati mengakui bahwa itulah kelemahan saya. Semoga suatu saat nanti saya tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ya itu semua efek dari perbedaan point of view 🙂

Biasanya kalau dihadapkan pada situasi seperti ini saya akan berkaca dan menganalisa apa sih niat dihati saya? Apakah niatnya lurus? Apakah saya siap dengan feed back yang mungkin akan membuat saya sedikit bersedih. Jika saya sudah memutuskan bahwa: The show must go on. Maka Bismilla.
Seperti sudah diduga sebelumnya maka sayalah yang seharusnya banyak mengalah demi tercapainya suatu tujuan yang menurut kepentingan orang banyak baik, sayalah yang harus ikhlas, sabar, legowo, mudah dikatakan sulit prakteknya. Jangan gentar, karena selalu terbukti pada akhirnya nanti kebenaran itu akan terungkap, Yang Maha Tau yang mengungkap semuanya, dan pada saat saya sudah ikhlas dengan ketetapan-Nya. Maka semua tabir, usaha, kerja keras dan pengorbanan akan diberikan solusi yang tidak terduga-duga dan itulah yang terbaik. Semua kejadian, apakah itu baik atau buruk yang minimpa diri saya sudah menjadi ketetapan Allah. Insha Allah dari setiap kejadian dapat diambil hikmahnya. Seperti kata Aa Gym: hidup adalah perpindahan satu masalah ke masalah lain, sebagai karunia agar bertambah ilmu, pengalaman, pahala dan kemuliaan.

Jadi kesimpulannya jika saya yakin itu untuk suatu hal yang baik bagi sesama maka jalanilah dengan sabar dan ikhlas. Allah akan menunjukkan jalannya.
Dalam situasi seperti ini, bolehlah saya bercermin dalam kalimat-kalimat indah Ibu Theresa:

Kalau kamu jujur dan terus-terang, orang akan mengira kamu sedang berbuat curang. Biarkanlah begitu, tetaplah berlaku jujur.

Apa yang kamu bangun selama bertahun-tahun, bisa saja dihancurkan oleh seseorang dalam waktu satu malam. Biarkanlah begitu, tetaplah membangun.

Kalau kamu berada dalam kedamaian dan kebahagiaan, orang-orang pasti iri dan cemburu, maka dari itu tetaplah kamu bahagia dan tersenyum dalam kedamaianmu.

Perbuatan baik yang hari ini kamu lakukan, bisa jadi dilupakan oleh orang esok hari. Biarkanlah begitu, tetaplah berbuat baik.

Berilah dunia ini yang paling bagus yang kamu miliki, dan itu belum tentu cukup. Tetapi bagaimanapun juga, tetaplah memberi.

Dan kamu akan lihat pada akhirnya bahwa semua ini hanya urusan antara kamu dan Tuhan saja”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s