Nasi Bancakan @ Bandung

Today we’re heading to Bandung. The purpose is to attend Sitti Hamdiyah wedding on Sunday. Arrived at Bandung at 01:00 pm. toward Widiyatama University. Having lunch at the canteen. My husband meet Mr. Jaja and giving short class there. It’s been a long time, so it’s hard for me to write in English. The words just won’t come, stuck hehehe. Here we go in Bahasa.

Sambil menunggu ayah selesai mengajar kami menuju Dago menjemput Ami, kemudian lanjut ke Ciwalk. Nad dan Ami janjian mau bertemu dengan teman-temannya. Bunda gak konsen antara mau kerumah mode tapi ragu-ragu takut kalap. Makan di kantin tadi anak-anak hanya makan kentang dan sedikit nugget. Pencegahan masuk angin tidak mau ambil resiko maka
kami makan K*C di Setiabudi sambil menunggu Ayah. Ternyata duduk-dudk di balkon atas K*C nyaman banget udara sejuk sambil memperhatikan mobil lalu-lalang. Waktu menunggu tidak terasa membosankan. Ayah datang, kembali lagi ke Ciwalk. Mau ke Punclut tapi kok sepertinya macet, sementara makan siang di kampus tadi agak-agak kurang cocok seleranya, mau cari makanan yang benar-benar makan. Pilihannya nasi Bancakan, secara di Bandung gitu loh. Browsing dulu liat-liat maka berangkatlah ke Nasi Bancakan di Jln. Trunojoyo No.62. Suasananya dan perabot yang digunakan bener-bener kampung banget. Nasi liwet dengan berbagai macam lauk pauk tersedia. Saya memilih paru, tumis toge pakai tahu, lalapan sambel sama tempe goreng jangan pernah melewatkan tempe di Bandung🙂. Alhamdulillah semuanya cocok di lidah. Melewati tempat memasak nasi saya kagum sekali karena memasak nasinya menggunakan priuk yang di masak dengan kayu. Pantas nasinya enak dan harum. Liat ikan asin bakar plus sambel sereh, ambil lagi. Tersedia juga berbagai macam minuman tapi saya kurang tertarik minum es dimalam hari.

Overall makanannya cocok di lidah kami, harganya murah dari harga Rp.2000 – rp.9500. Menunya benar-benar serasa makan di rumah sendiri. Piring dan gelas yang digunakan dari kaleng, seperti kembali ke tempoe doeloe. Hiasan dindingnya asal jadi ada poster bintang film india, penyanyi, lukisan kuda, foto founding father Soekarno, foto presiden SBY dan wakilnya. Pokoknya suka-suka yang punya warung dan merakyat banget. Yang agak mengganggu cuma banyak tulisan ditulis dengan karton putih yang memberitahukan apabila pelayanannya kurang ramah/memuaskan maka tulis di kertas saran. Begitulah kira-kira karena menggunakan bahasa Sunda, Abdi teh teu terang :p.
Kami makan di malam minggu banyak tempat yang sudah di reserve dan benar saja sehabis magrib pengunjung berdatangan sehingga antrian cukup panjang. Note, kalau datang malam minggu sebaiknya reserve tempat terlebih dahulu. Hayuk deh dicoba menu-menu yang jarang banget kita temukan di resotran-restoran modern yang bikin kangen masa lalu. Salut buat Abah Barna yang mencoba mempertahankan makanan tradisional Tempoe doeloenya.

Bancakan Bang Barna @Bandung
Nasi Liwet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s