Naik Gunung Gede-Pangrango

Naik Gunung. Menurut pendapat pribadi saya, setiap orang sekali dalam hidupnya MUSTI naik gunung. MUSTI dengan huruf kapital, karena sensasinya tidak bisa diceritakan dengan kata-kata😀 Pertama kali naik gunung kelas 3 SMA. Itupun perjuangan mendapat izinnya 2 tahun, gak keluar. Kelas 1 SMA tidak diizinkan, disogok diajak jalan-jalan ke Bandung/Ciater saya dirumah saja. Kelas 2 SMA tidak diizinkan juga disogok diajak jalan-jalan ke Batu -Malang, tapi saya sudah tahu modusnya. Saya tidak naik gunung dan tidak ikut ke Malang *pilihan sulit tapi itu sikap :p. Namanya anak baik, dilarang orang tua ya nurut. Lumayan manyun juga dirumah sendirian, tapi apa mau dikata terlanjur mengambil sikap. Syukurnya ditahun ke 3, my last chance untuk bisa naik gunung, orang tua mulai 50:50, mau dilarang sih sebenarnya cuma tau anaknya pingin banget, pasti kecewa, diizinkan takut. Susah bener ya jadi orang tua hahahaha.

Mulailah saya menggalang dukungan dari Tante saya yang pernah naik gunung Gede-Pangrango. Tante Lina namanya, baik banget beliau. Dijelaskan prosesnya, rutenya yang sudah berbentuk jalan setapak, intinya Insya Allah tidak terjadi apa-apa asal jangan takabur. Alhamdulillah akhirnya izin keluar juga, sebelum berubah pikirian langsung hari itu juga daftar dan segala bentuk persyaratan dipenuhi, surat kesehatan dari dokter, jaket tebal *pinjam, dll. Zaman dulu peran teman-teman sangat besar. Saya yang sama sekali gak pernah naik gunung ya tidak punya perlengkapannya. Caranya saling pinjam meminjam. Sleeping bag tidak punya, tenda tidak punya yah koboi aja. Beda sama anak sekarang apa-apa beli bahkan camping di sekolah saja pakai sleeping bag🙂.

Saya sudah diwanti-wanti sama teman bahwa nanti barang bawaan jangan terlalu banyak karena waktu naiknya capek apalagi dengan beban di punggung. Maka selain yang dipakai dibadan, saya hanya membawa 2 batang coklat, 2 bungkus mie instan, minum, udah sepertinya itu saja. Benar sekali baru 1/2 perjalanan udah kecapean, coklat saya bagi-bagikan, minuman saya minum sedikit-sedikit biar tidak berat, ada sih porter teman saya yang bernama Zaki membawakan tas, tapi karena gak tega liat bawaan dia saya bawa tas sendiri. Teman saya menengur, jangan dibagikan semua coklatnya nanti dibutuhkan untuk turun, buat nambah energi. Dalam hati saya bisa naik sampai atas aja sudah syukur banget deh gak mikirin gimana turun nanti. Semakin ke atas semakin dingin, 5 drajat celcius di posko kandang badak. Saya hampir menyerah mau nginap disitu saja, gak kuat, gak tahan dingin, malah sepatu saya basah karena terpeleset di sungai kecil.  Seharusnya memang membawa sepatu dan kaos kaki cadangan, jaket juga di dobel sama sweather.

Pendakian dilakukan di malam hari sekitar jam 21:00, selama pendakian tidak banyak yang bisa dilihat karena gelap.
Ah saya menyerah saja tidur di posko. Saya minta izin sama rombongan regu, minta ditinggal. Dia cuma senyam-senyum saja. Yang lain pada sibuk masak mie instan, yang ada dipikiran saya saat itu, gimana caranya bisa tidur nyelip-nyelip diantara rombongan pendaki lain yang tidak saya kenal karena saya tidak punya sleeping bag. Tidak tahan dengan cuaca dingin, hidung saya balut dengan syal karena sudah hampir mimisan, setiap bernafas terasa sakit. Dalam rombongan itu semua punya problem masing-masing, karena acara hiking ini hiking rally pesertanya siapa saja bukan hanya anak Pramuka atau pencinta alam yang biasa naik gunung. Melihat teman-teman yang lain pada loyo, saya hanya diam, membalut kaki saya yang hampir beku dengan kantong plastik agar lebih hangat. Lumayan urusan sepatu basah mulai teratasi, hidung juga sudah, makan ah bisa di skip, sekarang kalau saya ditinggal bersama rombongan yang saya gak kenal gimana urusannya? Duduk mengelilingi api unggun, seru juga lumayan hangat bergabung dengan pendaki lain rame dan suasana akrab.

Tidak berapa lama  seseorang menghampiri membawakan beberapa mangkuk mie instan dan membagikannya, saya bilang:”Bukan punya saya, mie saya masih di tas belum dimasak.” Dia:” ambil aja nih, kebetulan pada masak banyak tuh.” Saya yang ragu-ragu melirik keteman saya, dia mengangguk. Alhamdulillah masalah makanan teratasi, ternyata lagi dingin-dingin seperti ini makan mie instan yang bukan favorite saya pun terasa nikmat. Pelajaran pertama, meski gak kenal digunung asik-asik aja, anaknya baik-baik.

Selesai makan, ngobrol-ngobrol dengan temannya Agung, dia tanya kenapa saya mau nginap disini. Saya bilang, haduh gak kuat gimana nanti bisa turun kalau naiknya saja udah gempor kaya gini. Nanti malah merepotkan yang lain. Ternyata berita cepat menyebar, teman saya ini gak pernah sekelas sama saya, tapi dia tau cerita saya sudah 2 kali gagal naik gunung dari teman sekelas saya namanya Agung yang duduknya dibelakang saya dan kebetulan teman satu Pramuka dia. Keberuntungan yang kedua adalah disuruh masuk tenda orang yang gak dikenal juga rombongan cewek-cewek ditenda katanya mereka sepertinya sering naik gunung. Wah bisa gitu saya bukan rombongan mereka, bukan satu sekolah juga. Hiking rally ini memang tidak dianjurkan bawa tenda karena dikebut biar bisa sampai atas liat sun rise. Gak pakai acara nolak saya langsung nyempil diantara cewek-cewek yang sedang tidur ah nikmatnya, hangat.

Dari sebelum berangkat saya sudah banyak bertanya dan pesan sama Agung, nanti kalau di gunung saya jangan ditinggal karena gak begitu akrab dengan teman-teman yang lain. Sudah dijanjikan Agung bakalan jadi pemimpin regu saya, ternyata saya di bohongi. Agung ikut acara bersih-bersih gunung dan dia naik dari jalur berbeda, makin tipis aja deh harapan. Agung bilang:” udah gue titipin elo sama semua tenang aja.” Halah emang barang dititipi.

Baru sebentar tidur udah dibangunin, dibujuk-bujuk sama temannya Agung agar saya semangat untuk naik, tapi saya bergeming. Akhirnya dia mengeluarkan jurus pamungkasnya membujuk saya. Bahwa ini adalah kesempatan terkahir saya naik gunung, jika kuliah nanti belum tentu bisa. Apalagi izin belum tentu keluar, ada sih naik gungung gak liat sun rise? Huaa… saya seperti tersadar dari mimpi langsung ambil ransel dan kumpul kembali bersama regu saya. Ini tak boleh terjadi minimal sampai atas dulu liat sun rise urusan turun gak usah dipikirin. Pendakian dari mulai posko Kandang Badak menuju puncak cukup sulit medannya. Banyak batu besar dan tanjakan terjal, sudah tidak ada lagi jalan setapak, tapi maju terus pantang mundur. Semangat akhirnya sampai juga saya di atas, dan itu adalah hal yang paling saya syukuri bahwa saya tidak menyerah. Saya tidak bisa melukiskan bagaimana perasaan saya ketika diatas. Subhannallah. Cantik banget pemandangannya, beda deh liat gunung dari bawah sama dari atas🙂. Padang edelweis ah cantiknya.

P1000175
Fotonya Benny 2011

Diatas ketemu Agung membawa karung yang isinya sampah, tadinya mau marah gara-gara dibohongi eh gak jadi udah gak kepikiran kalau saya dibohongi :p Ketemu Agung senyam-senyum aja liat sunrise keliatan banget deh happy.
Maka turunnya pun tidak menjadi masalah, paling ujung-ujung jari kaki pada lecet, kata teman saya kalau turun jangan bertumpu pada ujung jari, entahlah saya sudah tidak peduli saya senang. Pemandangan yang kami lewati tadi malam ternyata indah sekali, sungai kecil yang saya terpeleset rupanya air belerang, pantas airnya hangat. Bagus banget deh pemandangannya masih asli, semoga anak cucu saya masih bisa menikmati keindahannya.

Kami tidak diperbolehkan membuang sampah, sampah harus dibawa kembali sampai dibawah. Juga memetik apapun, gak ada sok keren metik bunga edelweis. Sudah cukup puas memandanginya tidak ada keinginan untuk memetik sama sekali. Agak miris saya membaca berita, sejak di rilis film 5 cm banyak anak muda yang penasaran ingin mendaki ke Semeru. Cuma terbiasa anak manja, sampah ditinggal begitu saja. Sehingga membentuk gunungan sampah. Sepertinya yang model begini kudu ditatar, dibiasakan membuang sampah pada tempatnya. Pelajaran sederhana yang seharusnya telah diajarkan sejak pendidikan dasar, agar menjadi kebiasaan.

Musti dicoba ya, sekali dalam seumur hidup naik gunung. Pengalaman ini mengajarkan kepada saya, bahwa teman yang asik belum tentu pada saat naik gunung dia asik. Semua orang di dunia ini penting dengan peran mereka masing-masing. Buktinya saya terlalu mengandalkan Agung ternyata yang bantu saya bukan Agung. Banyak banget hal yang dapat saya pelajari, siapa yang baik hati, siapa yang egois, siapa yang ringan tangan, belajar mandiri, belajar bersyukur dll. Saya bersyukur diberikan kesempatan bisa naik gunung. Orang yang naik gunung itu aneh, capek-capek naik ke atas eh turun lagi, ketagihan pula ingin naik gunung lagi, aneh, benar-benar aneh.🙂
Fotonya di album, dulu pakai kamera pocket bukan kamera digital🙂 jadi pakai foto adik saya yang naik gungung tahun 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s