Permainan Anak

Dua minggu lamanya anak saya yang sulung terkena cacar, dan dia diisolasi di kamarnya. Setiap hari mengeluh tidak bisa bermain, tidak punya mainan, bosan, dan lain sebagainya. Sayapun membongkar koleksi mainannya ternyata dia benar, dia hanya punya koleksi mobil-mobilan yang jumlahnya jauh berkurang, rel kereta api yang bisa di susun-susun, selebihnya telah hibahkan kepada temannya atau saya buang karena terlalu banyak dan jarang dimainkan. Anak saya biasa bermain diluar olah fisik, sepeda ada 6 buah, 2 telah di hibahkan bukan karena rusak tapi karena dia mau beli sepeda lagi dengan uang sendiri. Ok untuk sepeda saya biarkan saja, tapi jangan pernah meminta play station, karena kita bukan orang kaya begitu selalu alasan saya.
Walaupun nantinya kita mampu dan punya uang, Bunda tidak akan membelikannya karena nanti kamu kurang bergerak dan merusak mata. Kalau untuk urusan bola, apakah itu basket, kok, bola futsal dan bola sepak dari mulai yang plastik harga 5000 an sampai yang lebih mahal jumlahnya sudah tidak terhitung.
Duh kasihan sekali anak biasa main diluar jadi bingung mau main apa, sebenarnya bisa sih main ular tangga, monopoli atau kartu, tapi melawan siapa dia sedang di isolasi dari dunia luar.
Saya ajak dia berbicara dari hati ke hati bahwa tujuan dia diisolasi agar tidak menularkan virus kepada adik dan orang tuanya, agar setelah 3 minggu dia bisa beraktifitas lagi. Jika masih ada anggota keluarga yang sakit maka kita akan terus terisolasi. alhamdulillah si sulung ini jika diberi pengertian yang masuk akal akan menurut. Sabar ya nak seminggu lagi virusnya hilang, Insya Allah.

Berkaca dari pengalaman masa kecil saya, dimana saya bebas melakukan permainan apa saja asal pulang sekolah langsung pulang, ganti baju, makan siang, setelah itu bebas. Hanya satu permainan yang tidak boleh dilakukan: main di sungai. Dulu rumah kami berjarak 1 km dari sungai. Waktu kecil saya puaaassss sepuasnya bermain tidak ada istilah belajar hanya full bermain, saya baru mengerti belajar setelah saya kelas 5 SD *telat banget ya. Mian bola hayuk, main karet, main kasti, dampu (saya jagonya) galasin, badminton, petak umpet, sepeda, main benteng, masak-masakn, bikin kue resep ngarang sendiri dan lain-lain, saya sampai lupa permainan apa lagi. Pada saat bulan puasa, keluarlah permainan monopoli, ular tangga, kartu, bahkan pernah suatu hari saya bertiga dengan teman naik sepeda mencatat nama setiap pemilik rumah beserta nomor rumahnya. Orang dulu kan suka menempelkan papan nama di depan rumahnya, atau kalau tidak tau namanya maka kami mencatat nama anaknya. Alasannya sederhana jika ada orang yang bertanya alamat maka kita punya daftarnya hahahahha benar-benar kelakuan bocah.
Kami selalu bermain bersama-sama pesertanya bisa 4-10 orang, permainan yang paling saya sukai diantara semuanya adalah main hujan. Kalau sudah hujan deras berarti kami “pesta”. tidak ada larangan, kecuali jam makan siang pulang dan jam mandi sore pulang. Hal seperti ini juga yang saya terapkan kepada kedua anak saya. Ada satu tambahan jam 11.00-15.00 tidak boleh main waktunya tidur siang, karena cuaca sangat terik. Pernah suatu kali anak saya memaksakan diri keluar jam 14:30 saya biarkan saja, tidak sampai 5 menit dia putar-putar naik sepeda lalu pulang lagi dengan lesu. Saya tanya mengapa cepat pulang jawabnya, katanya tidak ada satupun teman yang keluar. Kasiyaaannn… biasanya memang urusan bermain mereka yang mengajak teman-teman. Sejak saat itu dia paham jam bermainnya jam berapa.🙂

IMG_5833IMG_7510

Terkadang saya ingin mengajak mereka bermain permaianan tradisonal, seperti ular naga, galasin, tapi teman-temannya tidak ada yang keluar kasihan. Paling top mereka main sepeda rame-rame, mutar jalan di dalam komplek, sama main bola. Kedua permainan itu tidak memerlukan banyak partisipan. Si abang suka protes, kenapa sih teman-teman gak boleh main? Saya jawab sekenanya saja, mungkin lagi les, mungkin belajar dan semua jawaban itu membuat dia kesal😀. Sebenarnya pertanyaan ini juga sering saya tanyakan dalam hati, mengapa usia anak-anak yang seharusnya banyak bermain tapi dilarang orang tuanya keluar rumah. Justru di lengkapi denga PS, Ipad, dan bebas menonton TV. Alasannya biar lebih mudah di awasi lebih anteng, tidak berantem. Anak saya paling lama hanya boleh menonton 2 jam sehari, jika lebih maka saya alihkan dengan bermain atau menggambar. Mereka kalau bertemu kertas, pensil dan gunting maka itu surga🙂 memang capek menjadi Ibu dari dua anak aktif rumah tidak pernah rapi, barang-barang banyak yang rusak dijadikan eksperimen. Biarlah toh masa anak-anak mereka tidak lama, yang ada malah nanti saya yang rindu bermain bersama mereka. Menurut saya bermain bersama itu membantu anak belajar bersosialisasi, mandiri, berbagi, mengalah, antri, dan banyak banget manfaatnya. Pun jika berujung pada pertengkaran, berebut mainan itu sudah biasa dalam sekejab juga kembali baik lagi. Kebanyakan orang tua sekarang bangga anaknya usia 4 tahun sudah bisa baca tulis, matematika, ikut kursus ini itu sejak TK dan lain sebagianya. Tetapi saya tetap pada pendirian bahwa masa anak-anak adalah masa bermain, bermain dan bermain. Kedua anak saya langsung saya masukkan TK B, terkadang tidak enak jika ditanya mengapa anak saya tidak ikut play group, PAUD, dll. Saya hanya bisa jawab, mereka home schooling, alias diajarkan Ibunya, belajar nyanyi, doa-doa, menggunting dan menggambar hehehe, mana mau anak saya diajar menulis, satu buku isinya gambar semua.
Ketika dimasukkan ke TK B mereka bisa dengan mudah menerima pelajaran, semangat sekali, dan yang pasti lebih mandiri di bandingkan teman-temannya, ini penilaian gurunya ya bukan saya😀. Kadang saya mampir ke sekolah mendengar keluhan dari gurunya ternyata tidak ada keluhan, paling yang kakak sangat aktif itu saja. Ah percaya saja, pada masanya mereka harus belajar mereka akan bisa mengikuti pelajaran. Anak sekarang pintar-pintar jadi biarkan saja masa mereka bermain ya bermainlah.

Saya menulis ini setelah membaca berita di http://news.detik.com/read/2012/02/09/160518/1838619/1148/michelle-obama-lomba-balap-karung-tarik-tambang-di-gedung-putih?nd992203605

Ternyata negara yang maju saja sampai mengkampanyekan hidup sehat dan anak-anak aktif bergerak dengan program let’s move. Permainan yang mereka mainkan tidak lain adalah permainan yang sering kita mainkan dan lombakan diacara peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Wow mereka yang mengklaim negaranya serba nomor satu saja mulai menyadari bahwa anak itu harus aktif bergerak. Bagaiman dengan negara kita. Mengapa tidak memulainya dari sekarang? Have fun kids, enjoy your moment.

NB: selama saya mengetik tulisan ini saja anak saya yang sulung telah mengacak-acak dapur mengerjakan sesuatu, dan sekarang memakai vacum cleaner katanya bantal di kamarnya berdebu, sementara yang kecil bolak-balik naik sepeda sendirian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s