Cacar Air

Pagi ini, untuk yang kesekian kalinya bersilaturahmi dengan dokter THT di Kranji, sejak April lalu saya sakit demam, batuk pilek yang tidak sembuh-sembuh. Dibawa ke Dokter umum malah ngedrop karena obatnya mengandung zat aditif saya sama sekali gak bisa bangun, tidur terus, fly. Namanya anak baik-baik🙂 kena neo*ep aja teler. Di ajak suami ke RS *itra Bekasi Barat ke THT saya gak mau karena salah satu dokternya galak banget, seperti kita berobat gratisan gitu, ditanya gak dijawab.
Saya:” Ayah sih sembuh sama dia, kalau aku gak bakalan sembuh udah sebel duluan ama dokternya jadi sugestinya gak masuk :p. Well dokter banyak dimana-mana kenapa harus yang cuek bin jutek toh kita bayar mahal. Lama-lama gak tahan juga dikasi tau tetangga ada dokter di kranji THT maka kesanalah saya berobat. First impression nya kaget karena gaya dokternya santai banget gak rapi, tapi saya pikir at least dia ramah lah, kalau kita tanya dijawab dengan ikhlas dan banyak yang cocok berobat sama dia. Alhamdulillah saya cocok juga.

Sampai teman saya yang mempunyai penyakit yang sama sudah 5 kali berobat ke dokter *k* yang pasiennya pejabat dan orang kaya yang sudah habis 3 juta saya sarankan kesitu. Dia juga kaget, syok tepatnya melihat penampilan Dokter J, sebut saja begitu.

R:”Afi itu beneran dokter gak sih, penampilannya gitu banget…tau aja sekarang orang banyak yang aneh-aneh?”
Saya:”iyalah dokter beneran klo dia dokter gadungan pasiennya udah bubar dari kemarin-kemarin, banyak yang cocok sama dia, itu tetangga aja cocok sakit apa aja kesitu. Kalau dia gadungan pasti kemana-mana bawa stetoskop, rapi,gaya, untuk meyakinkan pasien, *teori saya. Sugesti Rom, sugesti, sugestikan diri akan sembuh, berdoa dan minum obatnya, namanya juga usaha.”

R:”Iya sih kata nyokap banyak yang cocok sama dia. Gue coba deh.”
Alhamdulillah teman saya cocok juga.
Kemudian, saya sakit lagi, kali ini radang amandel, saya sendiri gak pernah tau punya radang amandel.
Dokternya sampe bingung:”Masa sih ibu gak tau punya amandel (amandel bermasalah), emang gak sakit kalau menelan, badankan berasa rontok semua pegel-pegel ini kelenjar di leher sampai bengkak”
Saya:”Iya juga sih dok, tapi jarang dirasa.”

Dokter:”Ibu jarang sakit ya?”

Saya:”Insha Allah sih begitu, aamiin… *gak jelas ini apakah jarang sakit apa jarang “merasa” sakit.

Dokter:” Ya udah tidak apa-apa, diamkan saja klo gitu.

Selesai radang amandel, kena campak mungkin, ruam-ruam gejala mirip campak, tapi tidak ke dokter sembuh sendiri pakai antibody alami. Dua minggu lalu Abang ke Dokter diagnosa cacar air. Dokternya bilang, boleh mandi, boleh main apa aja boleh, karena dia hanya sakit cacar tidak ada penyakit lain sehingga tidak berbahaya.

Tapi kami tetap berusaha mengisolasi Abang dengan pertimbangan siapa tau Adiknya bisa tidak tertular. Belum lagi keponakan datang dari jauh gak bisa ketemu. Ternyata, setelah 2 minggu giliran Ayah yang kena, ke Dokter lagi. Pada saat itu Dokternya bilang:” Kalau sudah tiga hari kerja aja yah, diem-diem aja jangan bilang lagi sakit. Kalau anak-anak kena cacar saja tidak bahaya biasa saja, yang repot kalau kena cacar diatas usia 50 tahun, kadang musti dirawat di RS”. Kami senyam-senyum aja waktu itu. Diiluar ruangan, komit bahwa gak usah kerjalah seminggu-dua minggu, jika nanti karyawan pada tumbang siapa yang kerja hehehe.

Setelah Ayah besoknya Adiq memperlihatkan gejala yang sama, sudahlah pasrah aja kalau memang kena ya ikhlas saja. Malah Adiq tidak mau dibawa ke dokter. cacarnya begitu timbul langsung dipecah sama dia, dia cuma sakit sekitar 4 hari tidak terlalu banyak yang keluar. Tinggal Bunda nih yang masih on and off, sudah merasa gak enak badan sejak 4 hari lalu, demam tapi gak keluar dibawa isitirahat, gempur vitamin dsb. Sampai tadi malam, mau nisfu sya’ban badan sudah demam, minum paracetamol, karena niat banget mau ikutan ngaji. Sambil membawa buku dan uang kas, dengan pertimbangan kalau seandainyapun tertular uang kas bisa dititipi ke teman lain.Ternyata di pengajian gak ada yang mau dititipi, katanya gak nanti kalau dititipi gak datang.

Saya:”Aduh bukan niat gak datang, pingin banget malah datang karena penutupan, tapi gimana semua dirumah udah pada tumbang, kalau saya kena juga gak enak menularkan yang lain.”
Bu N: “Terus kenapa kalau nularin, toh gak mati ini orang kena cacar.”
Bu G: “iya sakit kok diminta biarin aja doa, vitamin, udah datang aja.”
Saya: “Ibu-ibu sudah pada kena ya, lah nanti anak-anak kasian.”
Mereka:” Udah biarin aja…datang aja.”

Woow gak nyangka repsonnya positif. Benar saja malamnya gak bisa tidur badan panas banget, alhamdulillah masih ada yang bisa diajak bbm an samapai hampir tengah malam hehehe thanks tuh Mimih Hera dan Noni.
AC juga tidak mempan, lama-lama tidur juga, giliran subuh menggigil kedinginan, wah ini sih positif deh tertular.

Mulai keluar di bagian leher. Ke Dokterlah, tanpa mandi tentu saja, gimana mau mandi menggigil gitu. Antri di Dokter tak bisa menghindar kontak dengan orang lain, maaf ya ibu-ibu, Bapak-bapak sekalian saya belum mandi.

Tadi pagi begitu melihat saya Dokternya langsung menyapa.

Dokter:” Kenapa lagi Ibu?”
Saya:” Cacar dok ketularan anak saya.”
Dokter :” hahaha ya udah mau diapain lagi.”
Saya:”Iya Dok, tinggal diobatin aja.”
Pertama Adiq diperiksa, setelah itu saya.

Dokter:”Mandi seperti biasa, main boleh semua boleh.”
Saya: “Kan tidak boleh kena angin Dok?”
Dokter:” ..ah itu sih orang dulu yang tidak diobati, kalau sekarang kan di obati jadi bebas.”
Giliran saya diperiksa,
Dokter:” Sama boleh mandi, jangan gak mandi ya bu kasian orang-orang.”

Saya:” Saya tadi meriang gembira Dok makanya gak mandi *yah ketauan deh.”

Dokter:” Iya nanti kalau minum obat demamnya hilang. Anak-anak dibiarkan main aja Bu.”
Saya:” Nanti anak-anak satu RT bisa kena semua dong Dok?”
Dokter:” Iya gak apa-apa memangnya kenapa kalau kena, justru saya maunya orang kena semua biar tubuhnya secara alami membentuk kekebalan tubuh yang diharpakan juga ampuh untuk virus-virus yang lain HIV misalnya.”
Saya:”….*bengong… oh begitu Dok.?”
Dokter:” Iya inikan virus gak ada obatnya, saya kasi obat untuk meringankan gejala saja tidak mengobati, cuma membantu tubuh biar segera membentuk kekebalan.”
Saya: “Kalau itu saya tau yang penting makanan bergizi dan istirahat ya Dok.”

Dokter:” Iya pemerintah tidak care sih urusan begini kalau semua sudah kena diharapkan cacar akan musnah.”
Saya:”Memang cacar ada berapa jenis sih Dok, katanya dunia sudah bebas cacar?”
Dokter:” Ada 2, cacar api dan cacar air. Kalau itu cacar api Bu tahun 60 an dunia dinyatakan bebas dari cacar api. Cacar api itu berbahaya kalau kena mata bisa mengalami kebutaan, kena tenggorokan, tenggorokannya bolong bisa meninggal. Itualah salah satu kemenangan manusia melawan penyakit. Sebentar lagi dunia akan bebas polio Bu, tapi masih ada juga dibeberapa tempat yang kena polio, kalau begitu programnya diulang lagi agak repot pemerintah.”

Saya:” Alhamdulillah syukur deh kalau dunia bebas polio.”
Dokter: ” Makanya Bu jangan takut biarin aja kenain semua, saya lebih suka kena daripada imunisasi karena imunisasi tidak menjamin 100% tapi kalau kena tidak terlalu parah. Kalau sudah kena kan tidak bakal kena lagi, antibody makin bagus.”
Selesai ngobrol-ngobrol yang lumayan lama ternyata, saya tidak bawa dompet buat bayar dokter hahahaha kacau deh. Ayah ke ATM dulu baru balik lagi bayar.

Well kesimpulan buat diri sendiri: semua yang terjadi sudah ketetapan Allah, kalau tidak datang ke penutupan pengajianpun gak masalah, sesuatu yang buruk dianggap manusia, belum tentu buruk dimata Allah. Mendingan mana kena cacar dari kecil yang penyembuhannya lebih mudah atau kena cacar usia diatas 50 tahun yang reaksinya lebih parah? Plus bonus antibody alami yang dibuat oleh tubuh yang diharapakan dapat melawan berbagai penyakit lain. Hmmm gak ada ruginya kena cacar. Alhamdulillah🙂

The choice is yours!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s