Masjid Nabawi #Umrah 6

Sampai di Madinah sore menjelang maghrib acara bebas, tujuan utamanya ke masjid Nabawi. Selesai unpack, mandi, siap-siap berangkat ke masjid, yang jaraknya cukup dekat lebih kurang 200m kali ya, cuma 2 kali nyebrang jalan sudah sampai. Suasana disekitar masjid rame, banyak pedagang kaki lima, toko-toko, money changer, mini market, resto, lengkap semua serba dekat.

Alhamdulillah shalat maghrib dapat tempat didalam masjid, diumumkan kalau wanita ingin ke Raudhah, waktunya setelah sholat Isya dan pagi setelah dhuha. Salah satu tempat mustajab doa adalah di Raudhah, jadi kami semangat tiada hari yang terlewati tanpa shalat di Raudhah. Raudhah menjadi incaran jamaah haji dan umrah salah satu sebabnya karena Rasulullah bersabda : “Antara mimbarku dan rumahku adalah raudhah (taman) dari taman-taman surga.” (Shahih Bukhari).
Pastinya semua kepingin dong ke Raudhah…. berangkat🙂
100_7955
Hari pertama Kami bertiga ke masjid, saya, Mbak Dewi, dan Bu Yunie yang sudah pernah haji sebagai pemimpin. Selesai sholat maghrib kami sudah siap-siap dipelataran masjid dekat pintu masuk Raudhah, akan tetapi setelah sholat Isya berdasarkan petunjuk yang berbeda-beda maka nyasarlah kami hehehe
Bolak balik ada yang bilang pintu 15, kemudian pintu 7 lalu pintu berapa lagi lupa…lama juga putar-putar baru sampai pintu 25 yang ternyata kalau ditarik garis lurus persis, hotel kami hehehe. Note: Jika ingin bertanya, langsung sama Mbak petugas kebersihan Masjid. Ketika masuk masjid saya membawa kamera yang ternyata tidak diperbolehkan, dengan sukarela Mbak Dewi menyimpan kamera saya seraya bilang dia belakangan saja, masuknya bergantian.

Saya dengan Bu Yunie masuk, pertama kali masuk kami tidak tau kalau dikelompokkan sesuai negara, Indonesia bersama dengan Malaysia tulisan yang dipegang askar wanitanya: Bahasa Malayu.
Atas instruksi Bu Yunie, bahwa nanti ketika pintu dibuka langsung masuk saja. Pertama kali disuruh masuk rombongan dari Turki dan kamipun berlari ikut masuk, saya sempat ragu tapi ditarik sama Bu Yunie akhirnya masuk juga. Alhamdulillah dapat tempat sholat di karpet warna hijau. Bisa sujud juga, cuma sayang hanya bisa sholat sunah 1 kali pakai acara nangis juga. Selebihnya didesak-desak orang. Bayangin aja berdesakan dengan orang Turki yang besar-besar. Syukurlah saya tidak berambisi untuk sholat di shaf paling depan, asal bisa sujud gak terinjak orang saja alhamdulillah. Musti banyak doa dan sabar.

Ingin melihat lebih dekat tapi sudah terlalu penuh kamipun keluar bergantian dengan Mbak Dewi yang masuk sendiri. Tas sama sandal Mbak Dewi kami yang pegang, pertama anteng nih ngobrol dengan bu Yunie lama-lama kok setengah jam, sejam, dua jam belum keluar juga Mbak Dewi? Mulai kedinginan karena nunggu di luar masjid. Gelisah, kemudian berdoa, sedikit cemas, apa nyasar tapi kayaknya gak mungkin karena pintu yang di buka hanya pintu 25. Mencoba menghubungi teman segroup melalui fb, yang jawab Mbak Rini, kalau dia tadi ketemu Mbak Dewi., alhamdulillah selamat. Mengingat pesan Hanif perempuan tidak boleh jalan sendiri kamipun tekun menunggu, sambil berharap para suami ada yang menyusul, membawakan makana, ternyata gak ada. Saya dan Bu Yuni, memutuskan untuk ikhlas menunggu sampai kapanpun asal maag tidak kambuh (doanya). Gak lama Mbak Dewi muncul, memang semuanya musti ikhlas. Ternyata dia sempat balik ke hotel nyeker, cuma karena kami tidak ada dia balik lagi. Pengalaman pertama yang cukup berkesan, dalam hati saya mungkin karena tadi gak ikut antrian, jadi disuruh nunggu deh, wa’allahu alam.

Ada cerita lucu ketika saya dan Bu Yuni menunggu Mba Dewi dari Raudhah. Tiba-tiba pipi saya dicubit oleh anak kecil sekitar 7-8 tahun, saya protes pakai bahasa indonesia: “Hey, kebalik dong, harusnya saya yang gemas sama kamu, kamu cantik.” Dia hanya senyam senyum sambil menjauh. Tidak lama kemudia balik lagi pegang pipi saya. Akhirnya saya ajak ngobrol dengan bahasa inggris, dia hanya menjawab:”Arabic-arabic.” Jiah disuruh pakai bahasa Arab. Mungkin dia penasaran akhirnya dia bertanya nama saya dalam bahasa inggris. Nama gadis kecil itu: Shamila. Dan pembicaraan kami hanya seputar nama. Selebihnya kami bicara dengan bahasa masing-masing, dan mencoba mengerti satu sama lain. Setelah saya ingat-ingat, gantian biasanya saya paling suka ngusap pipi anak kecil walau tidak kenal sekalipun, sekarang dibales. Besok-besok musti menahan diri.

Cantik kan :)
Cantik kan🙂

Selesai sudah hari pertama di Nabawi, alhamdulillah. Besok yang menjadi sasaran pada waktu sholat maghrib adalah pintu 25 Usman bin Affan itu dekat dengan pintu masuk menuju Raudhah, catat.
Gate 25

Hari kedua di Nabawi
Alhamdulillah shalat dapat tempat di karpet terus, walaupun masjid terlihat sudah penuh, tapi kita terus berdoa didalam hati agar diberikan tempat untuk shalat. Terkabul walau pada saat shalat belum dimulai terlihat penuh, tapi ketika shalat selalu ada tempat.

Shalat Jum’at juga meski dapat dipelataran masjid tapi tetap alhamdulillah masih dibawah naungan payung, nyempil diantara rombongan negara lain. Ceritanya pas shalat jum’at ragu-ragu mau berangkat cepat. Perkiraan kami tempat shalat wanita akan dipakai untuk shalat pria. Jadi dapat shaf di belakang maka berangkatnya nanti saja. Perkiraan meleset, tempat shalat seperti biasa saja.
Teman saya ngeluh pas sholat jumat katanya bau badan, saya bilang, lupakan, fokus shalat, mind set mbak, bener bisa juga shalat dengan tenang. Mungkin semua tergantung apa yang dipikiran dan hati kita, kalau kita anggap tidak masalah maka tidak akan menjadi masalah. Insha Allah.

Maghribnya kami ketiduran di hotel bablas dari sehabis ashar karena capek. Ditelpon suami, nanya mau makan dimana. Saya yang terbangun kaget liat jam panik bangunin Mbak Dewi. “Mbaaakk kita kesiangan gak bisa shalat subuh ……ya Allah….”. Suami saya yang masih on the line ngomong: ” Bukan subuh kali, maghrib.” Alhamdulillah pules banget tidur, kirain kelewatan subuh, buru-buru shalat di hotel dan langsung berangkat ke masjid. Isya kami shalat dekat pintu kayu yang berbatasan dengan pintu masuk ke Raudhah.
Kali ini saya berdua dengan Mbak Dewi sudah niat dalam hati akan ikut peraturan walau antri lama saya pasrah, kamipun masuk dalam kelompok Bahasa Malayu. Memang dasar orang Indonesia susah diatur sudah dibilang berkali-kali mengisi tempat dibelakang masih aja mengisi tempat di depan, sampai gak enak hati sama askarnya karena dia memberitahukan dalam bahasa Indonesia yang cukup jelas.

Pengelompokan itu ternyata banyak gunanya, ada seorang yang memberi tausiah kepada kita selama kita menunggu pintu masuk ke Raudhah dibuka. Tausiah menggunakan berbagai macam bahasa sesuai negaranya. Tausiahnya sederhana tapi cukup mengena, diantaranya luruskan niat yaitu mengunjungi masjid nabi, bukan makamnya. Jangan karena ambisi kita menyakiti sesama saudara ketika berada di Raudhah. Jangan duduk didepan karena menghalangi jalan masuk negara lain, kebetulan kami bersebelahan dengan Iran. Sederhana tapi dalam prakteknya sulit juga.

Ada 3 hal yang harus dijaga:

1. Shalat tepat/awal waktu
2. Jangan tinggalkan shalat sunah, dhuha, tahajud
3. Puasa minimal 3 hari dalam 1 bulan.
Yang penjelasan detailnya dapat kita dengarkan langsung di Nabawi. Biarin penasaran ya, biar semangat pergi Umrah🙂.

Hari kedua shalat di Raudhah Alhamdulillah dapat tempat lega, bisa shalat dengan tenang, sunah mutlak, witir, shalat taubat, tahajud, diborong semua, karena itu tadi dapat posisi enak, meski tetap berdesakan Alhamdulillah di waktu shalat tenang gak ada yang lewat didepan. Padahal itu Raudhah penuh sepenuhnya karena tidak antri lagi dari semua negara boleh masuk dalam satu waktu. Setelah kemarin kami sempat diskusi mengapa orang Indonesia disuruh masuk terakhir, tidak adil, akhirnya bareng juga semua masuknya. Alhamdulillah semua titipan doa telah disampaikan, bagi yang terlupa sudah termasuk dalam doa sapu jagad hehehe.

Hari ketiga kembali lagi ke Raudhah,
Kali ini saya ada niat ingin shalat didepan, tidak sepasrah waktu hari kedua, akhirnya berhasil kedepan tapi karena didesak-desak orang dan tetap tidak bisa shalat terlalu penuh. Bahkan seorang Ibu-ibu tua dari Turki jatuh terduduk 3 kali karena disikut oleh seseorang yang mengakibatkan orang disebelahnya oleng dan Ibu tersebut jatuh. Saya mencoba membatu berdiri, ternyata gak kuat angkat Ibu itu sendirian, setelah dibantu 3 orang baru bisa terangkat. Kemudian jatuh lagi untuk yang kedua kalinya astaghfirullah, diangkat lagi rame-rame. Di dorong lagi untuk yang ketiga kalinya, dan jatuh terduduk seperti semula, kebayang sakitnya tapi wajah Ibu tersebut tenang sekali tidak ada gurat kemarahan. Saya tidak tega, setelah membatu berdiri, saya berbalik arah mencari tau siapa yang berbuat, ditunjukkan memang orangnya ketika dia mulai main sikut dan barisan kembali oleng, saya berkata: ” Saya mau keluar! sambil saya tatap mata ibu itu, tidak sadar kalau sedang berada di Raudhah astagfirullah, seketika saya mendapat jalan keluar dengan mudah. Ketemu dengan Mbak Dewi yang shalat dengan tenangnya tanpa gangguan. Alhamdulillah saya bisa shalat disebelahnya dengan tenang, semua titipan doa saya ingat lagi satu persatu, saya sampaikan sekaligus minta maaf karena saya kurang pasrah, kurang sabar, terpancing marah, ampun ya Allah.
Secara logika dengan orang sebanyak itu rasanya tidak mungkin shalat dengan tenang. Ternyata kuncinya berdoa, sabar dan ikhlas, Insha Allah dapat tempat. Gak percaya? Coba deh.

Hari terakhir di Nabawi waktu shalat dzuhur.
Kami datang terlambat karena heboh packing mau berangkat ke Mekah, dalam hati berdoa terus agar dapat tempat di karpet merah *madinah karpetnya berwarna merah, kecuali sebagian Raudhah. Masjid penuh, kami cuma dapat shaf dekat zam-zam. Posisinya galon zam-zam-saya-Mbak Dewi- tiang. Gak manis banget tapi saya positif thinking, mungkin hari ini rejeki kami sholat disini semoga saja dipanggil lagi berkunjung kesini dapat tempat lebih baik, aamiin. Setelah shalat tahiyatul masjid, saya memperhatikan seorang Ibu India sedang memberikan arahan kepada “rombongannya” kalau sholat gerakan seperti ini, takbir begini-begitu…saya tekun memperhatikan gerakannya jadi ngerti dia ngomong apa *ceritanya. Saya juga perhatikan dia berpakaian sari tapi tertutup semua, disitu dia juga menjelaskan aurat musti tertutup sambil menunjuk kaki. Pahamlah saya jangan mudah melebel orang. Sebelumnya saya sempat bertanya dalam hati kenapa mereka sholat sebagian ada yang telapaknya terlihat? Ternyata mungkin saja mereka tidak ada yang mengajarkan, tidak seperti kita kaum mayoritas di Indonesia pelajaran agama Islam masuk dalam kurikulum sekolah. Langsung istighfar deh. Ketika hendak sholat dzuhur saya dipanggil oleh ibu-ibu India yang kasi ceramah tadi, disuruh duduk disebelahnya. Hanya cukup untuk satu orang, gak mungkin meninggalkan Mbak Dewi sendiri saya pura-pura gak paham yang dia bicarakan, saya tidak merespon. Ternyata Mbak Dewi ditarik sama dia ditempatkan di shaf didepannya dan saya ditarik dikasi tempat persis disebelahnya.
Alhamdulillah, syukron, doa saya terkabul shalat di karpet. Sepertinya tidak ingin berpisah dengan Nabawi, sepanjang shalat nangis sesenggukan, malu juga sih sama yang dikiri kanan, tapi memang gak bisa di stop. Selesai shalat punggung saya diusap-usap sama ibu itu huaaaaa malah makin mewek. Pamit pulang saya cium tangan dan cipika-cipiki sama Ibu itu.

Benang merahnya, jangan menyamakan pengalaman spiritual orang lain dengan kita, semua memiliki cerita tersendiri. Saya yang banyak mendengar cerita miring dari warga negara tertentu, sudah membuktikan bahwa saya diperlakukan sangat baik oleh “mereka”. Pertama sholat di Nabawi dikasi permen, sempat ragu memakannya permennya saya simpan di tas. Ternyata ada hikmahnya ketika hari berikutnya disebelah saya anak kecil menangis mengganggu ibunya yang sedang sholat, saya kasi permen itu, langsung diam senyam-senyum dengan matanya yang bulat indah, gemes liatnya, sayang gak beranii foto takut dimarahi Ibunya.🙂 Kedua ketika mencari tempat untuk sholat Jum’at, mereka juga yang memberikan tempat atas izin Allah. Ketiga, ketika ingin sholat di karpet, mereka juga yang memberi tempat atas izin Allah, alhamdulillah.

Semoga Allah memberi kesempatan balik lagi ke Nabawi dan Raudhah. Aamiin.
Really miss this place.
DSC00372

20140307_000351

DSC00299

3 thoughts on “Masjid Nabawi #Umrah 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s