Cinta pada Pandangan Pertama

27 April 2014
Dulu waktu kecil, sepertinya belum sekolah, pernah nginap di rumah nenek buyut di desa, listrik belum masuk desa, sekitar tahun 80-an. Gak ada listrik disiang hari bukan masalah karena jika persediaan air habis bisa pipis disungai malah asik hehehe. Malam menjelang, uuhh gak ada listrik itu seperti tidak ada kehidupan, serba salah. Demi bisa bermain disungai dengan “bebas” maka aku memaksakan diri nginap dirumah nenek buyut.
Jarak dari tempat tinggalku ke kampung nenek cukup jauh, jika ditempuh dengan vespa kakek sekitar 1,5 jam kalau tidak salah. Kami bertiga aku, Kakek dan Nenek berangkat dari rumah dengan perjanjian bahwa setelah 3 hari dijemput Abah.

Nenekku semasa kecil sampai sebelum menikah tinggal di Stabat ibukota kabupaten langkat, Sumatera Utara. Akses masuk kerumah nenek masih dari tanah, belum diaspal. Masih banyak lahan untuk berkebun, ada hutan juga, sawah mereka terpisah jauh dari tempat tinggal kalau jalan gempor deh, tapi mereka kuat. Setelah jalan utama lalu menyebrangi sungai terbesar di Stabat namanya sungai Wampu, lalu belok kekanan menuju rumah nenek. Kami menyusurij jalan disamping sungai Wampu dan good news rumah nenek itu persis didepan sungai.
Biasanya yang sudah-sudah setiap main ke Stabat kami selalu pulang disore hari, dan Abah tidak pernah membolehkan kami main disungai, paling hanya menemani Kakek mancing. Tiga hari ini adalah hari kebebasanku mandi disungai, akhirnya.😀 hayalanku selama perjalanan.

Baru sebentar melewati jalan kampung nenekku dipanggil adiknya yang telah berkeluarga disuruh mampir, maka berhenti dulu. Dihidangkan Duren dan rambutan siapa yang mau nolak. Setelah kenyang melanjutkan perjalan, gak berapa lama mampir lagi walaupun “cuma” tetangga, tapi kami tidak boleh acuh terhadap tawaran mampir, dikampung kekeluargaan sekali. Nenek buyutku juga cukup terkenal karena termasuk sepuh disitu. Ditawari makan siang, hayuk baru dua rumah sudah kenyang, selanjutnya hanya basa-basi sebentar lalu dibekali macam-macam makanan khas orang kampung, pisang dan singkong rebus, aneka buah yang lagi musim saat itu dan wajik.

Begitu sampai didepan rumah nenek buyut, mataku tertuju ke sungai. Kakekku ternyata antisipasi duluan, beliau mengatakan kalau sudah berjanji sama Abah tidak akan membiarkan aku main disungai sendirian tanpa pengawalan. Halah babe gak bisa liat anaknya senang. Dari kecil aku sudah biasa komunikasi dengan orang-orang tua bahkan yang sepuh, aku paham sekali akan arti sebuah janji. Jadi terima nasib aja daripada kakekku ingkar janji.

Nenek buyutku mengutus salah satu tetangganya untuk mengawasi kami, aku dan anak-anak tetangga nenek, bermain di Sungai. Jika tidak ada orang dewasa kami tidak boleh turun ke Sungai. Sebenarnya anak-anak itu cukup cekatan berenang, tapi karena pesan nenek menjaga aku jadilah mereka stick around. Kami mencari sejenis kerang disana namanya siput. Siput ini suka diolah oleh kakek dengan cara ditumis dengan bumbu yang pedas, aku tidak suka siput, tapi aku suka proses mengambil siput disungai.

Kami memanggil nenek buyut dengan sebutan Atu, bahasa melayu dari Ibunya Nenek.
Beliau adalah nenek-nenek super baik yang pernah ada dimuka bumi ini. Seingatku beliau sudah tua banget kulitnya keriput total, gigi masih lumayan banyak, jalan membungkuk, seyumnya manis dong dan tutur katanya halus khas orang Melayu Kampung, kebaikan hatinya terpancar. Semua yang ada boleh dimainkan, boleh dimakan, semua serba boleh, yang gak boleh cuma main di sungai tanpa pengawasan.

Hari pertama dilewati dengan mandi sore disungai, selesai mandi mengamati matahari terbenam dari depan rumah panggung yang menghadap kesungai so peaceful. Begitu Azan magrib selesai aku langsung tidur.
Keesokan harinya sesuai perkiraan, pagi ikut Atu ke ladang bersama anak tetangga, mencari buah liar di hutan. Buah liar itu kecil warnanya masih mentah hijau jika sudah matang berwarna merah, jika dibuka maka mirip buah mariksah dengan biji banyak tapi ukuran mini, rasanya manis. Makan tebu, bermain ke kebun sebelah yang sedang panen manggis, dikasi manggis, teman memanjat pohon langsat aku gak boleh hanya nunggu dibawah, memetik sayuran di Ladang seperti kacang panjang, jagung tergantung sedang menanam apa.
Menjelang siang ikut nenek pulang, makan, main dikolong rumah, rumah Atu rumah panggung yang terbuat dari kayu jadi kalau siang main dikolong rumah adem. Main kuaci ketika itu kuaci sedang booming. Kebetulan aku jagonya main kuaci *benerin poni. Jadi semua bersedia berpasangan denganku, biar menang, sebagai imbalannya mereka rela memanjatkan jeruk bali didepan rumah nenek buyut yang pohonnya cukup tinggi dan menemani bermain disungai sore hari huhuy.
Jadwal sorenya mandi disungai bahagianya tapi tetap saja hanya memandang iri teman-teman yang berenang melawan arus, sementara aku bergeser 2 m dari pinggir sungai sudah ada aba-aba untuk kembali kepinggir. Menjelang magrib adalah waktu yang sangat kusuka, disuguhi pemandangan indah tatkala matahari tenggelam “kedalam” sungai. Waktu suram adalah setelah magrib harus siap-siap tidur, biar gak suntuk gak ada listrik, ditemani lampu teplok, yang kalau bangun pagi hidung hitam-hitam kena asapnya🙂
Teman-temanku yang mulai akrab aku lupa siapa saja namanya, selesai sholat main kerumah. Aku bingung menolak ajakan mereka main diluar karena pada dasarnya aku tidak suka gelap. Tapi mereka membisikkan sesuatu, bahwa mereka akan menangkap kunang-kunang.
Kunang-kunang, apa pulak itu? Ikut ajalah toh boleh sama Atu main diluar, kalau dirumahku gak akan boleh main diluar malam-malam. Seketika takjub oleh pemandangan serangga kecil berterbangan, bercahaya kehijau-hijauan dalam jumlah banyak, banyak sekali, mereka seolah-olah menari dengan gerakan sembarangan kesana-kemari.

[breaktime-corner] KUNANG KUNANG dalam FOTOGRAFI .. kerennnn .... From: Adhi ikhwan Noviyanto
[breaktime-corner] KUNANG KUNANG dalam FOTOGRAFI .. kerennnn ….
From: Adhi ikhwan Noviyanto

Apa ini, sedikit takut mulanya, tapi teman-teman malah berlarian kesana kemari mengejar serangga ini. Ternyata ini yang dinamakan kunang-kunang. Aku yang tadinya hanya mengamati dari tangga, tergesa turun bergabung dengan mereka mengejar kunang-kunang, berlarian kesana kemari, tertawa-tawa, diliputi dengan pertanyaan apakah binatang ini menggigit? Apakah gigitannya bikin gatal dan beberapa pertanyaan lainnya yang akhirnya menguap begitu saja ditutupi kegembiraan mengejar kunang-kunang. Jadi pemandangan ini yang kulewatkan kemarin malam, ruginya. Sayang kunang-kunang tidak lama berada disitu, seorang teman berinisiatif menangkap 2 ekor lalu memasukkannya kedalam botol kecap.
13757306411006673878_300x384.61538461538
Setelah rombongan kunang-kunang pergi pemandangn beralih ke botol. Sebagai anak kota yang “norak” mata ini tidak lepas memandangi kunang-kunang, ada keinginan besar untuk pamer ke adik dan abang dirumah, ada binatang bagus dan aneh di kampung Nenek.
Tidak terasa malam itu rasa takut gelap perlahan berganti dengan keinginan agar waktu cepat berlalu agar keesokan harinya segera tiba lalu sore melihat matahari tenggelam dan malam bertemu dengan serombongan kunang-kunang lagi. Aku jatuh cinta pada kunang-kunang, cinta pada pandangan pertama.

Atu meninggal diusia mungkin 90 an aku sendiri tidak paham, ketika aku SD dan sudah pindah ke Jakarta, sejak itu rumahnya tidak ada yang menempati, rusak dimakan usia. Mungkin sekarang kampung nenek sudah diaspal, sudah padat penduduknya, entahlah aku tidak pernah kesana lagi. Hanya nenek yang rutin beberapa bulan sekali berkunjung mengambil hasil panen padi.

Sekarang aku mengerti mengapa aku sangat menyukai sunset, terkadang kangen makan wajik yang dibungkus seperti permen dengan kertas warna-warni, juga makan jeruk bali dicampur kecap, irisan cabe, gula pasir dan garam, semua itu ilmu yang aku dapat selama tinggal 4 hari 3 malam dirumah Atu. Kalau lihat anak-anakku sekarang kasihan, nenek mereka tinggal dikota, ketika keluar rumahpun harus hati-hati banyak kendaraan lewat. Lapangan untuk bermain tidak ada, hanya untuk sekedar menaikkan layang-layangpun rawan tersangkut kabel listrik. Kasian kasian kasian.

…dan sudah beberapa bulan belakangan ini aku rindu kunang-kunang…rindu serindu-rindunya. Kira-kira dimana ya bisa ketemu dengan kunang-kunang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s