Bromo #2

Untuk menuju kawah dibutuhkan jarak lumayan jauh dari parkiran mobil. Good news disitu toiletnya cukup bersih dan ada musholla, kalau laper banyak tukang jualan, rawon dan telor asin pun ada, no worries. Ketika antri di toilet terdengar pembicaraan mbak-mbak yang antri bahwa tadi mereka gak dapat liat sunrise karena kabut sangat tebal. Hohoho jago juga Bang Adi bisa prediksi kalau sunrise tidak terlihat. Belum rejeki tapi aku sendiri sudah pernah kok merasakan sensasi melihat matahari terbit. Memang amazing, apalagi dalam melihatnya membutuhkan perjuangan dulu, naik gunung, sesuatu. Kalau ini dibilang naik gunung ya semilah, karena naiknya menggunakan jeep. Kelebihannya wisata ini cocok untuk family. Peserta termuda kami dik Umay 2,5 tahun, yang paling senior Eyang.

Jika malas berjalan menuju kawah, dapat menggunakan jasa kuda, dipatok 75rb *negotiable. Kudanya gagah, apalagi yang hitam, tinggi besar, ada juga kuda poni. Saya gak mau rugi dong, ya kali naik gunung manja, no pain no gain. Ingin kembali merasakan sensasi naik gunung 19 tahun yang lalu, masih bisa kah? Mari dicoba, bismillah. Jalan santai saja, lama-lama pasirnya semakin tebal bercampur dengan kotoran kuda, lalu jalan mulai menanjak dan tidak beraturan. Hmm lumayan yah gak pakai latihan dulu, semakin keatas semakin susah track nya, jika mengambil track bareng kuda, jadilah kami ambil jalur alternatif melipir ke pinggir, selama sepatu keds asik aja kok Insha Allah aman. Indah pemandangan tidak diragukan lagi, berbanding lurus dengan jumlah sampah yang berserakan, disepanjang jalan terdapat penjual makanan, minuman dan masker, letih bisa beristirahat sebentar.

Lebih sedih lagi melihat rangkaian bunga edelweis di jual. Teringat waktu naik gunung Gede-Pangrango, padang Edelweis cantik sekali sehingga tidak ada keinginan sama sekali untuk memetiknya, biar tetap cantik ditempatnya. Ternyata memang bunga Edelweis dilindungi. Mungkin kita tidak bisa melarang orang lain mencari uang, tapi kita bisa menahan diri untuk tidak memetik/membelinya.

Anaphalis javanica or Javanese Edelweiss
Anaphalis Javanica or Javanese Edelweiss

Sampailah pada tangga menuju kawah, disitu mulai antri naik satu persatu anak tangga berhenti, lanjut naik satu anak tangga, begitu seterusnya. Positifnya bisa foto-foto dong, cuma dasar saya kalau liat pemandangan asli lebih fokus pada menikmati pakai mata daripada pakai lensa, jadilah fotonya hanya sedikit. Agak gamang juga menaiki anak tangga, kebayang kalao rapat begini ada yang terpleset satu maka rubuh semua. Ah berdoa saja semoga semua lancar dan aman sampai tujuan. Sampai juga di kawah, wow pemandangannya bagussss banget dari atas, begitu melihat kebawah jadi sadar ternyata berjalan kaki cukup jauh juga, but we did it, akhirnya yang sampai puncak hanya 3 peserta, yang lain tertahan di warung mie instan.

Sekarang proses turunnya agak gamang, syukurlah didepan saya seorang Bapak-Bapak suku Tengger asli, sepertinya sedang menjadi porter, beliau menggendong anak kecil, jadi saya ikut dibelakangnya. Sampai anak tangga terbawah, I’m free…. perjalanan selanjutnya sangat mudah karena kita menahan berat badan dipasir jadi tidak terlalu capek, alhamdulillah. Rugi kalau turunnya naik kuda, karena proses turun lebih mudah, jadi jika berniat naik kuda pas naik saja. Sampai dibawah, menuju parkiran cukup jauh (baru sadar) alhamdulillah ada Caesar bawa motor trail, jadi kita “diojekin” satu-satu sampai parkiran. Memang sudah di setting Bang Adi, caesar nyusul kami nanjak pakai motor. Disitu juga banyak motor buat angkut sampai parkiran, tapi motor bebek, yang ini motor trail. Ini pertama kalinya naik motor trail dan dasar ya supirnya Habib, diajak ngebut, dan dipilihkan jalan yang menanjak jadi lompat itu motor…cuma takutnya kok malah hilang, adanya malah seru. Sadiq malah jerit-jerit senang, saya yang suka setres naik motor di Jakarta tapi naik trail dipasir seru banget ternyata, ngebut makin asik. kata Bang Adi, kalau gak ngebut malah jatuh, perlu keahlian khusus untuk mengemudikan motor trail di Bromo.

Pantes deh mereka hobi banget ke Bromo bawa motor trail, anak-anak aja kesenangan, pengalaman pertama mereka. Lanjut ke pasir berbisik, Habib, Caesar dan Raja naik diatas jeep. Yang lain udah mupeng pingin naik diatas, tapi masih ada sedikit rasa takut. Sampai di Pasir Berbisik suasananya tenang sekali, jarang yang kesitu, sepi, peaceful, langsung aja ngedeprok di pasir. Anak-anak saya yang gak bisa liat pasir langsung buka jaket, buka sepatu lari-larian. Syukurnya di daerah ini tidak dilalui Jeep jadi mereka bebas. Yang mengawasi Caesar, jadi kita bisa santai  melihat mereka dari jauh. Dan foto-foto juga, sejuk, pemandangan indah sambil sesekali kelilipan pasir, pas deh nyantai.

Dari pasir berbisik lanjut ke padang savana, disini juga cantik, untung Bang Adi ngingatin tuk foto-foto. Jadilah kita narsis lagi. Anak-anak tetap boncengan naik motor sama Uwaknya. Syauqie pun mulai merayu ingin naik diatas jeep. Why not go ahead… maka naiklah dia diatas jeep ditemani dua orang dewasa. Belum tentu sering kesini jadi bebaskan saja. Adik mau ikutan tapi berhasil dirayu bahwa berat badan adik kurang, nanti kalau tertiup angin bisa terbang😀 Akhirnya Adiq mengalah juga. Setelah dari padang savana lanjut ke bukit Teletabis, cuma udah ngantuk dan kehabisan gaya jadi tidak turun lagi. Lanjut balik ke Malang. Sampai Malang makan siang di restaurant Ocean garden, menunya yang enak, tahu goreng tepung, ayam lodoh, gurame bakar, ayam goreng kremes, gurame goreng,dll lupa pesannya banyak, yang kurang cuma rasa cah kangkung sama rasa toge cah ikan asin. Rasanya tidak orisinil seperti ditambah saus tiram dll. Nasi goreng sea foodnya juga biasa saja rasanya. The best part is totalnya cuma 600 ribuan makan 18 orang, plus minum jus. Enak dan murah, mantap suratap deh pokoke. Gimana enggak lahap makannya, kecapean, pagi cuma sarapan mie instan saya aja nambah hehehe.

Oke mari kita lihat saja fotonya….. foto kawahnya sengaja dirahasiakan biar liat sendiri aja, ok.

IMG_3554 IMG_3559 IMG_3583 IMG_3616 IMG_3600

Pasir Berbisik
Pasir Berbisik

IMG_3624 IMG_3634 IMG_3707

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s