Bangkalan to Sumenep

Hari kedua lebaran sejak pagi sudah berencana akan mengunjungi kak Ade di Bangkalan, sebelumnya jemput Kak Hani ke Gunung Anyar. Ketika kami tiba dirumah Kak Hani, mereka sudah siap-siap mau berangkat lalu datang tamunya Bang Adi. Jadi kebrangkatan sampai tertunda 2 jam, lama ngobrolnya. Kalau ke Bangkalan lebih dekat lewat jembatan Suramadu. Sampai Bangkalan sudah lewat makan siang, jadi makan siang dulu, apalagi kalau bukan olahan bebek. Cihuyyy memang dinanti mau makan bebek. Ketika Ibu bang Adi masih hidup kami gak pernah kuliner di Madura, karena masakan Ibu enak.

IMG_3481

Baru kali ini terlaksana, restaurant penuh, sekian banyak restoran berjejer dipinggir jalan, parkiran penuh semua. Kemudian Kak Hani memutuskan makan di Tera’ Bulan, pertimbangannya hidangannya lengkap selain bebek juga ada. Yang punya resto WNI keturunan tapi muslim, lagipula untuk urusan makanan Insha Allah di Madura halal. Karena pengunjung yang ramai, pesanan makanan kami lama datangnya hampir 1/2 jam. Sambil nunggu pesanan Bang Adi ambil renginang dan minuman Sinom. Sinom itu sejenis kunyit asem enak deh seger, es beras kencurnya ternyata lebih enak lagi, Syauqie yang pesan.

Kak Hani ambil puding tahu, hhmm segar enak, karena laper berat jadi gak ketauan tuh kalau pudingnya pakai rum. Belakangan baru tau ternyata pakai, ya salam. Kak Hani pesan bebek utuh sampai 3 macam, bebek goreng, bebek ungkep, bebek sambel merah (lupa namanya) level 1 pedasnya. Terus Tom yam ikan patin, ikan patin bakar, Andaru dan Radja pesan bakso ikan kuah tom yam, dik Umay mie godog, sadiq biasa nasi goreng. Laper sih lapar tapi kalau yang dipesan bebek utuh 3 ekor ya gak habis juga. Semua olahan bebeknya enak, ikan patin tom yam juga enak, seger, pedasnya pas, ikan patin bakar gak berani coba padahal disuruh Bang Adi cicipi, pedas katanya. Ih namanya makan udah telat jam 14:30 mana berani makan pedas takut heboh dirumah orang.

@Tera' Bulan
@Tera’ Bulan

Bebek yang sambel merahnya aku makan ok, cuma pedasnya kurang nampol, kata Kak Hani dia biasa pesan level 2 tapi karena aku takut pedas jadinya pesan level 1, but tetap enaaakk.  Bakso ikannya juga enak, apalagi mie godognya juaraaaa. Kalau tega sama dik Umay udah dihabiskan deh, rasanya full rempah tradisional gak pakai perasa tambahan, cocok. Overall menunya enak, bumbunya terasa pas, susah menggambarkannya. Tapi saya kurang paham masalah daftar harga ya, karena waktu mau bayar saya gak pegang uang cash, adik saya juga nemani dik umay jajan jadi yang bayarin bang Adi, makasi ya Bang. Kalau ada kesempatan mampir ke Madura lagi cobain restoran lain *maunya🙂

Tom Yum Patin, Patin Bakar, Bebek Ungkep yummy...
Tom Yum Patin, Patin Bakar, Bebek Ungkep yummy…

Dari rumah Kak Ade lanjut ke rumah Om Dayat di Sumenep, yep ujung pulau Madura… ini lagi yang belom tercapai main ke Sumenep tahun 2009 mau liat api abadi gak jadi, mau belanja furniture jati gak jadi, eh kesampean sekarang berangkaaat.

Setelah Bangkalan, Sampang, mampir sebentar ketemu suami Kak Ade yang kebetulan lagi tidak di tempat, tapi 3 kardus jambu air Sampang yang terkenal telah tersedia, itu jambu super warnanya putih kehijauan, manis, banyak airnya, segar dan gak ada ulat jadi gigitnya tidak ragu-ragu. Semua juga tau jambu air Sampang. Kami dibawakan 1 kardus makasi Kak Ade, paham betul doyan buah. Tiba di Pamekasan, beli oleh-oleh kerupuk, kacang lorjuk, petis dll disitu dekat pusat kuliner haduh lupa jalan apa namanya. Sebenanya Sadiq mau makan sate “lalat” cuma karena perjalanan masih jauh, jadi lanjut. Oh ya dinamakan sate lalat karena dagingnya berukuran kecil seperti lalat.

Jambu Air Sampang
Jambu Air Sampang

Sepanjang perjalanan memasuki Sumenep menghayal aja bahwa dikanan jalan itu laut yang indah, memang laut, cuma lautnya hitam alias gelap semata. Gak apalah toh suka liat foto-foto pantai Sumenep di google, memang rejekinya cuma main aja di Sumenep bukan wisata, tapi itu juga sudah bersyukur sangat bisa sampai Sumenep. Begitu sampai semangat sekali ingin sholat di Masjid Jami’ masjid tertua di Madura, eh ternyata setiap lebaran tutup, belum rejeki. Sempat foto-foto aja dari luar. Gak kuliner juga karena dibelikan mie goreng dan nasi goreng sama tante. Pulang dari Sumenep jam 11 malam, sampai Gedangan jam 3 pagi. Beneran lebaran full silaturahim.

Sumenep 29/8/2014
Sumenep 29/8/2014
Masjid Jami'
Masjid Jami’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s