Rossoneri

Agak susah menulis ini, karena eh karena…. karena apa yah? Beberapa waktu lalu saya ikutan group WA eks teman SMA, salah satunya mentor saya waktu kelas dua menyapa. Anaknya pinter banget namanya Ade W, jadi kalau saya tidak mengerti yang diterangkan oleh guru, maka dia yang menerangkan. Malu juga ketika dia bertanya, Afi gimana jagoannya masih A.C Milan? Saya jawab sekenanya aja karena tinggal di Jawa Barat jadi Persib aja deh. Jadi teringat mau nulis tentang club sepak bola favoritku.

Kebetulan saya lahir ditengah keluarga besar, 8 bersaudara. Yang tiga diatas saya laki-laki, lalu yang dua dibawah saya laki-laki, baru yang dua terakhir perempuan. Jadi ceritanya saya anak perempuan yang diharapkan, teorinya begitu padahal sih enggak juga :p.

Dikelilingi oleh saudara laki-laki praktis membuat saya jadi tomboy, ibu saya pernah cerita ketika berumur kira-kira tiga tahun saya diperiksakan ke dokter anak. Bukan karena sakit tapi Ibu saya bingung kenapa anaknya suka memanjat, main bola dan semua permainan laki-laki lainnya. Analisa dokternya itu disebabkan yang di lihat lingkungannya seperti itu, kegiatan abang-abangnya. Sejak itu atas saran Dokter, saya mulai diperkenalkan dengan segala pernak pernik perempuan, mainan masak-masakan, dipakein baju putri yang sungguh menyiksa diri itu. Bahkan ibu saya melibatkan saya didapur yang sebelumnya sangat takut anaknya “bermain” didapur, takut minyak panas, pisau dll. Jadilah saya asisten ibu, bagian mengupas bawang dan memotong sayuran. Eh keterusan sampai sekarang hobi ke dapur.

Tapi kesukaan terhadap permainan bola, kasti, dan permainan laki-laki masih berlanjut, sampai saya pindah ke Jakarta. Tinggal bersama kakek yang hobi nonton Bola, jadilah saya anak perempuan yang sering diajak ke Senayan (sekarang namanya Gelora Bung Karno) nonton Bola. Iya sejak kelas 4 SD kalau Persija, Persib sama PSMS main disempatkan nonton. Waktu itu masih generasinya Ricky Yakob, Kamaruddin Betay, hhmm ketebak kan usia saya masih muda😉. Dulu kalau lawannya Pesebaya Surabaya, sebelum pertandingan usai kami pulang duluan, takut rusuh gak bisa pulang.

Terbiasa bermain dengan abang-abangku di Binjai, ketika di Jakarta cukup sulit mencari teman laki-laki, kebanyakan perempuan dan mereka kurang suka main sepak bola, lebih suka, barbie, paling top bulu tangkis. Dan saya pribadipun malu bergabung dengan mereka karena teman main perempuan tidak ada yang bermain sepak bola. Jadi dipendam saja hasrat bermain bolanya cukup jadi penonton. Mungkin karena sudah di drill oleh Abang-abang saya jadi saya tidak rewel, main apa saja mau sehingga teman yang cowok mau mengajak bermain.

Ada satu teman cowok saya yang cs banget namanya Sofyan anaknya sabar, gimana gak sabar setiap habis magrib ngaji dia jemput, padahal saya belum siap-siap masih rajin menunggu. Mau les bahasa inggris juga gitu, dia sabar banget nunggu, jadi gak bisa bolos gara-gara dia. Sekarang Sofyan jadi Ustad dengar kabar dari teman yang kebetulan kenal sama dia. Oh pantesan ya dari kecil aja bakatnya sudah terlihat🙂. Saya ngomongin sepak bola sama dia, cuma karena dia kurang paham sepak bola zaman itu, dia hanya jadi pendengar saja, tuh kan baik banget.

Ketika memasuki SMP saya mulai cuek tuh, ah masa iya sih cewek gak boleh suka bola, sementara teman-teman cowok saya seru ngerumpi di belakang mengenai permainan sepak bola tadi malam. Akhirnya saya gak tahan juga ikut bergabung dengan mereka dan mulai state bahwa team favorite saya A.C MILAN, jagoannya waktu itu Marco Van Basten. Sejak itu saya tidak malu lagi sebagai anak perempuan yang menyukai sepak bola. Setelah saya berani meproklamirkan diri, teman-teman cewek saya ada beberapa orang, yang suka menonton sepak bola jadi klop sudah, sepak bola bukan aib. Kalau gosip di kelas tuh ya, beberapa kelompok ngomongin Tommy Page dan New Kids on the Block. Bukan tanpa alasan saya tidak bergabung di gank penggemar new kids, saya pernah bilang:”… saya Jordan ya, lalu cewek-cewek berubah gahar, ih itu aku duluan kamu yang lain aja. Ya deh Joey aja. Joey aku… kamu yang lain aja.”
Idih segitu gak bisa berbaginya. Ya udah mending Marco Van Basten, saingannya cowok-cowok, yang cewek cuma satu dan kamipun berbagi, tuh penggemar olahraga biasanya lebih sportif🙂

Lalu SMA ganti jagoan Maldini terus dan terus mengikuti sampai terakhir Filippo Inzaghi dan kedua adik perempuan saya, mulai ikut-ikutan suka Inzaghi dan ngaku-ngaku pacarnya. Ih malesin banget, saya bilang… ambil bekas gue, yesterday afternoon child. Biar gimana juga walau kata teman Inzaghi jagonya diving, tapi kami melihatnya sebagai “the right man on the right position,” tau aja kemana bola dioper. Bikin cowok-cowok BT, halah pasti karena modal cakep doang makanya pada suka. Jadi seringnya malah berantem soal itu bukan soal pertandingan semalam. Saya lebih suka nonton liga Italy. Sampai saya punya hasrat terpendam bahwa someday saya akan nonton bola live di San Siro Stadium. Sampai Maldini gantung sepatupun saya belum sempat nonton huaaaa mama…..hiks.

Terakhir Inzaghi pensiun, sudah saya stop nonton bola, paling cuma piala dunia saja, disamping gak ada waktu, seringya kalau nonton bola tengah malam tiba-tiba suami saya bangun TV langsung dimatiin😀 padahal itu volume tv cuma 1. Buang-buang waktu juga sih begadang nonton bola, sekarang saya kan sok sibuk. meskipun demikian saya tetap memantau Oezil, gak tau kenapa suka dia menurut saya dia sering menjadi man of the match. Eh suka juga sama James Rodriguez cuma sayangnya dia bermain satu club sama CR & saya kurang sreg…ah sudahlah jadi panjang.

Sekarang anak saya yang besar suka main dan nonton bola, jadinya kami suka ngobrolin bola pelan-pelan berdua saja, kalau ada ayahnya langsung diem hehehe. Saya kurang nyambung juga, karena sudah tidak menonton lagi tapi saya bisa merasakan kegembiraannya ketika anakku berbicara tentang jagoannya. I was there before. Saya kira saya sudah mengubur dalam-dalam mimpi saya menonton pertandingan A.C Milan di San Siro, tapi hari ini mimpi itu kembali setelah melihat Inzaghi jadi pelatih rossoneri. ah ah… namanya juga mimpi toh dari dulu saya suka bermimpi dan banyak maunya, tercapai alhamdulillah, tidak tercapai kok bisa sih? hahahha enggaklah sekarang mah ikhlas-ikhlas aja mau tercapai mau tidak juga no problemo.  Sepertinya langkahnya sudah dibukakan, adik saya ada yang bermukim di Italy, jadi ya tinggal nabung-nabung dan berburu tiket murah. Semoga….
Walaupun kondisi Milan saat ini sedang terpuruk tapi kami Milanisti tetap setia. Note for my husband: pemainnya gak ada yang ganteng sekarang.

Menyebalkan dia kirim foto-foto saat berkunjung ke San Siro Stadium arrgghhhh makin geregetan. Inzaghi wait for me ya…San Siro Stadium

maldini

Sengaja banget foto disitu….. hhmm

milan's cups

van basten

I’ll be there soooon. Watch me.

2 thoughts on “Rossoneri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s