Practice Make Permanent

Kegelisahan kemarin tentang si Abang yang merasa tersiksa disuruh belajar, alhamdulillah diberikan jalan olehNya. Tiba-tiba saja hari itu si Ayah yang sedang menghidupkan tv pagi-pagi, aku minta menghidupkan radio saja. Sudah lama gak dengerin radio. Sambil beraktifitas bisa sambil mendengarkan. Ayah yang pilih saluran rupanya pas banget saat itu topiknya obrolan tentang parenting, bagaimana metode belajar anak yang efektif, jadinya Ayah mantengin radio sementara aku sambil-sambil berbenah rumah ikut nguping. Kemudian berlanjut dengan seminar dikantornya dibilangan Sudirman, kebetulan saya dapat gratisan. Jadilah hari sabtu itu sebelum menjemput Mbak Dewi yang mau nginap dirumah, kami seminar, hanya saya dan Abang.

Isi seminarnya antara lain.
Pertama, anak harus mengetahui bahwa dirinya dicintai, tidak hanya dengan perbuatan tapi diiringi dengan perkataan dan itu terus diulang-ulang setiap hari. Sempatkan menatap mata anak dengan penuh kasih sayang dan ucapkan I Love You, atau perkataan versi anda masing-masing yang intinya sama yaitu mengkespresikan kasih sayang.
Saya sudah coba sebelumnya tapi tidak tiap hari, ternyata tiap hari toh.

Kedua. Anak itu harus punya tujuan atau cita-cita, sekonyol apapun cita-cita anak, harus didukung orang tuanya bukan dikecilkan. Lalu bukan dihujani dengan berbagai tips cara mencapai cita-cita, tapi orang tua sebaiknya bertanya, mengapa kamu ingin menjadi ….muadzin misalnya. Jadi si anak diajak berfikir mengapa dia menyukai itu, lambat laun akan tertanam dalam dirinya bagaimana mencapai cita-cita tersebut, lewat jalur apa? Dengan adanya goals dan dukungan orang tua tentu akan lebih mudah baginya untuk melangkah.

Ketiga dia harus menjadi yang terbaik dalam bidangnya, apapun itu. Kesalahan yang sering dilakukan orang tua, misal tau anak lemah dalam matematika orang tua malah memberikan les matematika agar dapat mendongkrak nilainya. Jadi fokusnya adalah mengejar nilai. Sebaiknya pola yang kurang tepat tersebut diubah, bukan menaikkan kekurangannya tapi mengoptimalkan kelebihannya. Dianalogikan seperti ini, daripada meratakan lembah sebaiknya meninggikan gunung. Sehingga potensi/kelebihan yang dia miliki semakin spesial/optimal. Misal anak hebat dalam bidang bahasa, bukankah sebaiknya dia diberikan tambahan les bahasa. Sehingga dia menjalaninya dengan gembira dan kemampuannya semakin terasah. Karena menjadi baik saja tidak cukup tapi harus berbeda.

Keempat, metode belajar yang menghapal dari A-Z sudah sulit diterapkan, karena semakin banyaknya materi yang harus anak pelajari di bangku sekolahnya. Hari ini ingat besok lupa. Let say pendidikan kita memang kurang efektif dan efisien karena menuntut anak untuk menguasai seluruh mata pelajaran. Sebagai orang tua kita harus tetap bisa mensiasatinya, bukan dengan membaca/menghapal sampai botak *istilah kami dulu, tapi dengan melibatkan seluruh panca indera. Indera penglihatan, pendengaran, membaui/penciuman, pengecap dan peraba. Fokuskan dengan tiga indera pertama.
Misal kita ingin menghapal kata Statue = patung. Bayangkan sebuah patung liberty misalnya, perhatikan bentuk tubuhnya perempuan, mirip gitar spanyol. Sambil mengucap statue, kita juga menggerakkan tangan membentuk tubuh dan mebayangkan liberty statue nun jauh disana. Untuk indra pengecap dan peraba jarang digunakan karena gak mungkin kita ke Amerika untuk meraba tekstur patung tersebut, apalagi menjilatnya🙂. Dengan menggunakan visualisasi seperti itu Insha Allah memory akan menetap lama dalam ingatan.
Atau bisa juga mengaitkan kata-kata tersebut dengan benda yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Saya pernah gunakan metode ini untuk mengajarkan perbedaan antonim dengan sinonim. Ingat aja teman Ayah om Anton, nah dia lawannya ayah, dia berkumis ayah tidak, dia gemuk ayah ehmm gak terlalu, begitu seterusnya jadi om anton lawannya ayah. Satu saja yang dihapal tidak usah dua-duanya, kalau Om Anton lawan kata sudah pasti yang satunya persamaan. Begitu seterusnya. Lebih mudah baginya membayangkan Om Anton daripada hanya menghapal kata Antonim.

Two way to study:
1. Understand the concept
2. Continuously test them self

Maaf bukannya sok inggres tapi saya sambil menulis, juga sambil belajar, so forgive me my son😀
Bukan menghapal tapi mengerti konsepnya, jalan ceritanya dan sebagainya, setelah mengerti seringlah berlatih untuk mengetes kemampuan. “Practice make permanent”. Yup konsep ini juga yang saya pelajari di Kumon, eh maksud saya, anak saya yang belajar di Kumon saya hanya mengamati. Konsepnya latihan soal terus menerus untuk yang belajar matematika. Untuk yang belajar bahasa inggris mendengarkan CD sambil mengamati gambar, juga mengucapkan kata-kata. See semua ketiga indra digunakan secara rutin, maka hasilnya Insha Allah menetap. Abang hanya setahun les kumon tapi alhamdulillah kemajuannya pesat. Tidak musti ikut kumon kalau kita sebagai orang tua dapat menerapkannya dirumah. Memahami konsep dan berlatih setiap hari.

Semakin kedepannya akan semakin sulit dalam tiap sisi kehidupan, tugas orang tua adalah mempersiapkan anak-anak mereka untuk menghadapinya, to take action. “Personal power is the ability to take action.” Kita tidak bisa mengontrol keadaan tapi kita bisa mengontrol bagaimana kita merespon dan bereaksi. Begitulah singkatnya kalau dipanjangin malah pointnya gak sampai nanti. Sekedar catatan pengingat buat saya pribadi selebihnya kalau konsepnya sudah jelas, I can recall the memory.

Hal-hal yang harus kita tanamkan dalam diri kita dan anak kita antara lain.
1. Komitmen
2. Integritas
3. Tanggung jawab
4. Fleksibilitas
5. Kejujuran
Untuk saya pribadi menempatkan kejujuran di nomer satu.
Sedikit catatan kecil apa yagn saya rangkum diatas adalah agar kita bisa sukses kita harus yakin, bahwa kita bisa. Untuk itu peran orang tua sangat penting dalam meyakinkan anaknya bahwa dia dicintai dan dia bisa melakukannya. Lalu punya tujuan/ goals, dengan adanya tujuan yang jelas maka langkah-langkah yanga akan dicapai menajdi lebih terarah. Selanjutnya time management/ manajemen waktu, dengan berlatih terus menerus.

Segala sesuatu ada jalan keluarnya selama kita masih mau mencari jalan keluar, yaiyalah. Mudah-mudahan tulisan singkat ini bisa membantu orang tua dirumah yang sebelumnya galau menghadapi anak-anaknya yang sulit diajak belajar. Mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau penulisannya tidak beraturan tidak terkonsep dengan baik, ini juga susah payah mengingat apa saja yang diajarkan disana. Masih banyak poin-point lainnya mendingan ikut seminar sendiri aja kali ya. Ayo kita pasti bisa *singsingkan lengan baju.
Ok parents time to practice. Kabari kalau berhasil ya, saya juga masih uji coba formula. Tapi setidaknya saya dan Abang punya satu pemahaman bahwa dia memang wajib belajar dengan ikhlas, dan harus berlatih mengerjakan soal setiap hari.

2 thoughts on “Practice Make Permanent

  1. yup, bener anak tengah suka gitu berasa gak ada yang sayang. Sampai pada nomer 2 juga gak apa-apa fit, anakku yang kelas 3 tiap beberapa hari/minggu sekali ganti cita-cita hayuk aja…. terakhirnya dia sampai susah menyebutkan mau jadi apa, soalnya profesi yang dia tau udah kesebut hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s