Sales

Gegara membaca time linenya Syafi’i Antonio yang mengatakan, penjualan tanpa pembukuan adalah mustahil. Tersadar bahwa pembukuan saya selama ini sederhana sekali dan cenderung acak-acakan. Susah mengetahui modal, total penjualan, keuntungan dll. Saya hanya mencatat si A membeli ini, seharga segini, bayar tanggal segini. Benar-benar pembukuan tradisional. Atas saran si Ayah catatan di buku kecil, dipindahkan ke tabel excel, maka surprise lah saya.
Ternyata tahun lalu saya menjual mukena selama 4 bulan sebanyak 168 pieces, itu yang tercatat, yang tidak tercatat?
Jadi semangat nih bikin pembukuan, pasti ada gunanya, paling tidak untuk saya sendiri jadi tau pendapatan dan target saya selanjutnya. Sayang saya mulai mencatat sejak maret 2013.
Padahal sebelumnya saya sudah jualan sejak eehmm sejak masih kuliah. Eh sejak kecil deh umur 6 tahun diajarin kakek jualan jambu air di depan rumah bersama Abang saya Bobby. Semua hasil penjualan serta sisa barang yang tidak terjual sepenuhnya milik kami. Pesta jambu air deh. Belakangan saya baru tau bahwa Kakek hendak mengajarkan kami berdagang. Itu pengalaman pertama berdagang. Kakek memang top, orang zaman dulu yang berfikir kedepan.

SMA saya suka eksperimen bikin cake, makanan, dan lain-lain. Suatu hari saya praktek bikin es buah ternyata esnya banyak banget. Akhirnya saya inisiatif nitip es di warung tetangga, alhamdulillah laris manis. Jadi keterusan bikin es buah. Sepupu juga jual di rumahnya yang beda 2 gang, mayan udah ada karyawan 1, sehari digaji 1000. Tajir kan anak kelas 2 SD jajan seribu zaman itu. Kalau tidak salah harga es buah 500 rupiah. Keuntungannya udah capek-capek gitu cuma 5000 saja😀 saya gak ngerti sih gimana cara jualan modal rajin dan nekat saja.

Kuliah saya bersama 4 orang teman main semasa SMA membuka toko baju second, asesoris, di daerah Perumnas Klender. Membeli baju second-nya di Cibadak Bandung, pasar Senen dan Petak Sembilan di kota. asesoris di Bandung juga lucu-lucu dan murah, gelang yang diemperan Blok M harganya 3500 di Bandung cuma 1500, mayan kami jual sama dengan harga Blok M, maklum sasarannya anak sekolah dan anak kuliah. Keuntungannya habis buat bensin, kita jalan-jalan dan makan-makan selama perjalanan dan di Bandungnya. Tempat makan yang happening di Bandung kita sering coba, juga yang dijalur Puncak. Dua minggu sekali kami pergi ke Bandung, belanja isi toko, masih lewat Purwakarta-Subang atau Puncak- Padalarang.

Disamping itu tokonya jadi base camp, karena kami beda kampus, saya di Perbanas, teman saya di poltek UI satu orang, satu lagi fikom UI, satu Darma Persada, dan satu lagi Pancasila. Kadang kebanyakan yang main daripada yang beli, jadi tempat tongkrongan. Kelebihannya banyak yang jaga toko. Dari ketiga tempat membeli baju itu, barang-barang yang murah dan bagus dijual di Cibadak Bandung. Kemudian ada campur tangan pemerintah daerah yang gak bisa liat ada perputaran uang, makan pasar baju second dialihkan ke Mall. Sejak itu kami tidak pernah lagi belanja di Bandung. Kalau dihitung tidak sampai setahun kami buka toko dan balik modal dalam 2 bulan, tajir deh pas masa kuliah hehehe. Sulitnya mendapatkan barang bagus dengan harga miring, serta kesibukan kuliah masing-masing akhirnya toko bubar. Saya masih sempat beberapa waktu jalan sendiri jualan di kampus dengan mengambil barang di Pasar Senen, tapi tidak lama, karena memang kualitas barang kurang bagus.

Putar haluan jualan ke kampung halaman setiap mendekati bulan puasa, yang dijual mukena, baju koko dan baju lebaran, kebutuhan lebaran deh, mayan juga keuntungannya. Dikampung yang jualan mama, tapi semua keuntungan saya belikan baju lebaran buat orang tua, dan adik-adik. Berhenti jualan ketika saya memasuki dunia kerja. Saya sempat pusing liat abang saya yang pertama, dia bekerja sebagai medical representative di salah satu farmasi asing. Kerjaannya kalau main ke rumah tuh cerita mulu. Sampai suatu waktu saya bilang :” Abang berisik… aku gak mau ah jadi sales, berisik.”

Kemudian saya kena kutukan, pertama kali kerja, jadi SPG IT di JHCC selama 3 hari, jualannya hosting, ditraning cuma sehari yang dijual sangat membingungkan, untung aja ada yang mau hosting😀 kalau engak ketauan banget gak ngerti produk. Status masih kuliah. Kemudian magang di perusahaan minyak asing atas ajakan teman yang sedang magang disitu. Divisi HRD, tadinya disuruh di finance sesuai dengan jurusan, tapi saya ngotot mau di HRD males ngitung Bo’. Punya tiga Bos, lebih tepatnya mentor yang super baik. Betah banget kerja disitu, gimana enggak tiap hari kecuali hari kamis saya ditraktir Bos rame-rame tuh berempat, tempatnya kadang saya yang disuruh pilih. Hari kamis saya memang tidak ikut malu ditraktir mulu, halah. Kamis ada pengajian kantor dapat makan nasi box gratis, kalau tidak ada pengajian saya ikut teman saya yang magang juga, ditraktir sama bosnya, kesimpulannya gratis tiap hari. Bosnya baik-baik membantu saya bekerja secara profesional, skala prioritas, banyak belajar waktu kerja disitu.  Thanks Pak Santos, Pak Medi dan Pak Nelwan.

Sebelum wisuda sudah wawancara sana sini tapi belum sreg dengan kerjaannya, 3 kali diterima 3 kali saya tolak, semuanya SALES atau MARKETING. Padahal saya daftarnya bussiness development, gaya banget sih, yesterday afternoon child. Kecuali satu jadi sekretaris tapi saya kurang berminat terpaksa ditolak, masukin lamaran karena mau latihan wawancara. Mendekati wisuda semakin galau gak mau jadi penganguran, jadilah saya berdoa, perusahaan pertama yang merekrut saya, akan saya terima tanpa syarat.
Ya ampun bener-bener kutukan, ternyata diterima sebagai Telesales di salah satu perusahaan ISP. Padahal background pendidikan management keuangan, itu juga teman saya yang masukin lamaran via email. IT bidang “langka”, saya cuma kenal e-mail dan browsing saja tahun 2001. Ya sudahlah daripada ngangur, nambah pengalaman juga bidang yang baru. Dua minggu setelah wisuda resmi jadi Telesales. Nyebelin bener tuh lagu Justin Bieber, never say never, ternyata benar adanya. Inilah saya sekarang tukang jualan alias Sales, si Berisik.

4 thoughts on “Sales

    1. Fitri kepo, udah aku bocorin tuh satu orang aja yang lainnya fitri gak kenal😛. Nih aku bocorin deh, yang kuliah di Pancasila dan Dharma Persada itu temannya yg kuliah di Mipa UI. Lalu sekarang yang kuliah di Pancasila itu tinggal di Bangka. Jadi katanya kalau maian ke Bangka hubungi dia, dia siaaapp. Ayo fit kita ke Bangka😀

      Buat kalian teman-teman saya, my partner in crime, yang merasa pernah bikin toko bareng….semoga baca ya.🙂

  1. Bangettt yu… Setiap hari sampai sekarang pun masih terus belajar, selalu ada sesuatu yang baru yang minta “dimengerti dan dipahami”..if you know what i mean…..😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s