Hajar Aswad #UMRAH 13

Ada sedikit cerita tertinggal sewaktu Umrah kemarin yang sempat membuat saya diliputi berbagai pertanyaan, yang akhirnya beberapa hari belakangan ini baru terjawab.
Ketika itu saya berangkat ke Masjidil Haram sendiri karena Mbak Dewi sedang berhalangan. Selesai sholat subuh menunggu dhuha biasanya kami tawaf. Saya tawaf sendiri putaran pertama tidak ada masalah, tiba diputaran kedua saya sambil tawaf memandangi orang-orang yang berebutan ingin mencium Hajar Aswad. Sebenarnya itu pemandangan lazim dan biasa yang kami lihat ketika tawaf cuma entah kenapa pagi itu dihati saya berkata :” Boleh juga kali ya kalau bisa mencium Hajar Aswad tapi tidak menyusahkan.”
Sebelumnya bahkan dari tanah airpun saya sudah menetapkan hati tidak ingin mencium Hajar Aswad takut menyusahkan, cuma sunah dll. Setelah saya membatin dalam hitungan detik saya disamperi sama perempuan bergamis hitam, jilbab hitam, bodynya kecil tidak pakai name tag, sama seperti saya, mengajak saya mencium Hajar Aswad. Saya pikir beliau sama seperti saya single fighter yang mencari teman.
Mbak: ” Mbak mau cium Hajar Aswad? Sini saya bantu.”
Saya: ” Enggak mbak gak usah.”
Mbak:” Kenapa, saya bantu Mbak.”
Saya:”Gak enak berdesakan gitu, saya kecil takut, gak usah saja.”

Dia tidak memaksa tapi tetap beriringan menemani saya tawaf sambil ngobrol. Kenalan namanya Mbak Amy asal Banjarmasin. Selesai putaran tawaf ke dua, lalu saya berfikir kalau tawaf diisi dengan ngobrol apa gunanya? Sebelumnya saya mendengar mbak Amy menjawab telpon bahwa dia sedang membawa jamaah yang mau mencium Hajar Aswad. Saya bingung, maksudnya saya gitu jamaahnya? Ketika Mbak Amy berpamitan menuju Hajar Aswad, entah kenapa saya malah mengikuti dia dari belakang. Lalu dia menoleh sambil berkata,:” pegangan saya yg erat, mukena diikat kedepan jangan sampai ditarik-tarik orang, berdoa ya.” Benar kami susah payah menerobos gelombang orang yang padat. Ketika sampai mendekati Hajar Aswad tas saya tersangkut tidak bisa ditarik. Stuck disitu. Berusaha mempertahankan tas yang isinya name tag dan passport tapi saya tidak mau mundur. Lalu saya berdoa dalam hati mohon ampun.
Akhirnya berhasil, tepat didepan Hajar Aswad saya bengong beberapa detik tidak percaya saya bisa sampai disini. Saya cium lalu saya bingung mau ngapain, mbak Amy berteriak:” salawat mbak.” Baru saya salawat, lalu saya cium lagi. Saya perhatikan dengan seksama kok Hajar Aswad warnanya coklat kemerahan dengan bintik-bintik hitam kecil-kecil menyebar. Mirip seperti lantai granit *ketauan deh pekerjaan sampingan tukang.

Kemudian terdengar lagi suara Mbak Amy :”Cium lagi mbak, jilat.” saya cium lagi tapi tidak saya jilat. Saya pandangi lagi seksama warnanya masih sama, waduh saya salah apa ini. Orang-orang, sejarah, semua menyebutnya batu hitam tapi kok saya melihatnya tidak hitam. Haduh saya salah apa? Setelah tertegun yang gak jelas gitu terdengar suara.
Mbak Amy: “Sudah puas Mbak?”
Saya:”Sudah..”
Kemudian kami menyingkir dengan lebih mudah. Saya masih terkesima tiba-tiba berfikir kok bisa ya masuknya susah payah begitu didepan Hajar Aswad suasana ribet dibelakang tidak terasa, bahkan saya mendapat jeda lama untuk mengamati. Andai saja ketika mencium ada yang menarik kepala saya gimana? itu tidak terjadi, begitu kita didepan Hajar Aswad tiba-tiba suasana tenang, tidak ada yang mendorong, cukup puas saya memandanginya. Tapi yang masih terpikir kenapa warnanya bukan hitam….?

Selelsai mencium kami mengambil tempat agak lowong. Sebelumnya kami sudah membahas di group Umrah, bahwa nanti akan ada calo Hajar Aswad. Baru saya benar-benar ngeh oh ini toh calonya. Saya serahkan uang 20 riyal lalu mbak Amy minta 200 riyal. Saya bilang saya gak punya. Ya masa mau sholat bawa uang banyak-banyak gak konsen nanti sholatnya. Lalu dia minta 100 riyal, saya bilang ada sih Mbak, tapi saya masih lama disini takut uangnya gak cukup, mbak ikhlas kan saya kasi 20 riyal? Mbak Amy bilang, ikhlas. Widih saya takjub juga dari 200 riyal jadi 20 riyal banyak banget diskonnya. Saya sendiri tidak paham harga yang musti dibayar karena tidak ada pembicaraan sebelumnya. Kalau tau tarifnya 200 riyal terima kasih mending gak usah dibantu.

Sampai di hotel saya cerita sama suami saya, lalu dengan polosnya saya bilang kok dia minta 200 riyal. Kata suami saya memang tarifnya antara 100-200 riyal. Alhamdulillah syukur juga saya tidak tau, kalau tau tentunya saya gak akan mencium Hajar Aswad. Note untuk yang mau pakai jasa calo, sebaiknya soal tarif dibicarakan dimuka. Atau lebih baik lagi berdoa minta sama Pemilik Rumah agar diizinkan mencium Hajar Aswad. Mungkin benar ya apa yang dihati bisa langsung diijabah, saya beberapa kali membatin langsung dipenuhi, sesuai doanya, “boleh juga asal tidak menyusahkan.” Benar-benar tidak menyusahkan cuma 20 riyal. Allahu Akbar.

Lalu problem saya cuma satu bahwa Hajar Aswad itu tidak hitam melainkan coklat tua, maroon bintik-bintik hitam, menurut pandangan mata saya. Ya Allah salah apa nih diriku, mataku kok melihat seperti itu? Selama di Haram saya membawa kamera tapi jarang sekali berniat foto-foto. Paling kalau foto-foto diluar masjid. Didalam setelah menuju pulang, saya tidak terfikir aja buat foto-foto padahal biasanya gak bisa liat objek. Bahkan foto di depan Ka’bah saja tidak punya. Jadi tidak punya bukti bahwa Hajar Aswad yang sama saya lihat tidak berwarna hitam.
Ribet aja sih urusan warna, ya begitulah saya.🙂 Bukan apa-apa yang terfikir tuh saya salah apa sampai liat warna yang berbeda???

Melihat foto Mbak Elly hajar Aswad juga hitam, foto di booklet juga hitam ah sudahlah saya mencoba melupakan warnanya yang penting itu Hajar Aswad, tapi dilubuk hati yang paling dalam tidak lupa.
Sampai beberapa hari belakangan ketika saya membuka situs berita ROL saya kegirangan, disitu dimuat foto Hajar Aswad yang warnanya persis seperti saya lihat. Setidaknya saya gembira bahwa ada orang lain yang juga melihat warna Hajar Aswad sama dengan saya. Hore…hore..hore…
Maka baru sekaranglah saya berani cerita soal Hajar Aswad ini😉

hajar-aswad-_141014104859-972

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s