Al Jazeerah Cikini

Kalau kepingin makan masakan Arab di Jakarta salah satu tempatnya adalah di restoran Aljazeerah di Cikini.
Lokasinya Jl. Raden Saleh No. 58, Cikini, Jakarta. Mereka menyediakan masakan Arab lengkap dengan cemilan, minuman dan tentu saja teh. Dibagian depan restoranpun terdapat stall Kebab yang rasanya best.

Ruangan di restoran ini terbagi menjadi 3, pertama untuk family, ditutupi tirai jadi kita makan diruangan ruangan tertutup gitu, saya gak betah. Kedua untuk umum *mungkin, bebas siapa saja bisa makan disitu. Ketiga untuk smoking area, lucunya malah AC yang paling dingin tuh di smoking Area dan ada TV nya.
Makan disini kalau melihat price list lumayan ya, apalagi kalau di bandingkan dengan makan di Arab lebih murah makan di Arab hehehe. Seperti yang kita ketahui kalau orang Arab itu makan dengan porsi jumbo, jadi menu utama nasi yang kita pesan bisa dimakan 2-3 orang satu porsinya. Kalau dihitung ya tidak mahal juga.
Biasanya kami suka pesan Mandi Laham atau Kabsah Laham yaitu nasi berbumbu khas Arab dengan potongan daging kambing, nyamm…

Mandi Laham dan Kabsah Laham perbedaannya diwarna. Kabsah warnanya lebih merah karena memakai tomat pasta dan nasinya dikukus. Mandi Laham warnanya putih kekuning-kuningan, dan Laham itu berarti menggunakan daging kambing. Menu ini juga tersedia dengan daging ayam, tapi kami belum pernah coba.
Kalau cemilan saya suka pesan Um Ali, pertama kali pesan karena namanya unik hehehe. Isinya seperti puding roti dengan campuran aneka kacang, ada almond, pistachio, dan kismis, ajib *kasi jempol dua.
Satu lagi Arabic Bread, roti Arab polos biasa tapi saya suka, biasanya dihidangkan dengan 3 bahan pencelup: Madu, susu, dan peanut butter. Minumannya suka pesan mint tea, atau teh Arab. Seperti kebiasaan orang Arab makan, mereka menyediakan Bombay di slice dengan potongan lemon sepiring full. Saya rasa yang bikin mahal pelengkapnya itu :p. Kadang Lemonnya saya masukkan kedalam teh, jadi Lemon Tea. Saya suka terbengong-bengong liat orang Arab makan Lemon begitu saja wow apa gak kecut ya.

Kalau kocek memungkinkan beli kebab untuk dibawa pulang. Habis itu puasa senin kamis hehehe. Murah atau mahal relatif tergantung pendapatan. Terakhir beli kebab take away harganya 40.000 idr small size, dagingnya full, ada kentang goreng, sayuran juga sesuai dengan sausnya pas. Jatuhnya gak mahal juga kan, tapi kalau di bandingkan kebab doner dan sejenisnya, sedikti lebih mahal. Menurut kami makan mahal sekali-kali tidak mengapa asal yang dimakan benar-benar enak dan kalau dibikin sendiri ribet. Yang bikin sakit hati tuh udah laper, harga makanan mahal, eh gak enak dilidah huaa… bubar.

Seperti biasa kalau ketemu makanan enak langsung dilahap, jadi foto hanya sekedarnya, saingannya dengan 3 cowok ganteng, bisa-bisa gak kebagian Laham kalau kelamaan foto-foto.

Oh ternyata dibalik keunikan nama Um Ali terdapat kisah yang tragis penyebab terciptanya hidangan tersebut, hiks. Bisa dibaca disini . Siapkan tissue sebelum membacanya, apakah untuk mengelap air mata karena ceritanya mengharukan atau karena tidak mengerti bahasa inggrisnya hihihi.

2013-02-03 20.14.00

Kabsah Laham dan Arabic Bread plus celupannya.
Kabsah Laham dan Arabic Bread plus celupannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s