Bullying

Dari judulnya saja sudah membuat gemes. Tapi gak usah gemes dulu, santai aja.
Anakku yang nomer dua *yang nomer tiga belum ada, tipe pengamat, dan cenderung lebih dewasa dari usianya. Pembawaannya santai, sesantai aku sewaktu hamil dia. Sejak baby wajahnya selalu menunjukkan mimik serius dengan ukuran lingkar kepala yang lebih besar dibandingkan teman-temannya. Terkadang suka menggodanya dengan mengatakan, memang dunia ini berat ya dik, kalau dipikirin.

Berbeda dengan Abangnya yang karakternya cenderung mudah tersulut, dia santai. Namanya Sadiq, dan kami memanggilnya Adiq. Sewaktu TK, guru TKnya bercerita kalau Sadiq anak yang mandiri dan bisa mengatasi situasi. Pernah ada kehebohan dikelas sebelah, semua temannya keluar kelas, berisik tanya-tanya kepada gurunya. Tapi Sadiq dengan santainya duduk mengerjakan tugas sampai selesai. Baru ketika jam istirahat, sambil memakan bekalnya dia bertanya ke gurunya.

Sadiq:”Bu sebenarnya tadi ada ribut-ribut apa sih dikelas sebelah?”

Dan itu sikap yang membuat gurunya salut. Sama seperti Abangnya di TK jika mengerjakan tugas dia mengikuti instruksi dari guru kemudian mengerjakan sampai tuntas, dikumpulkan. Setelah dikoreksi guru, jika masih ada waktu yang salah dibetulkan. Bu Nur guru Sadiq cerita biasanya teman-temannya selesai mengerjakan satu nomer, kumpulkan tanya bu guru yang nomer dua bagaimana? Begitu seterusnya sampai nomer sepuluh.  Menurut Bu Nur anak sekarang lebih manja, tapi kedua anak kami sejak kecil cukup mandiri. Ah senangnya. Alhamdulillah.

Memang kedua anak kami disekolahkan TK langsung TK B, saya berprinsip lebih baik mereka bermain puas sebelum dimasukkan ke sekolah yang penuh aturan dan PR walau untuk level TK sekalipun. Agak janggal menurut aku anak usia TK kan masa bermain jadi biarkan saja main. Tinggal ibunya aja tebalin telingan jika ada yang bertanya, kok gak sekolah? Alhamdulillah sekarang ada istilah home schooling, jadi jawabnya simple, mereka home schooling. Seru saya tiap minggu menyiapkan tema, ke kebun binatang, mencoba transportasi, ke museum. Malah kitika Abang dari sekolah berkunjung ke museum dia yang show off ke teman-teman cerita disini ada ini, itu, dll saya pikir itu bagus untuk menambah percaya dirinya. Terkadang disaat anak-anak belajar Sadiq dan Zulfa main bola, bikin iri teman-teman yang dikelas. Mama Zulfa juga menyekolahkan Zulfa langsung TK B, wah best friend bener. Manjat, lari, lompat, ahlinya mereka.
IMG_3312rs

IMG_3320rs

IMG_6078

Seiring dengan berjalannya waktu, Adiq semakin pendiam, hanya mengamati teman-temannya bermain. Segala cara saya upayakan agar dia ikut serta bermain tapi dia tetap santai. Akhirnya jalan yang ditempuh adalah pendekatan dengan teman-temannya. Alhamdulillah cukup efektif Adiq yang susah disuruh berangkat sekolah akan dijemput oleh teman-temannya, bergantian dan itu setiap hari. Terkadang saya niatkan membuat cemilan untuk mereka. Alhamdulillah walaupun pengamat, teman-temannya tetap mengajak bermain. Sebenarnya dia hanya malas berangkat ke sekolah, tapi jika sudah disekolah dia tidak akan mau diajak pulang meski dengan alasan apapun. Sewaktu jam makan siang, rame teman-temannya kumpul berebutan mau cerita. Saya tanggapi satu-satu, bahkan saya kasi antrian siapa yang mau pertama kali cerita. Buat saya jam makan siang itu jam yang menyenangkan ketemu anak-anak itu dengan ceritanya masing-masing.

Tapi ada satu anak yang hhmm suka membuly teman-temannya dan Adiq salah satu korban tetapnya karena Sadiq diapa-apain gak pernah nangis atau ngadu apalagi membalas. Saya hanya mendengar laporan dari teman-temannya bahwa Sadiq dipukul, sadiq di tabrak, sadiq ini..itu… tapi anaknya sendiri gak pernah ngadu. Pelan-pelan saya korek-korek info dari Sadiq kenapa sih dia tidak cerita, atau mungkin lebih tepatnya kalah cepat kali ya dari teman-temannya, karena begitu melihat saya temannya sibuk laporan. Ternyata jawaban anak saya sederhana:” sabar aja Nda”. Hati orang tua mana sih yang tidak sedih. Berusaha lagi pelan-pelan cari tau alasan sebenarnya dan akhirnya dia mengaku.
Sadiq:”Percuma Nda, kalau bilang ke Bu Guru paling juga ..ayo minta maaf, gak boleh gitu ya. Udah.”
Saya:” Oh jadi gak dihukum sama Bu Guru, misalnya disuruh menulis dua lembar saya akan berbuat baik sama teman, gitu.”
Sadiq:” Enggak Nda cuma gitu aja….”
Saya:” Sadiq tidak memulai jahat duluan kan?
Sadiq:”Enggak……*agak kesal.
Benar sih saya juga memperhatikan memang anak itu yagn usil duluan, temannya lagi makan sendoknya tiba-tiba diambil, Iseng aja gak ada sebab dan korbannya random sesuka hatinya.

Memang dari saya memasukkan Sadiq sekolah disitu sudah mengetahui bahwa sekolah itu penanganan gurunya standar saja, tapi karena dekat rumah dan teman-teman TKnya saling menyayangi makanya pertimbangan kami menyekolahkan dia disitu. Saya kemudian berbicara dengan Ayahnya anak-anak mencari solusi terbaik, saya bilang jika Ibu yang berbicara takut dianggap sepele atau akan berakhir dengan defensif, coba ayah yang berbicara dengan gurunya. Ditanyakan penyebabnya apa.

Ayahnya turun tangan ke sekolah bicara dengan wali kelas tapi apa daya ternyata itu laporan yang kesekian kalinya tentang anak itu dan sepertinya gurunya menyelesaikan dengan :” ayo gak boleh begitu sama teman, minta maaf..bla…bla…”
Dan bagian yang membuat saya nelangsa ketika Bu Guru berkata, bahwa orang tuanya nyerah menghadapi kelakuan anaknya.
Sampai berkata:”..terserah ibu deh mau diapain aja, saya udah capek menghadapi kelakuannya…”

Ya Allah itu anak siapa? Apakah dengan adanya guru tugas dan tanggung jawab orang tua lepas? Ah saya pesimis sama orang tuanya, percuma bicara dengan orang tua yang beda persepsi. Tapi Ayah Sadiq tetap ingin mencoba bicara dengan orang tuanya. Saya bilang go ahead temui orang tuanya.

Masih tidak putus asa Ayahnya Sadiq menunggu anak itu datang bersama orang tuanya kemudian melaporkan kelakuan anaknya kepada Ibunya. Dan persis seperti gurunya Ibunya cuma bilang :…”tidak boleh begitu, dosa bla bla..bla… hiks dan anakku tetap menjadi korban. Kehabisan akal, Ayahpun kembali menemui guru dan memberikan ancaman kepada anak pembully apabila ketauan melakukan lagi maka dilaporkan ke polisi…haduh ayah. Please deh….🙂

Walau bagaimanapun aku mengenal baik teman-teman Adiq, karena kebanyakan mereka berasal dari TK yang sama, mereka perhatian, dan hubungannya erat. Pindah sekolahpun tidak akan menyelesaikan masalah karena dimanapun pasti ada anak model yang seperti itu. Menyuruh Adiq membalas perlakuannya sangat tidak mungkin, anak saya kalem, mukul juga tidak sakit. kata Abang serasa dipijitin kalau Adiq mukul.

Cukup, anak kami tidak boleh menjadi korban bully apapun alasannya. Pendekatan yang dilakukan ayahnya tidak mempan, akhirnya saya mencari pendekatan baru. Pertama masuk kedalam kelas setelah paginya ayah kasi ultimatum, sang anak ngumpet di bawah meja. Saya diamkan saya biarin deh pegel hihihi. Tidak berapa lama saya bertanya kepada temannya, itu kenapa si R dibawah meja. Teman-temannya bilang:” Takut sama mama Sadiq, padahal mama sadik kan baik ya.” Dan disambut persetujuan dari teman-teman lainnya. Hari pertama berlalu.

Hari kedua dijam yang sama saat makan siang, anak itu saya panggil, untuk duduk bersama teman-temannya dikarpet yang heboh cerita. Dia belum berani mendekat. Bagus dalam hati saya, semakin jauh semakin baik. Hari kedua pun berlalu.

Hari ketiga saya bikin agar-agar untuk teman-teman sekelas, dan Adiq saya suruh memberikan agar yang pertama kepada si R sebut saja begitu. Diterima agar-agarnya dan sekelaspun pesta agar-agar. Hari keempat tetap saya ajak duduk dikarpet makan siang bersama, dan mulai mendekat. Hari kelima mulai lebih dekat lagi, sambil diselingi teriakan teman-temannya yang menyuruh dia minggir. Saya kasi pengertian ke mereka bahwa dia tetap teman, anaknya pada dasarnya baik, cuma kelakuannya yang tidak baik. Jadi yang dirubah kelakuannya, bukan orangnya dijauhi. Hari kelima tetap dengan keributan.
Hari ke enam mulai sedikit rileks, jika dia menggangu temannya saya liatin saja tanpa ekspresi terus saya liatin sampai dia berhenti sendiri mengganggu temannya.
Hari ke tujuh mulai berani duduk bergabung dengan hati-hati, tapi saya tidak sabar, saya usap rambutnya dan dia terkejut. Sayapun terkejut karena rambutnya lengket sekali, jari-jari saya sampai sangkut dirambutnya.

Tetap berprasangka baik, hari kedelapan saya mulai mengamati, kuku tangannya kotor, hitam-hitam dan panjang. Dihari kesembilan saya membawa gunting kuku dan mulai menggunting kuku anak saya. Sambil menawarkan untuk memotong kukunya. Tapi dia tidak mau.  Dan saya menangkap sesuatu lagi ah daun telinganya juga kotor.
Positif anak ini kurang perhatian, jadi saya berkesimpulan jika saya bisa memperhatikan dia dengan baik mungkin dia akan berteman dengan anak saya, mungkin, belum ada jaminan.
Selanjutnya saya tetap mendekat, berusaha mengajak bicara, sambil bertanya kepada teman yang lain apakah masih tetap melakukan kegiatan bullying, ternyata masih tapi kepada Sadiq mulai berkurang.

Ok semangat afi jangan menyerah, traktir lagi teman sekelas wafer, kali ini si R sedang keluar kelas, tapi memang dasarnya anak-anak baik, temannya bilang sini aku kasi R. Oh baiknya anak-anak sehari di bully sehari kemudian baik lagi, ya memang anak-anak seperti itu. Saya pernah bertanya kepada mereka apakah pernah membalas tindakan si R. Teman-temanya serempak menjawab pernah eh dia malah nangis payah cemen ….
Ah tidak ada jalan selain pendekatan baik-baik. Ya setiap hari sekolah, saya perhatian, mendengarkan ceritanya dan dia mulai bertanya tentang gasing, tentang profesi, tentang apa saja yang saya simpulkan anak ini pintar cuma kurang perhatian.

Lama-lama sekeras apapun batu kalau disiram air terus akan lunak juga, ahamdulillah semakin kesini tidak pernah mendengar lagi laporan teman Sadiq bahwa Sadiq di bully. Sampai Sadiq naik kelas 3 tidak sekelas dengan R saya lebih lega lagi😀. Tapi selalu saya sempatkan menegur dia jika berpapasan, atau dia dengan sengaja masuk kelas Sadiq pada waktu makan siang.

Saya iseng tanya si R:” Kamu masih suka jailin teman ya?”
R: “Enggak kok, kan udah gak sekelas.”
Saya:”Oh jadi gak jahil karena gak sekelas, bukan karena sudah tidak jahil lagi?*sambil tetap saya usap-usap rambutnya.
R:..*senyum-senyum meringis ke gap :p
Saya:” Gak usah jahil ya, nanti gak punya teman.”
R:” Iya aku tau….”*nadanya bicaranya terdengar bosan dan ekspresinya lesu.
Saya:” Memang gak enak jadi anak-anak, kerjanya dinasehati terus sekali-kali di jajanin kek ya.”
R:…*senyum ceria lagi.

Pada dasarnya tidak ada anak yang bandel, seandainya kita lebih berempati, mengamati, lebih mendengarkan Insha Allah ada solusinya. Saya teringat sepupu saya yang ketemunya ketika dia baby sampai usia 2 tahun lalu pindah ke Amerika, dan tahun lalu liburan ke Jakarta ketemu lagi diusia 10 tahun. Namanya Fira, anaknya sopan, bertata krama, dan suka cerita dan saya suka mendengar ceritanya sambil melatih bahasa Inggris. Semangat sekali dia bercerita teman-teman baiknya, sekolah, adik-adiknya, terlihat anaknya percaya diri. Dia bercerita guru favoritenya :” she always listen to my story, she care and… wait there is another one, mr….. he always interested in my story, paying attention, i love him, just like you, you listen to my story……

And I,m so honored by Fira. Oh ternyata dia semangat becerita karena saya mendengarkan dengan seksama cerita-ceritanya. See you soon Fira. Cuma itu saja ternyata untuk menjadi guru idaman adalah guru yang mau mendengar cerita dan pendapat muridnya. Itu salah satu alasan diciptakan dua telinga dan satu mulut, supaya lebih mendengar, klise.

Miss you Fira
Miss you Fira

PR saya sekarang malah terletak pada anak saya sendiri, bagaimana menjelaskan dan mengajarkan kepadanya cara membela diri. Mengingat dunia yang semakin …..
Saya mengajarkan :”JIka seseorang, siapapun itu baik saudara Bunda, saudara Ayah, teman, tetangga atau guru Adiq melakukan hal-hal yang membuat Adiq sakit tidak nyaman dan ketakutan, Adiq harus melaporkan kepada Ayah dan Bunda. Tidak perlu takut Bunda pasti membela asal Sadiq berkata jujur. Jika teman memukul tapi Sadiq tidak memukul duluan, balas pukul. Kalau menendang balas tendang. Jangan takut ya Nak. Nanti kalau teman Adiq jahat kan ada Abang yang siap membela, Bunda, Ayah, ok.”

Sepertinya doktrin itu akan terus saya tanamkan, mengingat masyarakat kita yang cenderung permisif dengan alasan lebih tua musti dihormati, segan apa kata orang, masih saudara, akan menjadi aib keluarga jika dipermasalahkan dan alasan-alasan tidak bermutu lainnya. Itu semua teori, saya tidak akan membiarkannya. Yang salah tetap salah, titik. Anakku tetap kuat ya, kamu laki-laki pasti bisa.
Ayahpun “terpaksa” mendoktrin anaknya,” jika kita dipukul balas aja, terkadang dia sering memukul karena kita tidak membalas dikira kita takut, tapi kalau sekali saja kita melawan biasanya dia kapok kok.”

Mudah-mudahan saja tidak terjadi kekerasan dibalas kekerasan, sudah cukup deh dunia yang tidak ramah sama anak. Ada baiknya kita sebagai orang tua yang lebih dewasa, mencoba melakukan pendekatan baik-baik tidak hanya dengan memberi hukuman tapi belajar mendengarkan apa sebenarnya keinginan mereka yang tidak diakomodisir oleh orang tua, guru, teman dan sebagainya.
Makasi ya teman-teman Sadiq yang secara bergantian menjemput Sadiq, dengan cerita-cerita serunya, dengan nasehat-nasehat bijaknya agar Sadiq cepat berangkat ke sekolah, agar bangun lebih pagi, sholat lebih pagi…ah kalian pinter-pinter deh *jempol.

Hari Raya Qurban
Hari Raya Qurban
Sebagian dari tamu rutin kami dipagi hari :*
Sebagian dari tamu rutin kami dipagi hari :*

4 thoughts on “Bullying

  1. hi hi aku ngajarin anak, kalau dipukul duluan pukul balik…(tapi tidak berlaku buat teman perempuan ya).tapi gak boleh mulai mukul duluan, berhasil utk yg no 1 dan 3, yg no 2 gak mau katanya kalau dipukul nanti ga selesai2 dunk bu pukul2an terus..

    he he he bener juga sih…tapi kalau mengalah terus kan bs terus2an dibully..jadi harus py nyali dan sikap,,,apalagi anak laki2 khan..

    1. Serba salah kan fit….. maunya gak ngajarin kaya gitu tapi bagaimana lagi. Takutnya dia malah agresif dirumah sama Abangnya karena Abang kudu ngalah. Jadi berantem deh berdua. Tetap aja abang merasa dipijat kalau dipukul adik gak kerasa katanya. Hadew.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s