Sehari di Kota Medan #1

Lahir di Sumatera Utara saya sewaktu kecil lumayan sering bepergian bersama adiknya nenek yang paling bungsu dan suaminya. Seringnya ke Berastagi, Danau Toba dan pantai Sialang Buah untuk sekedar makan-makan ikan. Saya yakin destinasi terakhir belum terlalu populer karena lokasi agak jauh dari kota Medan. Zaman saya kecil mall di Medan cuma satu, Medan plaza, jadi kalau gak ke tiga tempat itu paling ke Medan Plaza atau Petisah surganya belanja…eeaaa.

Saat ini justru saya lebih tertarik untuk cerita tempat wisata di Kota Medan yang dalam sehari bisa dikunjungi, yang lokasinya memang berada di kota Medan. Mungkin bermanfaat bagi yang sekedar ada dinas luar, atau sekedar transit. Kita mulai saja ya.

1. Masjid Raya Medan atau Masjid Raya Al Mashun
Mengenai Masjid ini bisa diliat di link diatas, tapi yang membuat saya selalu kangen akan masjid ini adalah kegiatan yang dilakukan di Masjid Raya selama bulan ramadhan. Selain tentu saja pengajian, disaat berbuka puasa sudah menjadi kegiatan rutin Masjid menyumbangkan makanan untuk berbuka puasa. Makanan yang disajikan khas, yaitu Bubur Sop. Modifikasi dari bubur pedas, mungkin dikarenakan sulit mencari rempah-rempahnya *asumsi tak berdasar. Namanya memang bubur pedas tapi rasanya jauh dari pedas, melainkan hangat, karena kandungan rempah-rempah didalamnya bisa mencapai puluhan diantaranya lada,temu kunci, temu mangga dan temu-temu lainnya. Warga sekitar pun antri untuk mendapatkan bubur pedas ini. Selain di Masjid Raya Medan, masjid Azizi di Tanjung Pura dan Masjid Raya Stabat, menyediakan bubur pedas, kuliner Ramadhan khas Melayu. Selain itu juga dijalan sekitar masjid biasanya diadakan festival ramadhan sebulan penuh. Sempatkan mampir kesini.
1933931_152926199728_6621528_n

2. Istana Maimun
Sebenarnya agak gimana gitu menuliskan tentang istana Maimun. Seharusnya istana Maimun jadi Icon kota Medan, karena menurut asal muasalnya kerajaan yang berjaya disini adalah kesultanan Melayu Deli. Sekali lagi Medan itu harusnya identik dengan Melayu Deli bukan suku Batak saudara-saudara. Suku Batak tempatnya lain lagi agak ke gunung. Istana Maimun saat ini ditempati keturunan dari Kesultanan Deli dan pengelolaannya pun pribadi. Akibat pengelolaan pribadi ini dana untuk perawatan hanya berasal dari tiket masuk yang dipungut dari pengunjung, sebesar 5000 rupiah. Jika di bandingkan dengan Kraton di Jawa bisa dikatakan istana Maimun kurang terawat. Padahal arsitektur istana sungguh indah, lantainya terbuat dari kayu dan sebagian menggunakan keramik denga motif yang cantik. Arsitekturnya Melayu dengan gaya Islam India, Spanyol dan Italy, jika ingin tau lebih jauh bisa bertanya dengan pemandu disana.
istanamaimun
1933931_152904164728_5956691_n

Pemandangan sedikit terganggu dengan adanya tiang jemuran dan tiang listrik berseliweran tidak tertata. Lantai juga berdebu karena lokasinya ditengah kota, dan singgasana tidak di vakum, berdebu. Sedih, prihatin, padahal bagunannya kalau dirawat sangat indah dan mempunya nilai sejarah kejayaan sebuah kerjaan. Ah saya masih ingat legenda Putri Hijau yang menolak pinangan raja dari Aceh.
Cerita itu saya turunkan pada anak kami. Dihalaman luar juga terdapat meriam puntung lengkap dengan sejarahnya. Cuma belakangan saya kecewa, karena sewaktu kecil meriam itu hanya dipagari jadi kita leluasa melihat. Sekarang ditutup dengan terpal dan kain, jika ingin melihat harus membayar saya lupa berapa, dan yang bikin ngenes diletakkan dupa dan taburan bunga, terlalu. Eeii wiet itu saya terakhir berkunjung tahun berapa ya, lupa. Semoga sekarang sudah tidak ada deh hal-hal yang nggak penting seperti itu. Juga banyak pedangan kaki lima yang tidak bisa liat lapak kosong, langsung gelar dagangan. Kegiatan yang bisa dilakukan diistana Maimun selain melihat-lihat kita bisa juga berfoto dengan menggunakan baju pengantin Melayu Deli. Biaya sewanya cuma 10.000 idr. Seandainya ada campur tangan dari pihak pemda, tentunya istana bisa dioptimalkan lagi fungsinya sebagai warisan sejarah, tempat tinggal juga lebih tertata atau dibangun bangunan diluar istana sehingga keindahan istana tetap terjaga. Semoga kedepannya ada perbaikan.

3. Rumah Tjong A Fie
Saya belum pernah kesini, karena dilarang oleh Ibu saya, alasannya anak saya yang kecil tidak boleh dibawa-bawa ke tempat kuno karena dia cukup sensitif. Pernah beberapa kali saya ajak ke museum berakhir dengan jeritan dan tangisan🙂 Jadi saya mengalah tidak akan mengunjungi tempat-tempat seperti ini walaupun saya suka sejarah. Menarik untuk dikunjungi, nama Tjong A Fie sangat melegenda di Medan bahkan Asia Tenggara. Tjong A Fie sendiri pengusaha yang sangat sukses pada masanya, juga terkenal karena kedermawanannya tanpa memandang etnis. Mempunyai pabrik gula, perkebunan kelapa sawit dan perusahaan kereta api di Medan. Tjong A Fie mansion selain bernuasa Tiongkok juga dipengaruhi budaya Melayu dan Eropa.
Sejarah hidup Tjong A Fie dapat dilihat dari foto-foto yang ada, kursi antik, perabotan, peralatan makan zaman dahulu juga ada membuat kita bernostalgia kembali ke masa lampau.
Menurut adik saya yang berkunjung kesana, rumahnya sedikit creepy, dan ada terdapat altar besar tempat sembahyang, yang tiba-tiba membuat bulu kuduknya merinding hohohoho. Selengkapnya silakan berkunjung kesana agar tidak penasaran.
Lokasi rumahnya berada di Jl. Ahmad Yani, Kesawan.
Angkot: rute 23, 24, 26 (melewati jalan Kesawan)
Harga tiket masuk: Rp 35.000,00/orang sudah termasuk guide.

4. Penangkaran Buaya Asam Kumbang
Sejak saya kecil sepertinya Penangkaran Buaya ini sudah ada, mungkin usianya udah setua saya bahkan lebih :p. Eh iya bener setelah browsing, ternyata pertama kali dibangun tahun 1959 yey aku masih muda. Saya kesini waktu masih kecil, itupun gak ada fotonya karena nenek tidak suka *baca takut. Disini kita bisa melihat buaya dengan berbagai macam usia, dari baby sampai yang udah tuir bangeeettt. Bermula dari hobi Lo Than Muk, penangkaran ini dibuat. Buaya-buaya ditempatkan didalam kolam-kolam besar dan danau buatan, dibatasi oleh pagar, mirip di Ragunan, Insha Allah aman bagi pengunjung. Selain buaya pengunjung juga bisa melihat kura-kura dan ular.Tempat yang menarik untuk dikunjungi.
Tiket masuk 5000 rupiah saja, buka setiap hari pukul 09:00- 17:00 WIB.
Alamat Penangkaran Buaya Asam Kumbang Jl.Bunga Raya II No. 59 Sunggal, Kecamatan Medan Selayang Kota Medan, Sumatera Utara.

Foto ilustrasi, suka banget saya liat fotonya😀

http://pichost.me/1527617/
http://pichost.me/1527617/

One thought on “Sehari di Kota Medan #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s