Bahasa Santun

Sepulang dari warung Ucok dekat rumah, diperjalanan bertemu dengan beberapa orang anak SMP yah bisa disimpulkan anak SMP karena salah satu temannya menggunakan seragam SMP. Mampirlah anak perempuan berseragam itu bergabung dengan kerumunan teman-temannya. Salah seorang temannya nyeletuk.
Teman 1: :”weii beg* tumben lu sekolah.
Wanita 1 :” eh Be*o gue ulangan Be*o, kalau gak ulangan juga gue bolos.”

Oalah be*o itu bahasa sehari-hari toh.
Jadi teringat masa kecil dulu, setiap salah satu dari kami berbicara kasar dengan pemilihan kata yang tidak santun, siap-siap deh dihukum. Mama jarang melarang hal-hal sepele, tapi untuk urusan bahasa amat sangat diatur. Kata Mama, ucapan itu setengahnya doa, pilihlah yang baik-baik saja. Seorang ibu jika berbicara kasar kepada anaknya apalagi sampai menyebut nama binatang, itu fatal banget. Memang si Anak tidak akan berubah menjadi binatang, tapi minimal kelakuannya mirip binatang itu. Nenek lebih parah, tidak boleh berbicara gue-elu sama siapapun ya siapapun gak pandang itu saudara, teman anak kecil pokoknya semua.
Terkadang khilaf sama Abang komplen:” lu sih Bang…” Wah kalau Nenek dengar, langsung ditegur. “Kok pakai Abang tapi pakai lu juga?”

Dulu sih belum merasa pentingnya larangan tersebut, tapi sekarang terasa banget ya, untuk orang yang berbicara santun enak didengar.
Pernah kejadian adik saya berhenti kerja hanya karena bosnya manggil orang dengan panggilan binatang.
Misal:” Hai nyet…meeting yuk….eh njin* laporan mane?”
Adikku:”Gaul sih gaul tapi kok kuping gue sakit ya Kak dengernya, mending gue berhenti aja.”
Yup nasehat Nenek gak mempan kami masih suka ngomong lu-gue sesama adik kakak …ampun Nek ampuuunnn. Cuma itu aja kok Nek, yang lainnya Inshaa Allah tidak.

Dan ketika dialog awal tadi saya ceritakan ke anak saya Abang, dia merenung tidak komentar.
Me:”Bunda baru tau bang perasaan Andung dengar anak ngomong kasar tuh seperti ini, gak enak banget Bunda dengarnya. Seandainya pun cewek itu cantik tapi kalau bicaranya seperti itu……..males aja”
Abang:” Oh pantesan Nda dia ngomongnya gitu, kali aja memang dia be** karena masuk sekolah pas ulangan aja.” hihihi
Abang: “Kata guru Abang kita juga gak boleh Nda lagi nyetir ngomong kasar ke orang.”

Me:”Iyalah kemarin Bunda baru belajar, kedudukan doa itu bisa dikabulkan, ditolak sama ditangguhkan. Kalau doa kita ditolak, otomatiskan akan dikembalikan kepada yang berdoa karena Allah gak mau terima.” *sambil mempraktekkan dengan bahasa tubuh, karena anak lebih cepat paham bahasa tubuh daripada kata-kata. Kalau kita ngatain orang be** terus doa kita ditolak, emang enak kena diri sendiri. Bunda kalau nyetir kan ada orang reseh paling bilang, cakep banget sih Pak/Bu…”

Abang:”Ayah tuh Nda…..”
Ayah… no comment deh.🙂

2 thoughts on “Bahasa Santun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s