Mbah Jingkrak Setiabudi

Cerita tentang sahabat-sahabat saya semasa SMP tapi sampai sekarang masih silaturahim, dengan alasan dan kegiatan yang dibuat-buat yang tujuannya sih pingin ngumpul hehehe. Walau gak ada kegiatan juga minimal 2 bulan sekali ketemuan karena salah satu anggota dari 8 orang itu ada yang ulang tahun. Dimulai dari Februari 2 orang, April 2 orang, Juni 2 orang, September 1 orang dan Desember 1 orang.

Tradisinya kita belikan cake buat yang ultah, lalu ditraktir sama yang Ultah. April ini giliran saya sama Ial, cuma selisih 3 hari. Kebetulan jadwal Ial weekend di dalam kota, bisa deh janjian makan di Mbah Jingkrak Setiabudi. Sebelumnya saya melihat review restoran ini 3,7 dari 5 bahkan ada yang kasi 4, berarti lumayan dong ya pikir saya. Saya memilih lokasi ini karena tertarik dengan reviewnya yang katanya interiornya Jawa, foto-fotonya juga lumayan keren. Secara model saya pada bosan difoto, maka disinilah kesempatan itu hadir. Tyo juga bawa istri dan anak, cocok banget deh anak-anaknya kalau disuruh foto mau aja.

Ternyata begitu sampai kesan yang ditangkap tuh sumpek. Gimana ya, meja kursi jati ok, tapi ditemboknya tidak ada ruang kosong semua full pajangan rame euy. Sampai di jembatannya yang harusnya bagus jika polos saja, dikasi mainan anak bebek-bebekan yang buat di bathtub baris dipegangan tangga OMG rame aja. Belum lagi banyak tulisan-tulisan yang maksudnya mungkin buat seseruan tapi malah menggangu. Mirip makan di Nasi Bancakan Mang Barna, Bandung. Makanan disediakan secara prasmanan, cuma untuk sayurnya tumisan semua taste of java, agak manis gitu ya dan tidak ada lalapan. Kereceknya juga rasanya biasa. Kelebihannya pegawainya cekatan, dan cepat saji karena masakan sudah matang. Kesimpulannya resto ini over rate, maaf diralat “bukan selera kami.”

IMG_5482 IMG_5481
Hasil kasak kusuk dengan teman mereka juga kalau disuruh milih gak akan balik lagi kesini. Malah Ial bilang kalau harganya segini, mending makan di Bandar Jakarta, taste lebih enak. Ah Ial telat banget ngomongnya. View Bandar Jakarta Ancol kan juga keren. Hampir semua menu kami pesan ada yang pesan ayam, udang, cumi, dll jadinya tau kalau rasanya biasa aja. Oh iya harga sih gak terlalu mahal cuma setiap menunya dicas bahkan untuk sambel, jatuhnya jadi mahal juga deh sama minum seorang kena 100 ribuan. Setelah membayar bill nya diambil Feby dan dicek bareng Ika, mungkin kaget juga makan 9 orang itu 900ribu something, bill nya sudah aku buang karena gak tertarik balik lagi. Ayam predesnya yang katanya favorite bisa dibilang ayam woku tapi pedasnya ampun. Yang paling enak cuma tempe mendoannya, nah ini jujur enak banget dan porsinya besar.
Agak sulit memang menstandarkan urusan lidah. Kembali ke selera masing-masing saja.

IMG_5533cp

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s