Amanah Seorang Ibu

Mbak…..

Mbak….

Ping

Selang dua puluh lima menit kemudian saya baru membaca bbm dari Istrinya teman saya. Ibu muda dengan sepasang anak kembar. Bukannya saya malas menjawab tapi memang hp terbiasa tergeletak begitu saja, disela-sela kesibukan baru saya pegang.

Saya: yes…. aya naon?

She: “Mbak aku mau curhat…. aku sebel banget tadi si K tantrum gara-gara dia mau jajan tapi jajanan itu gak sehat aku gak kasi dong. Eh tetangga-tetangga disini malah bilang, udah kasi aja cuma 500 ini. Aku digituin mbak.”

Me: hhmmm… *belum komentar karena sepertinya masih banyak kesedihan dalam hatinya yang belum tersalurkan.

She : “Bukan masalah gopek nya kan mbak, tapi buat apa anak kita dikasi jajanan yang gak sehat, nanti kebiasaan lagi. Aku kesel sekaligus sedih Mbak digituin kesannya aku pelit banget sama anak.”

Me: “Betul…. 10.000 juga kita kasi asal jajan yang bener, iya kan.”

She:” Iya mbak…. ih kesel.”

Me:” Begini saja, itu anak kita kan, kalau kita salah didik nanti anak-anak kita kenapa-kenapa misal diare yang nanggung siapa? Kita juga kan bukan mereka, mereka paling prihatin saja, atau mungkin malah menyalahkan Ibunya. Jadi buat apa kita memikirkan omongan orang? Kita baik saja masih ada aja salahnya, apalagi kita gak baik? Apa sanggup kita hidup sesuai standar mereka? Kalau mbak sih maaf deh gak sanggup.”

She:”  Iya ya mbak…. ini si R aja gak mau sekolah digosipin tetangga kalau R malas sekolah dll. Kalau mereka liat aku jalan sama R pagi-pagi nih ditanyain mulu kok gak sekolah? Ampe capek jelasinnya mbak.”

Me:” hahahaha…..”

She:” Pokoknya gitu deh mbak.”

Me: ” Kamu sudah memutuskan akan mendidik anak dengan cara kamu, dengan pengetahuan yang kamu miliki, dengan keyakinan bahwa dengan cara ini anak akan menjadi lebih baik. Walaupun apa yang kamu lakukan melawan arus lakukan saja kalau kamu anggap itu benar. Karena nanti yang diminta pertanggungjawaban di akhirat tentang anak kita ya kita sendiri bukan tetangga. Aduh capek ngetiknya telponan aja yuk.”

Kemudian pembicaraan berlanjut via telpon.

She:”Itu dia mbak, aku masukin dia play group karena pingin tau R perkembangan otaknya bagaimana, takutnya tertinggal dengan teman-temannya.”

Me:”Let say dia tertinggal dengan temannya, temannya udah bisa baca dia dia belum, terus mau diapain? Mau dipaksa bisa membaca anak 4 tahun? Terus setelah dia bisa baca mau langsung diterjunkan ke dunia kerja begitu🙂

She:” Enggak sih mbak tapi kan waktu kecilnya K lebih cepat bisa sementara R agak lambat, K udah tengkurep tapi R belum..gitu deh Mbak, makanya aku sekolahin biar tau dia tertinggal apa tidak.”

Me: “Anak kan beda-beda bukan berarti dia gak bisa tapi prosesnya agak lama dibanding anak seusianya. Anak mbak aja yang pertama 2 bulan tengkurap, 5 bulan merangkak pokoknya buku pedoman bayi dilewati semua sama dia. Giliran yang kedua pas banget dengan pedoman perkembangan bayi pada umumnya, pada umumnya loh ya.”

She:” Jadi gimana dong mbak ini, K sekolah R tidak. Padahal disekolahnya main-main aja paling satu hari aja menulis. Itu juga si K kalau pelajaran menulis dia hapal jadwalnya lalu bilang, Ibu hari ini aku gak mau masuk sekolah. Udah deh ribut lagi tetangga. Susah mbak kalau tinggal di Kampung.” *dia kira dikomplek beda😀

Me:” Mungkin R lebih nyaman diajari sama Ibunya, coba diajari dirumah apa yang K dapat disekolah dalam konteks bermain. Penuhi saja memori anak dengan kehadiran orang tuanya jadi udah gede yang dia ingat apa-apa ke Ibu, atau Ayah bukan keorang lain. Anak mbak dua-duanya kan langsung masuk TK B, teman-temannya belajar dia main bola, kadang temannya ngeliatin dari jendela kelas, tau kan sekolah cuma beda dua rumah dari rumah mbak. Jadi menurut mbak lebih bahagia anak-anak Mbak puas bermain, dibanding teman-temannya kecil-kecil harus belajar. Dan dia begitu masuk TK B bisa ngikutin kok, bisa membaca juga. Mbak pertama deg-degan juga karena anak pertama. Disuruh nulis ujung-ujungnya menggambar, semua buku digambar, mbak setres sendiri. Sampai mbak sadar malah lebih bagus, berarti anak ini dari kecil sudah terlihat bakatnya menggambar. Daripada sampe gede gak ketauan bakatnya dimana. Udah tenang aja deh itu anak kita, didoakan saja, InshaaAllah pasti jadi anak yang berguna apaun profesinya nanti.”

dan pembicaraan terus berlanjut sampe 15 menit kedepan….nama sengaja memakai inisial.

Bisa kasi saran begitu karena sudah pernah melalui fase itu, fase berat menjadi Ibu muda yang tentunya mengharapkan mendapat dukungan dari lingkungan sekitar. Diri sendiri saja masih trial dan error, bongkar pasang formula mendidik anak, kok malah dijatuhkan. Mengapa harus menjatuhkan? Bukannya belajar saling mendukung. Jika didukung, ibu-ibu yang tadinya gamang melalui fase menjadi Ibu akan melaluinya dengan lebih santai dan lebih baik lagi.

Contoh kecilnya seperti ini, saya nyuapin anak dihalaman disamperin tetangga, liat anak saya makan ikan diceramahin, semua anak Mbak dulu makannya cuma pakai bayam dan wortel aja bla bla bla… ya saya cuma bisa senyum saja. Dalam hati berfikir lah bukannya saat ini saat terbaik memberikan gizi lengkap untuk batita? Akhirnya saya bilang gini: menurut dokter dia dikasi makan satu macam makanan setiap tiga hari, misal 3 hari berturut-turut dikasi ikan, nanti diliat dia ada reaksi alergi gak? Lalu 3 hari berturut-turut dikasi telur gitu seterusnya jadi tau sejak dini dia alerginya apa. Dan jawaban ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan itu juga akan berakhir sia-sia hehehe.

Sejak itu saya memutuskan nyuapin anak dirumah saja, dikira mudah nyuapin anak batita, belum dia mogok makan gak mau ini gak mau itu, yang kadang membuat kesabaran menipis aaarrrggghhh gak gampang jadi Ibu.  Akhirnya saya memutuskan ya sudahlah untuk tetangga dan orang sekitar yang kurang mendukung, saya hanya akan memberikan senyuman saja, senyum manis. Saya akan mendidik anak dengan cara saya yang menurut saya terbaik, saya yang paling memahami anak saya, saya yang menghandle nya sejak bayi, bagaimana dia nanti besarnya saya serahkan pada Allah saja yang paling tau mana yang terbaik.

Mulai dari diri sendiri, mari kita dukung sesama Ibu yang belajar menjadi Ibu yang baik bagi anak-anak mereka, ya anak-anak mereka bukan anak kita, tentun saja dia akan mendapat didikan sesuai pengetahuan dan pengalaman ibunya.

2 thoughts on “Amanah Seorang Ibu

  1. Iya mbak Jangan mudah menjudge dan membandingkan cara mengurus anak…. Kalo ada yg kurang pas, mending diam sambil ambil hikmah ketimbang panas panasan, sebaliknya kalo ada yg patut ditiru, diomongin

  2. Pingback: Amanah Seorang Ibu #2 | Layalli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s