Post Card from Positano

Seminggu sebelum lebaran, tetiba isengnya kumat. Kebutuhan tuk lebaran sudah dari jauh hari disiapkan, dengan alasan biar bulan puasa fokus dirumah saja. Ternyata penasaran pingin tau seperti apa Pasar Tanah Abang seminggu sebelum lebaran. Berangkatlah naik Commuter Line. Adem Ac nya dan hanya 2000 rupiah saja rute sejauh itu alhamdulillah. Kemajuan Jakarta yang terasa ya commuter Line.
Tiba di stasiun Tanah Abang karena memang tidak ada yang dituju jalan pun pelan-pelan saja sambil memperhatikan orang lalu lalang di stasiun. Mendekati pintu keluar terlihat pedagang asongan menjajakan kartu lebaran. Akupun mempercepat langkah menuju kearahnya, dalam fikiran terbayang masa-masa SMP dulu hobi banget berkirim kartu lebaran. Belum ada handphone, e-mail masa dimana anak-anak ABG berbunga-bunga hanya karena menerima surat/kartu dari Pak Pos. Kaki melangkah mendekat sambil berfikir akan dikirim kemana kartu ucapan itu, ah sudahlah beli saja dahulu nanti baru dipikirkan untuk siapa.

Jarak dua meter dari penjual kartu, diamati dengan seksama ternyata itu bukan kartu lebaran, melainkan angpau dengan gambar-gambar lucu. Yaaaa penonton kecewa. Terpaku sejenak lalu mengambil arah lain. Pikiran terus berputar sambil menghilangkan rasa kecewa, bahwa kalau penjual itu menjual kartu ucapan belum tentu ada yang membeli.
Lupakan kartu, mari kita survey pasar.

Kondisi pasar tidak terlalu penuh, barang yang dijual sudah tidak mempunyai ukuran/size yang lengkap. Akan tetapi untuk baju dibawah harga 100 ribu rupiah banyak bertebaran. Peminatnya pun cukup banyak, tas harga 50 ribu rupiah juga banyak, sebanyak peminatnya. Hati bersyukur tiada henti bahwa tanpa menunggu THR bisa beli baju buat anak-anak dan lain-lain. Alhamdulillah. Ada hikmahnya juga survey jadi lebih banyak bersyukur. Beli celana jeans buat Abang dan koas buat Adik,dengan kemampuan menawar yang lenyap seketika. Ya sudahlah kita sama-sama berbagi rejeki saja, sepuluh dua puluh ribu lumayan berarti buat penjual.

Sebagai manusia saya tidak mengerti cara kerja Tuhan, setibanya saya dirumah selang satu jam lebih kurang, datang Pak Post memberikan amplop dari Mamanya Atta. Sudah tau isinya apa saya hanya menerima kemudian meletakkan diatas meja, tidak membuka sama sekali. Dengan rasa penasaran memuncak akhirnya Abah bertanya : “Kenapa tidak dibuka? Isinya apa?”
Wah gawat ini harus dibuka segera, jangan sampe tensi abah naik hanya karena surat dari anaknya tidak dibaca😉. Sambil membuka amplop sambil berkata bahwa ini kartu sejenis ATM jadi jika Mama Atta mau transfer uang kena charge tidak terlalu mahal, bisa langsung diambil di ATM dengan kartu tersebut. Ternyata setelah dibuka didalam amplop itu tidak hanya kartu, tapi juga ada kartu pos dan gambar hasil corat-coret Atta. Surprise…. tidak jadi mengirim kartu, malah mendapatkan kartu. Bahagia itu sederhana.

P1020172
Hatta’s Masterpiece

2 thoughts on “Post Card from Positano

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s