Amanah Seorang Ibu #2

Kelanjutan dari postingan sebelumnya yang ini.

Kira-kira akhir Juni lalu Sales Panci kumpul dirumah Ika, karena Ika dan Tyo ultah. Bulan puasa jadi Ultahnya diganti bukber dirumah saja biar mudah sholatnya. Cerita-cerita sama Ibunya si kembar, yang akhirnya memutuskan anaknya si R tidak disekolahkan cuma K saja yang sekolah. Ayahnya juga setuju karena merasa anaknya masih kecil buang-buang waktu dan uang juga.

Baru sebulan lalu Ibunya curhat, kesel bercampur sedih diomongin tetangga ini itu karena R mogok sekolah. Kali ini Ibu melapor dengan bangganya.

S: “Mbak, akhirnya R putus sekolah hehehehe…”
Me: “hahaha biarin ya R masih kecil kok sekolah, anak kecil mah main tugasnya bukan belajar.”

S:” tau gak mbak…kan namanya masih terdaftar tuh di paud, terus kemaren ada lomba adzan dia ikutan eh menang mbak dapat juara tiga yang lain pada bengong. Aku sampe gak enak sendiri, malah datang telat. Aku protes ke jurinya kok menang, kan datangnya telat? Jurinya malah bilang, yang dinilai adzannya kok, dia bisa kan? Ya sudah menang. Menang mbak tuh dapat tempat minum.”

Me:”Ih pinter banget anak Ibu, R menang lomba azan ya..selamat ya Nak, besok-besok ikut lomba lagi ya biar hadiahnya banyak.”

Yang diomongin senyum-senyum aja.
Wahai para tetangga coba liat ya, baru sebulan diajarin Ibu dirumah sudah bisa menang lomba adzan gimana kalau didik setahun. Ibu adalah guru terbaik anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s