Multi-Tasking or Task Switching?

Baru saja membaca artikel tentang “multi-tasking” yang sebenarnya kita salah pemahaman, yang kita lakukan bukan multi-tasking melainkan task switching. Perpindahan tugas yang satu (belum selesai) ke tugas yang berikutnya.
Menurut pandangan orang awam ini sangat efektif, sedangkan menurut penelitian, malah memperlambat kerja kita sekitar 40%. Lalu membuat kita kehilangan fokus mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu, bikin setres kalau salah satu kerjaan ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan ya namanya juga tidak fokus, dan kita membodohi diri sendiri bahwa kita hebat bisa menyelesaikan sekaligus tugas dalam satu waktu. Iyakah?

Di contohkan misal menerima telpon sambil menjawab e-mail, atau menonton TV sambil ngemil. Ya ampun contohnya ya nggak pas aja deh. Coba ya menjawab telpon berarti kita harus fokus dengan apa yang dikatakan orang diseberang sana, sementara menjawab e-mail musti dengan bahasa yang tertata, repot kali. Pantes saja dibilang kurang efektif.
Contoh kedua ngemil sambil nonton TV, ini gak bener karena bikin ngemil tidak terkontrol ujung-ujungnya gemuk deh. Lagipula apa urgensinya ngemil sambil nonton?
Yah begitulah contoh yang aneh.

Buat saya sendiri task switching cukup efektif secara saya emak-emak rumahan. Misal nih, lagi menggoreng ayam, saya bisa sabil cuci piring dan cuci baju di mesin cuci. Dari pada melamun di depan wajan, sambil bolak balikin ayam, pemborosan waktu ntar tuh ayam ancur lagi kebanyakan dibolak balik. Begitu ayam mateng semua, piring dan perabotan makan lainnya pun bersih. See ..hemat waktu toh.
Ketika semua masakan mateng dapur rapi, maka cucian baju juga tinggal dijemur. Jadi aneh saja sih artikel ini. Mungkin untuk Ibu rumah Tangga task switching sangat cocok, beda dengan kerja profesional, dikantor dimana semua pekerjaan butuh konsentrasi jadi task switching bukan malah mempercepat pekerjaan malah memperlambat.

Bener juga sih sewaktu saya kerja dulu, waktu menjawab email dari jam 11-12, waktu chat jam 12-13 waktu santai deh sembari lunch. Gak pernah tuh menerima telpon sambil membalas e-mail. Takut salah tulis, takut salah kirim dll dsb. Apalagi menerima telpon sambil sms-an wah gak banget deh. Jadi buat Ibu-ibu dan Bapak-bapak perkerja kantoran, jangan task-switching ya. Fokus Bu, Pak, one thing at a time. Ibu gak mau kan email ke teman jadi nyasar ke Bos hehehe. Selamat bekerja, dan sadari mulai sekarang jangan sering melakukan task switching, gak efektif Bro.

Sumber: http://www.psychologytoday.com

One thought on “Multi-Tasking or Task Switching?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s