Masjid Rahmatullah Lampuuk

Dari sekian banyak cerita diliburan kemarin, belum terkumpul semangat tuk menulis. Ketika semangat datang giliran kata-kata yang pergi. jika kata tidak bisa mewakili maka foto-foto bisa bercerita.

Seperti biasa setiap mengunjungi suatu daerah saya selalu menyempatkan mampir ke masjid. Alhamdulillah selama di Aceh sempat mampir di masjid Baiturrahman yang menjadi icon kota Banda Aceh. Melewati beberapa masjid seperti masjid Jami’ Ulee Lheu masjid yang selamat dari terpaan Tsunami, masjid Agung Al-Makmur Lampriet yang dibangun atas bantuan pemerintah Oman dan banyak lagi masjid lainnya yang uniknya memiliki bentuk dan arsitektur tidak sama, unik, dan indah pastinya. Beberpa kesamaan yang saya temui pada masjid-masjid diberbagai jalur lintas Aceh adalah bangunan masjid yang megah akan tetapi tidak memiliki tembok pembatas, sehingga sirkulasi angin bebas keluar masuk. Juga pembatas untuk shaf laki-laki dan perempuan hanya dibatasi kayu setinggi setengah meter. Mengingatkan saya pada masjid Agung Demak yang kharismatik. Sayangnya saya terlalu kagum sehingga tidak sempat mengambil foto.

Masjid Ramatullah Lampuk adalah salah satu dari beberapa masjid di Aceh yang selamat dari terpaan Tsunami, masjid lainnya yaitu masjid Kuede Teunom, Masjid Jami’ Ulee Lheu, Masjid Al Ikhlas Lhoknga, dan Masjid Baiturrahman.

Masjid yang hanya berjarak 500m dari pantai ini alhamdulillah selamat dari amukan Tsunami, meski terdapat kerusakan dibeberapa bagian tiang penyangga masjid yang sampai sekarang dibiarkan sebagaimana adanya. Padahal ketika itu ketinggian gelombang tsunami mencapai atap masjid sehingga lambang bulan sabit dan bintang diatap masjid ikut bengkok. Bisa dibayangkan masjid dengan jarak yang begitu dekat dari pantai, diterjang oleh gelombang yang sangat tinggi dengan membawa banyak material salah satunya balok kayu yang besar, hanya mengalami sedikit kerusakan, kuasa Allah. Perkerjaan perbaikan masjid Rahmatullah akibat gempa dan tsunami, pembangunan dua menara dan pagar keliling oleh bulan sabit merah Turki. Lihat di pintu gerbangnya ada bendera Indonesia berdampingan dengan bendera Turki.

Ketika kami disini bertepatan dengan waktu sholat Ashar, alhamdulillah bisa sholat berjamaah. Selesai sholat saya mengamati bangunan masjid dan mengambil beberpa foto. Lantai masih lantai yang sama, masya Allah. Merinding, sedih, takjub, haru semua menjadi satu, sekaligus yakin bahwa saya sebagai manusia tidak ada apa-apanya. Selepas Isya diadakan kegiatan mengaji, anak-anak dengan sepedanya telah siap mengikuti pengajian. Dilihat dari posturnya mereka belum lahir ketika peristiwa ini terjadi.

Sekali lagi, kita tidak boleh hanya melihat foto, liputan media lalu mengambil kesimpulan. Tidak, tidak seperti itu, kamu harus datang sendiri, tidak perlu mengalami, cukup mendengar dari beberapa orang yang mengalaminya, sudah cukup, cukup membuat mata berkaca-kaca dan dada bergemuruh. Hebatnya mereka berhasil sedikit-demi sedikit untuk move on, bukankan hidup terus berjalan?

Foto dikanan, diambil dari http://www.acehkita.com, yang sebelah kiri 11 tahun pasca tsunami koleksi pribadi.

 

 

2 thoughts on “Masjid Rahmatullah Lampuuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s