Kuliner @Sabang

Selesai berenang, lapar tentunya. Pesan makanan di restoran, tapi di cegah Bang Mus, karena dia mau ngajak kuliner di Taman Kuliner Sabang. Sambil menanti yang lain masih bersiap, saya pesan kentang goreng. Begitu liat menu saya kaget, kentang goreng cuma 13.000, dipulau seperti ini. Lalu sayapun menelusuri menu lain yang kebanyakan menu Italia, dan memang harganya cukup murah. Kentang dibawa ke mobil, anak-anak yang makan. Mbak el, pesan pizza untuk pulangnya, dan ternyata pizzanya enak. Selidik punya selidik Opa Freddie ini yang menyiapkan makanan pagi dan malam dibantu stafnya. Sudahlah mari kita meluncur ke taman kuliner, lapar nih.

Taman kuliner tidak jauh dari penginapan, ketika kami datang lumayan banyak juga pengunjung. Lokasinya persis di pinggir jalan dan pantai. Jika kami datang sore hari pasti keren banget melihat sunset. Tertata rapi dengan bangku plastik yang sedikit rebah sandarannya, pas untuk santai. Sate Padang, Sate Gurita, Mie dan Nasi Goreng, aneka Jus, ikan bakar, itu beberapa menu yang tersedia. Tanpa ragu saya memesan sate gurita dengan bumbu kacang, alhamdulillah enak meski agak alot jika dibandingkan dengan daging ayam. Ikan bakarnya enak, ikan di Aceh enak semua segar-segar. Selebihnya kita ngobrol-ngobrol seru, anak-anak bebas berlarian sampai puas baru kembali ke penginapan.

Kamar kami diatas restoran dengan tangga kayu lumayan curam, kamarnya terdiri dari 1 kasur queen dengan 3 kasur single. Kamar sederhana dengan bilik bambu,cukup bersih dengan kamar mandi dalam. Seperti biasa saya susah tidur ditempat baru sampe jam 12an masih tekun mendengarkan deburan ombak. Wow…terakhir nginep beneran di pinggir pantai di pulau Ayer. Lama-lama ngantuk juga, karena sepi.

Paginya sarapan lontong, pecal dan martabak aceh yang mirip telur dadar, tidak ada yang spesial kecuali kopinya. Hanya saja saya salah, ketika melihat endapan gula di dasar gelas, sayapun mengaduknya. Oalah kopinya jadi manis bener, rupanya gula itu tidak perlu diaduk, tetapi dicicipi dahulu. Jika rasanya kurang manis baru diaduk, begitu tips dari Kak Das. Aceh paling enak olahan ikan atau sea food, semuanya segar. Bahkan ikan tongkol goreng tanpa bumbu pun sedap.

Ngopi juga di Kedai Kopi Kuta Alam Banda Aceh, cuma karena sudah malam saya tidak berani minum koip, takut tidak bisa tidur. Jadi hanya memesan teh tarik, teh tariknya mantap. Saya sempat minum kopi ketika seminar dan ngantuk sekali, mungkin karena capek di perjalanan. Ngopi di warung kopi biasa dan kopinya mantap hanya 5000 perak.

12291126_10153851108504729_3161818200226570792_o

Di Banda Aceh tidak ketinggalan kami diajak makan mie Aceh yang letaknya terpencil di Leupung, pengunjungnya ramai. Kami makan mie kepiting. Enak dan tidak terlalu pedas. Rekomen lah mienya. Ngopi menjadi budaya masyarakat Aceh. Ada dhapu kupi buka 24 jam, selebihnya buka sampai tengah malam, atau sampai jam 02:00 dini hari. Hebatnya meskipun begadang paginya bisa subuh dan ke kantor. Warung makan jam 10 malam juga masih ramai pembelinya, seperti warung mie Aceh. Kalau ke Aceh jangan takut kelaparan, jajanan siap sampai malam.

2 thoughts on “Kuliner @Sabang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s