Penantian

Setahun kurang dua hari penantian kami, tepat tanggal 13 Januari 2015 kami membeli tiket pesawat Airasia tujuan Jeddah untuk keberangkatan 13 Januari 2016. Kata Abang, “Nunggu setahun gak terasa lama, tapi nunggu dua hari rasanya lama banget Nda.” Benar banget Bang, perasaan kemarin masih santai-santai aja hanya sedikit galau karena sadar banyak dosa ngeri-ngeri sedap lah. Alhamdulillah urusan visa kelar, urusan yang kecil-kecil tapi krusial kelar, tinggal bagaimana menghadapi jamaah saja, takut tidak mumpuni, takut kurang sabar, takut gak beres kerjaannya dan lain-lain. Umrah kali ini beda dengan yang sebelumnya. Kalau yang sebelumnya segala perintilan yang mengurus pihak travel.

Sekarang yang mengurus koordinator merangkap TL yaitu saya sendiri. Kalau kemaren terima nasib aja dapat hotel dimana, sekarang pilih sendiri, disesuaikan dengan budget jamaah. Koordinator juga buat MOU dengan travel, yang mengisi data, mengumpulkan passport dan siap sedia membantu jamaah jika ada pertanyaan. Titik kritisnya ketika pembuatan manifest yang tidak boleh salah karena akan berpengaruh pada Visa. Ok sampai disini paham, tidak mudah menjadi leader a.k.a pelayan jamaah. Visa keluar tinggal menghadapi jamaah dilapangan dengan berbagai karakter, berangkat.

Bersyukurnya sebagian jamaah adalah keluarga sendiri, juga Mbak Dewi dan keluarganya, alhamdulillah sudah kenal. Selebihnya teman suami dan keluarganya, temanku dikomunitas dan keluarganya. Ini sih benar-benar Umrah keluarga, asik banget. Yang paling senior Eyang, Ibunya Pak Nicko sekitar 71 tahun disusul oleh Uwak, Ibunya Liyus, dan Ibunya Hajrah. Serta peserta termuda adalah Dedek 8 tahun. Sempat terjadi drama di KLIA 2. Dikarenakan saya keluar imigrasi duluan karena Adiq gak mau makan, maunya Texas. Akan tetapi saya masih memegang passport Abang, sehingga Abang tidak bisa keluar tapi langsung transfer. Sempat deg-degan karena komunikasi via WA yang mengandalkan wifi terputus-putus. Terus terang saya panik, panik banget karena kebayang kalau tidak ada mahrom maka kami sekeluarga tidak bisa berangkat. Passport sudah dititipkan ke Abang saya, dengan omelan petugas imigrasi Malaysia karena sudah clear imigrasi tapi masuk lagi. Menurut info Abang saya mereka tidak bertemu. Ya Allah, dag dig dug, pas ketemu wifi terputus, alamak. Ternyata miskom nya cuma di kata-kata transfer. Kalau kata itu disebut diawal tentunya kami tidak panik menunggu. Itu berhasil nelpon ketika antri di imgrasi gambling lah kalau gak antri  bakalan ketinggalan pesawat.

Yang membahagiakan Adiq gak mau Texas, maunya KFC, sampai KFC gak mau makan, maunya tidur karena ngantuk, astaghfirullah. Cobaan sebelum berangkat, antrian imigrasi yang padat membuat lama, sehingga kami harus berlari menuju ruang tunggu, kalau gak panik sih masih bisa nunggu mobil yang seliweran, tapi logika udah tumpul. Ok this is it, besok-besok gak ada deh ceritanya nurutin adik makan, dikasi apa yang ada saja, kalau gak mau ya sudah resikonya dia. Sampai rumah peraturan ini segera berlaku meski dia merengek-rengek minta mie instan. Ayah sedikit galau tapi sudah sepakat selain mie instan masih boleh, asal tidak merepotkan. Pengalaman memang berharga banget.

Perjalanannya pun berlanjut ke Jeddah, sampai di Jeddah pagi jam 07:00 bandara sepi. Kami pun heran kok bisa karena keberangkatan sebelumnya padat, bertepatan dengan libur sekolah di Arab Saudi, bisa antri 6 jam di imigrasi, alhamdulillah rombongan kami lancar. Malah masih berdiri didepan antrian tidak diusir oleh petugasnya, emejing. Sempat deg-degan juga kalau disuruh keluar sementara saya masih antri, walaupun prosedurnya udah jelas tapi kadang diprakteknya suka beda.

Drama kedua adalah bagasi hilang satu, alhamdulillah yang hilang bagasi saya, jadi saya tinggal lapor dan mengikhlaskannya, masih banyak yang lebih penting. Isinya rendang dan teman-temannya juga oleh-oleh yang sejatinya akan dibagikan, yah belum rejeki namanya. Oh iya satu lagi sambel yang paling fenomenal, sambel hantu buatan Uwak belum sempat dicicipi. Alhamdulillah tidak semua makanan disitu, masih ada beras dan sambal instan di tas lain. Jadi cincailah, bayangin kalau baju yang hilang yipeee bakalan beli baju baru saya #eh

Perjalanan dari bandara Jeddah menuju Madinah, berangkat 09:00 sampai di Madinah sebelum Ashar, karena kami sudah men jama’ shalat jadi sempat beres-beres, unpack dan bersiap ke Masjid. Muthawifnya ternyata Imam, muthawif kami yang dua tahun lalu, alhamdulillah. Selanjutnya sayapun menuntaskan kerinduan yang tak berujung, sambil nangis tentunya. Fix saya cengeng, sambil mengetik tetap rindu…..

Bersambung.

 

 

3 thoughts on “Penantian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s