Kuliner

Sama seperti sebelumnya kami memilih paket tanpa catering. Alasan pertama tidak terikat waktu, kedua lebih hemat versi kami. Kami tidak perlu balik ke hotel setelah subuh, bisa nuggu dhuha di masjid. Atau seperti teman saya Liyus dan Ibu, mereka tidak pulang-pulang ke hotel, makan diseputaran Haram saja. Kedua hemat, karena saya membawa makanan kering seperti rendang, dendeng..eh maaf salah itu makanan hilang bersama kopernya. Tersisa teh, kopi, gula, mentega, minyak goreng ukuran 250 ml, saus cabe, sambel sachet, oat dan beras, alhamdulillah beras aman. Sementara adik saya membawa abon, ikan teri, sedikit cabe dan bawang merah. Ini saja sudah cukup karena kami bisa masak dengan travel cooker, adik saya membawa magic com ukuran satu liter. Belanja di minimarket/toko dekat hotel which is lebih mahal dibandingkan supermarket Bindawood. Terbalik dengan di Indonesia, supermarket disana lebih murah dibanding toko kelontong. Untuk membeli sayuran, cabe, minuman dan makanan ringan juga perlengkapan rumah tangga semua ada dan lebih murah di Bindawood. Biasanya masak pagi, makan siang beli, malam bisa beli bisa juga masak, liat sikon saja.

Selama di Madinah saya tidak terlalu banyak jajan, karena stok makanan masih lengkap. paling nyoba nasi ayam yang saya tidak tau namanya modal menunjuk saja. Malam makan kebab yang kurang enak menurut saya, rasanya bumbu masakan India harum banget. Tidak sempat ke Albaik karena bawa Uwak takut dia capek, padahal suka ayam goreng Albaik rasanya unik. Adik saya kadang beli lauk sejenis kari tapi saya tidak makan. Mencari sayur yang sulit disana. Ada sayur okra di bumbuin merah gitu enak juga, adik saya suka harga 5 riyal. Arab Saudi itu tempatnya buah-buahan kualitas bagus, jadi karena saya suka buah jajannya gak jauh dari buah dan es krim. Es krim cuma 3 riyal tapi enak. Kadang sempatnya beli selepas Isya, meskipun dingin tetap beli juga. Madinah cuaca dibulan Januari cukup dingin, tapi apabila tidak fokus dengan cuaca dan tidak komplen maka tidak begitu terasa.

Sementara di Mekah kulinernya lebih beragam dan enak-enak. Ayah sangat suka nasi dengan rasa rempah, jadi untuk dia cukup dikasi uang saja, aman. Adiq mulai berulah cuma makan kentang, ayam alfurooj sama mie instan. Bebas merdeka selama Ibunya tidak ikut campur. Saya paling suka ayam bakar tapi masakan Turki, rasa tidak terlalu berempah, nasinya juga enak. Saya sampai bela-belain beli ke daerah Aseel tempat kami menginap dulu agar dapat ayam panggang yang dibakar di tungku, plus sambel dan saladnya yang daebak… hanya dengan 15 riyal. Bisadimakan 2-3 orang karena porsinya cukup besar. Rumah makannya penuh, dua kali saya kesana dua kali juga penuh. Salad dengan dressing olive oil. Saya karena terbiasa mendengar mereka bisa berbahasa Indonesia sedikit-sedikit jadi latah minta minyak zaitun, lalu mengkoreksi jadi olive oil😀

Makanan dengan menu Indonesia juga banyak, tidak usah kuatir, tapi kami tidak membeli, yah sekali-kali lidahnya diajak selera timur tengah.

Daging kambing diapain gak tau namanya satu porsi 20 riyal tapi bisa dimakan berempat, posisinya di zamzam tower. Saya sih agak bosan makan daging terus, akhirnya beli lemon, bawang bombay yang warna merah, tomat, cabe hijau, dipotong-potong  dicampur ikan teri yang diseduh air panas, lalu dikucurin lemon ah sedap makan laju sekali. Beli telur untuk didadar, atau direbus, harganya kalau tidak salah di minimarket 2 riyal dapat 3 telur. Kalau di Bindawood 6 telur cuma 3,75 riyal. Saya kira mereka tidak punya pecahan logam, ternyata saya dapat logam. Saudi jarang-jarang dapat karena biasa harga bulat 1,2,3 riyal. Sebenarnya saya pengumpul koin, tapi sekarang tidak lagi kalau ketemu saja saya kumpulkan. Pernah disuatu masa Adiq memasukkan beberapa koleksi saya ke dalam kotak infak ketika shalat jumat. Mungkin pas pengumuman penerimaan sumbangan yang menghitung bingung, hihihi.

Setiap hari senin dan kamis di Nabawi disediakan makanan untuk berbuka puasa. Sumbangan dari mahasiswa Universitas Madinah. Setiap haripun selalu ada saja yang membagikan kurma, tapi tidak usah berharap tergantung rejeki masing-masing. Di Haram pun demikian setiap senin dan kamis ada saja yang membagikan roti, kurma dan teh manis. Tidak jarang sekeluarga membawa bekal dari hotel untuk berbuka puasa, seru melihatnya.

Kalau mau repot sih *kata orang* lebih enak masak plus kuliner, bisa makan sesuai kehendak hati dan puas juga merasakan kuliner negara lain. Beda dengan catering, kita disuguhkan makanan Indonesia, alhamdulillah kalau kokinya jago masak. Kalau rasanya standar apa tidak bosan. Untuk Umrah yang menggunakan catering kita bisa menambah     $ 110 lumayan juga kalau berempat. Selama disana pengeluaran saya untuk makan kira-kira 1 juta perorang, sudah termasuk buah, teh susu dan jus/ es krim. Hemat 2 juta jika dibandingkan dengan catering, dengan catatan membawa bekal juga dari Indonesia. Lumayan bisa nambah oleh-oleh jadi banyak.

Untuk Umrah selanjutnya mungkin saya akan tetap pilih kuliner. Akan tetapi jika ada yang sepuh mungkin akan ambil paket makan sekali sehari saja. Kekurangannya adalah kita kalap belanja jadi uang makan dipakai untuk belanja juga, eh itu sih pengalaman pribadi. Save by Abon alhamdulillah. Apapun pilihannya pasti ada kekurangan dan kelebihan masing-masing. Nikmati saja, insyaAllah nikmat.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s