Masjid Menara Kudus

Cita-cita saya ingin menyambangi masjid-masjid bersejarah dan peninggalan 9 wali sebelum usia 40 tahun, alhamdulillah sedikit demi sedikit mulai tercapai. Tiada hentinya saya bersyukur, masih diberi umur untuk menyaksikan sejarah bangkitnya Islam di pulau Jawa. Bangkitnya islam dengan penuh kasih sayang dan toleransi

Masjid pertama yang saya kunjungi adalah Masjid Agung Cirebon dikenal juga dengan nama Masjid Agung Kasepuhan dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Akan tetapi sudah lama sekali saya berkunjung kesini sehingga tidak ada foto-foto, dulu kamera masih analog. Ketika saya kuliah pertama kali nyetir mobil keluar kota yang jauh ke Cirebon/Kuningan PP. Kedua kali ketika sudah menikah Abang berusia 6 bulan, bersama Ibu mertua.

Masjid kedua adalah Masjid Ampel, ini sudah dua kali saya sambangi, keasliannya masih terjaga, jika dibandingkan dari pertama saya berkunjung.

Masjid ketiga adalah Masjid Demak, ini juga kunjungan saya yang kedua, dan saya agak bersedih karena sudah banyak perombakan yang dilakukan. Pertama kali ke Masjid Demak, masjid ini full kayu, sekarang, bahkan lantai untuk tempat shalat wanita menggunakan keramik model sekarang. Buat saya sangat disayangkan karena tidak terjaga keasliannya. Saya kurang paham atas pertimbangan apa sehingga masjidnya menjadi lebih modern. Tapi kesan kharismatiknya sedikit berkurang, menurut saya pribadi ya.

Masjid keempat adalah Masjid Menara Kudus. Alhamdulillah sampai juga kesini, terima kasih ya suamiku sudah mewujudkan impianku. Rasanya tidak percaya kami bisa datang ke masjid ini. Pertama karena posisi kota Kudus yang bukan merupakan jalan lintas jika ingin menyusuri pulau Jawa melalui pantai utara. Sehingga kami yang beberapa tahun sekali menyusuri jawa pun luput untuk singgah di Kudus.

Hari ini, juma’at 25 Maret 2016 kami akhirnya mampir di Kudus. Rencana semula para lelaki akan sholat Jum’at disitu. Akan tetapi karena salah berbelok akhirnya mereka sholat di Masjid Agung Kudus. Hampir pupus harapan saya ketika selesai sholat lokasi masjid Menara kudus lumayan jauh untuk ukuran orang kota jika berjalan kaki diterik matahari. Ya sudahlah mungkin belum rejeki saya, ikhlas saja.

Kami lantas melanjutkan perjalanan menuju Jepara dimana kami juga belum pernah ke Jepara dan sudah berjanji dengan anak-anak akan mengajak mereka ke pantai. Tetiba mengambil arah balik terbaca papan petunjuk bertuliskan Masjid Menara Kudus, dan suami saya membelokkan mobil kesitu. Terus terang saya deg-degan, gimana enggak, sebentar lagi cita-cita saya tercapai. Begitu berbelok tulisannya malah Taman Menara Kudus, aduh kok kesini. Si Ayah langsung menenangkan, bahwa memang lokasinya masuk kedalam parkirnya disini. Aih terharu saya, so sweet banget. Biasanya supir paling malas mampir-mampir jika tujuan utamanya masih jauh, tapi dia alhamdulillah mau mampir, memang rejeki. Dih kenapa jadi lebay gini, gak apa deh biar si Ayah tau istrinya sangat berterima kasih😉

IMG_0975
Masjid dari depan

Kamipun berjalan kaki menuju masjid. Disepanjang perjalanan banyak terdapat penjual souvenir dan peralatan sholat. Pengunjung kala itu cukup ramai, ada beberapa bus rombongan anak sekolah. Begitu sampai kami melakukan sholat tahyatul masjid, mungkin karena terbawa suasana saya mewek, baru kali ini sholat di masjid sambil nangis selain Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Masjid yang lokasinya dibelakang menara terkunci, sehingga kami sholat dipelataran. Selesai sholat saya mengamati bangunan menara yang sangat mirip bangunan pura, seperti bangunan candi yang saya lihat di Trowulan. Menggunakan batu bata merah bersusun rapi, tanpa menggunakan semen sebagai perekat. Kekuatannya tidak diragukan, sampai sekarang masih berdiri kokoh. Dihiasi dengan 32 buah piring keramik berwarna biru. Sunan Kudus yang bernama asli Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan memang mambawa Islam dengan damai tanpa mengesampingkan budaya setempat yang masyarakat dikala itu masih beragama Hindu dan Budha.

IMG_0981
Menara dari halaman dalam Masjid
IMG_0988
Pintu Masuk Masjid
IMG_0990
Pelataran Masjid

Bahkan sampai sekarangpun masyarakat Kudus tidak menyembelih sapi disaat Idul Adha demi menghormati umat Hindu. Kurban sapi digantikan oleh lembu. Kebiasaan ini dimulai sejak Sunan Kudus hijrah ke Kudus. Sunan kudus bukan penduduk asli, beliau berasal dan lahir di Al-Quds negara Palestina. Penentrasi yang dilakukan Sunan Kudus melalui pendekatan budaya membuahkan hasil. Sapi yang dianggap hewan suci oleh umat Hindu ditambatkan di depan masjid, sehingga membuat banyak orang yang penasaran ingin mengetahui lebih dalam ajaran yang dibawa Sunan. Semoga semangat toleransi yang ditularkan oleh Sunan Kudus dapat diteladani oleh generasi selanjutnya. Dilokasi ini juga terdapat makam Sunan Kudus dan disebelah kiri Menara juga terdapat masjid berkubah putih, yang belum sampat saya masuki. InsyaAllah akan ada hari berikutnya dimana kami akan mampir kesini lagi, entah kapan, tergantung rejeki. Aamiin.

One thought on “Masjid Menara Kudus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s