Kuliner @Wonosobo Dan Sekitarnya

IMG_1092
Sebelah kiri Rawa Pening

Minggu, kami sengaja merubah rute pulang melewati lintas tengah, karena saya belum pernah ke Wonosobo dan Tasik. Ayah ikut aja jadilah kami lewat lintas tengah yang sebenarnya lebih jauh dan jalannya relatif sepi. Perkiraan magrib sampai Tasik, nginap sehari di Tasik, besoknya pulang. Melewati Ambarawa, tapi tidak mampir ke Rawa Pening karena sudah pernah, waktu Adiq masih TK kami main kerumah Eyang nya Bude Lia di Banyu Biru. Suasananya desa banget, sepi, tenang, bersih, betah deh kalau cuma tiga hari disitu. Berbahagialah orang-orang yang masih punya Eyang yang tinggal didesa. Sayuran tinggal metik, sungai airnya bening, ayunan dari karet ban bekas, jadi ingat rumah Atu. Jadi kami hanya melambai dan mampir sebentar di Ambarawa cuma untuk makan duren. Lumayanlah durennya manis, puas juga anak-anak makan. Di Ambarawa ada Klengkeng, cuma gak enak sama Big Boss kalau berhenti lagi, dadah-dadah aja sama Klengkeng.

Makan siang kami mampir di Wonosobo, akhirnya kesampean juga main kesini. Makan siang dengan mie Ongklok khas Wonosobo. Sekilas mirip Mie rebus Binjai, mie dikasi kuah kaldu udang dan tepung kanji sehingga kuahnya mengental, ditaburi daun kucai dan irisan kol, rasanya agak manis gurih. Kol di Wonosobo rasanya manis, garing dan segar, enak banget untuk lalapan, tapi rumah masih jauh ya tidak bisa dibawa pulang. Adiq makan Bakso daging sapi asli (tulisannya) enak juga baksonya. Ayah pesan Ayam kremes. Abang pesan bakso juga. Cemilannya tentu saja tempe kemul, nikmat. Tempe ditepungin garing mirip peyek tempe jadinya. Ayah lupa bayar, dia nyomot tempe satu gak bilang, jadi yang dihitung cuma 4 tempenya. Maaf ya Mas/Mbak, ingatnya pas sudah sampai Tasik.

Dari Wonosobo pemandangan yang tersaji gunung dan lembah hijau apik. Ayah baik banget sebentar-sebentar foto pemandangan, dan tentu saja ketika lewat Banjarnegara saya yang setir mampir beli cendol asli Banjarnegara.

IMG_1120

 

Cendolnya warna hitam dari air merang, tapi karena saya suka pandan jadinya cendol pandan hanya 3000 saja, makan di pinggir sawah, sesuatu sekali. Kalau saya di jalan musti kudu wajib kuliner dan ngunyah biar tidak masuk angin *alesan banget deh. Jadi setiap pergi-pergi kita selalu janjian dulu akan mampir-mampir. Alhamdulillah suami istri hobinya sama, jalan!

IMG_1181

IMG_1165

Melewati daerah yang ada kebun salak pondohnya, antara Wonosobo dan Banjarnegara, mampir lagi beli salak, sekalian 3 kg, karena sekilonya cuma 7000 hihihi memang kalau di Jawa uang berharga banget. Si Ibu senang dagangannya tidak ditawar, saya juga senang beli buah-buahan murah. Sempat terfikir ini salak 3 kg mau dikasi siapa aja? Beli dululah toh tidak setiap hari lewat situ menyenangkan si Ibu penjual salak. Rupanya ayah sudah berniat untuk membawa ke kantor.

Perjalanan lewat tengah disuguhi gunung, pohon-pohon dengan jalan hanya cukup untuk dua jalur. Jika mengejar waktu dan kepraktisan, lebih praktis lewat pantura. Lewat selatan juga jalannya tidak terlalu lebar. Ok fix, saya suka lewat pantura lebih hapal seluk beluknya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s