Kuliner @Tasik

Maghrib kami masih jauh dari tasik, meleset dari waktu yang diperkirakan, malam jadinya makan dikaki lima, menjual nasi goreng dan bebek goreng, yang ternyata enak banget saudara-saudara. Meski dikaki lima bebek disedikan lengkap dengan lalapan satu piring, lalu sambel dan nasi uduk didalam bakul. Sukses banget makan malam itu, nasi goreng enak, nasi uduk enak. Adiq sampai hapal nama tempatnya, nasi goreng Suka Rasa. Alhamdulillah. Saya sempat ingin makan di ruko mengingat kebersihan tempat, perjalanan kami juga masih jauh, tapi Ayah sudah keburu pesan, dan tidak salah pilih kaki lima. Sampai sarapan pagi di hotel Harmoni, Adik pingin balik lagi ke kaki lima, persisnya di depan alun-alun kota Majenang. Jiaah sarapan hotel juga lewat rasanya. Saya sarapan bubur ayam dekat masjid Agung Tasik, enak buburnya.

Agak mahal nginap di Tasik hampir 500ribu tapi hotelnya standar banget sarapannya. Secara habis dari Jawa Tengah yang apa-apa serba murah, agak kaget juga ketika di Tasik harga makanan sama dengan di Jakarta. Malah harga rujak (again) 30ribu dengan porsi jumbo bisa buat bertiga. Rujaknya enak di maafkan. Signal saya memang gak bisa jauh-jauh dari rujak deh, dikota mana saja radar rujak selalu nyambung. Bumbu rujaknya menggunakan pisang batu dan buah honje, makannya jadi agak ribet sebentar-sebentar lepehin biji honje. It’s ok lah.

Kayaknya rugi banget deh saya kalau jalan-jalan mentok-mentok beli nasi Padang. Ayah dan Abang makan nasi Padang yang sepertinya cukup terkenal di Tasik, yang beli ramai dan enak saya ngeliatnya (tidak mencoba) nama rumah makannya Citra Bundo. Saya malah makan siang aneka bubur, persisi seperti bulan puasa. Kalau bulan puasa timbangan pasti turun karena tidak seperti orang kebanyakan yang suka jajan, bulan puasa cukup dengan 3 potong risol bikin sendiri dan bergelas-gelas es buah cukup sudah untuk berbuka. Selalu seperti itu, sahur juga seadanya saja. Berat badan kalau puasa pada turun. Jadi lebih baik saya makan bubur sekarang, malah buburnya kuah santan kental mantap deh serasa bikin sendiri, alhamdulillah.

P_20160328_140338

Jangan kaget ya, kalau setiap liburan liputannya seputar kuliner , kesempatan bo’ hahahaha. Eh iya di Tasik banyak banget penjual bakso, setiap tikungan ada, dan menurut teman saya orang Tasik, bakso di Tasik enak.

Rencana ingin ke pengrajin mukena di Tasik, malah berakhir di toko-toko, menyebalkan tukang ojeg bilang mau diantar ke pengrajin. Jadilah saya yang sudah kehilangan keahlian menawar hampir kena harga mahal. Dibandrol harganya 350ribu, waduh saya gak berani nawar, cuma bilang bisa kurang kak? Bisa ternyata tapi cuma sedikit. Ketika saya hendak membayar tiba-tiba saudara teman saya yang pengrajin mukena nelpon, bertanya saya sudah sampai dimana, rencana saya mau mampir ke tempat beliau. Begitu mendengar telpon itu mbak penjual mukena langsung menurunkan harga. Ih kenapa juga ya saya gak langsung pulang saja ketika tau harga lebih mahal dari Thamrin City. Lain kali tidak usah lah mampir beli mukena kalau memang tidak bisa menawar, noted.

2 thoughts on “Kuliner @Tasik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s