Donor Darah

Dari dulu pingin banget bisa donor darah, dari zaman kuliah lah. Apa daya berat badan tidak memenuhi syarat. Setelah beberapa tahun menikah berat badan mulai stabil diatas 45 kg sudah memenuhi syarat dong. Nyali belum terkumpul melihat jarum suntiknya yang gede aja. Jadinya setiap si Ayah donor saya nemenin, sambil bantuin icip-icip mie instan. Sampai dua tahun lalu saya nekat untuk donor, tapi ditolak karena tekanan darah rendah, ini sih memang biasa rendah, gagal. Tahun berikutnya nyoba lagi karena berat badan sudah memenuhi syarat, lalu gagal karena tekanan darah rendah. Tiga bulan berikutnya coba lagi dan alhamdulillah tensi normal dan Hb cukup. Jadilah donor darah untuk pertama kalinya tanggal 2 May 2015. Berjuang mengalahkan jarum suntik dengan sugesti, bahwa suntik meningitis saja tidak sakit kok, ini juga sama saja, sambil membayangkan ukuran jarum yang lebih besar eewww.

Ribut deh diruangan “eksekusi” sampai Adiq yang mengerti ibunya ketakutan, ikutan naik ke kursi sambil memijat kakiku, baiknya. Kalau Abang dengan jailnya merekam kepanikan Ibunya sambil tertawa meledek.

Me:”Mbak saya takut jarum suntik, sabar ya Mbak.”

Petugas :”Oh pertama kali ya tidak apa-apa mbak rileks aja, sakit sedikit paling. Digenggam kuat ya tangannya.”

Mbak petugasnya ngomong sambil menyiapkan perlengkapan dan lain-lain. Makin gak berani saja melihat, sambil berdoa dalam hati.

Me:” Mbak nanti dulu ya, saya persiapan dulu.”

Petugas:”Ok sudah bisa dilepas genggamannya, kalau berasa pegel sesekali buka tutup genggamannya.”

Loh sudah toh segitu aja? Ini sih masuk kategori tidak sakit sama sekali. Keren nih mbak terbiasa ambil darah orang jadi jago. Lalu tiga bulan setelahnya saya kembali donor darah alhamdulillah. Setelah donor yang kedua, kemudian ditolak karena Hb rendah. Ternyata penolakan rasanya lebih sakit dari pada jarum suntik hiks….

Lanjut tiga bulan setelahnya ditolak lagi karena HB rendah, ada konspirasi apa ini sebegitunya aku ditolak dua kali. Kebetulan yang cek Hb orangnya ramah jadi disarankan agar lebih banyak makan sayur dan buah. Ya mas tidak tau sih makanan pokok saya rujak, cemilannya nasi. Duh ditolak lagi. Hb aku 12,4 sedangkan syarat minimal 12,5. Cukup, cukup ini menjadi penolakan terakhir hanya karena 0,1 tidak bisa donor itu pedih. Sempat cerita ke teman dokter, dia gak percaya menurut dia aku sehat tidak mungkin karena Hb. Mungkin ditolak karena berat badan yang dibawah 50 kg tapi petugasnya tidak tega ngomong. Jiaah malah diledek.

Hari Sabtu minggu lalu kembali mencoba peruntungan dengan donor, kali ini hanya sedikit cemas dan banyak kepasrahan akan ditolak. Yup lama-lama  semakin kebal dengan penolakan. Namanya juga hidup ya banyak-banyak bersyukur dan berdoa saja. Hasilnya sangat memuaskan, lulus dengan gemilang, berat badan diatas 50 kg Hb 13,5 tekanan darah 100/70 agak rendah memang tapi sudah terbiasa. Senang bisa makan mie instan setiap 3 bulan sekali hihihi. Sudah beberapa kali mengisi kotak saran agar mengganti mie instan dengan bubur kacang hijau yang lebih sehat, tapi tidak dipenuhi, agak repot mungkin, entahlah. Anak-anak bahagia makan mie instan gak berebutan satu mangkok. Ini foto yang diambil oleh Abang.

Yuk ikutan donor darah, tidak sakit kok karena yang nyuntik sudah profesional. Sekantung darah kita sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan.

Nunggu tes Hb dan tensi
Penantian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s