Curug Nangka

Lebaran tahun ini kami sekeluarga besar mudik ke kampung orang. Menginap disalah satu villa di daerah Sukajadi, Taman Sari, Bogor. Villanya hanya 200m dari pintu masuk ke Curug Nangka. Pagi-pagi sekali kami sudah menyiapkan bekal untuk dibawa  ke Curug, bikin sarapan. Biasanya kalau kena air bawaannya lapar. Saya tidak membawa baju ganti dan kamera, malas bawanya pingin jalan melenggang. Lagipula mengajak adik yang hamil 8 bulan dan ponakan 3 tahun, pasti butuh bantuan.

Dari pintu masuk dikenakan biaya resmi 10.000 rupiah perorang, kondisi normalnya ada dua pintu masuk, cuma karena kami masuk dari halaman villa jadi hanya melewati pintu masuk kedua.  Memasuki kawasan curug disambut oleh jejeran pohon pinus yang bikin nyesel kenapa tadi gak bawa kamera. Ya sudahlah tarik nafas dalam-dalam saja menikmati udara segar yang jarang ditemui di Bekasi. Disepanjang perjalanan terlihat penjual makanan, souvenir dan juga beberapa tenda untuk camping….huhuhu ingat masa lalu.  Ada juga flying fox, dan beberapa rombongan anak muda membawa gitar dan ransel ukuran 60 liter. Fix saya sudah “dewasa” gak kuat manggul ransel sebesar itu.

Tidak jauh berjalan kami sudah menemukan curug yang pertama ditulisannya Curug Nangka. Akan tetapi karena baru pemanasan kamipun melanjutkan ke curug berikutnya tulisannya Curug Kawung. Perjalanan menanjak dengan jalan setapak berupa tangga dari batu. Hanya beberapa lokasi masih tanah dan beberapa kali melintasi jalur air yang bikin gak sabar ingin buru- buru nyemplung. Jalurnya cukup bersahabat untuk mengajak anak-anak, entah dimusim hujan mungkin agak licin. Sepanjang perjalanan disuguhi pepohonan hijau, gemercik air, sesekali melihat monyet bergelayut di dahan. Peaceful.

Rute pendakian disana sini masih terlihat penjual gorengan dan mie instan, cukup menolong bagi pendaki asal sampahnya tidak dibuang sembarangan. Sedih liat sampah bungkusan snack dan cup mie instan. Sesekali bisa diambil tapi masih banyak yang terlewatkan. Kira- kira 20-30 menit berjalan sudah sampai ditujuan, saya tidak terlalu fokus melihat jam, berapa lama kami berjalan, tapi tidak terlalu lama sepertinya. Here we go, disuguhi curug yang tinggi, dengan sedikit orang karena sudah terseleksi sejak di curug pertama, air sejuk,  letakkan tas, byur…langsung nyemplung, gak ingat kalau tidak bawa baju ganti. Agenda wajib foto-foto dulu. Lalu ngemil bakwan goreng yang dijual diatas, bakwan baru mateng dari penggorengan. Memang niat yang jualan, gak perlu takut kelaparan, kalau suka lalapan bisa leluasa memetik lalapan pokpohan tinggal dicuci saja. Diatas juga ada kamar mandi kecil 4 pintu yang cukup bersih. Sayang penjaga menggunakan karbol jadi air pembuangannya bisa merusak lingkungan. Aman, mau mandi sok nyebur, mau ganti baju ada tempatnya, gak bawa baju bisa beli baju yang dijual disitu. Alternatif terakhir biarkan baju kering dibadan seperti saya.

P_20160707_100507P_20160707_094230P_20160707_093240P_20160707_090502

Perjalanan pulang menurun terasa lebih cepat dan ringan. Ketika menemukan rombongan monyet Abang saya membagikan cemilan, ternyata monyet yang tadinya berjumlah hanya 4 ekor tiba-tiba menjadi banyak dan tanpa diduga ada kepala suku yang bertubuh besar menghampiri kami dengan lincahnya. Melompat dari seberang dengan taring dikeluarkan. Saya lumayan panik didepan Adik, dibelakang Sarah lagi hamil gede, menyelamatkan Adik terlebih dahulu karena dia sudah teriak-teriak, sambil berdoa. Alhamdulillah ada monyet dari komunitas lain ikut nimbrung kekomunitas mereka. Sehingga sang Pemimpin kembali ketempat sambil mengusir monyet itu. Huuft…pelajaran, jangan memberikan makanan kepada monyet liar walaupun jarak jauh dan dengan cara dilempar. Dalam hitungan detik mereka bisa segera berkumpul dan mendekat.

Ditengah perjalanan, melihat hamparan tanaman pokpohan kesempatan memetik ciptaan Allah tidak disia-siakan, dapat dua plastik untuk dibawa ke villa. Sampai dibawah kami berpisah ada yang sudah duluan ke villa, ada yang beli souvenir, ada yang masih diatas. Saya berjalan sendiri mengambil rute berbeda dari kedatangan. Melewati dua pos restribusi, menurut Abang saya pos pertama dibuat oleh warga sekitar, yang kedua resmi. Ketika saya keluar pintu masuk pertama, banyak pengendara motor dimintai tarif sebesar 40.000 untuk dua orang. Lumayan juga “tarif lebaran” sepertinya. Lalu ditambah tarif di pos kedua 20.000 lagi. Berarti jalan masuk kami sudah tepat melewati villa sehingga tidak perlu melewati pos pertama.

Meski demikian tidak rugi kok pergi kesana, terbayar dengan pemandangan dan suasananya yang asik. Anak-anak sampai ketagihan, pingin kesana lagi besoknya. Cuma kami yang sudah “dewasa” ini banyak yang menyerah, capek bo’.

P_20160619_143249P_20160707_064639_HDRIMG-20160718-WA0003IMG-20160708-WA0001

Di sekitar villa tempat kami menginap, juga terdapat pabrik susu namanya susu kandang sapi. Pabriknya luas ditanami berbagai pohon buah dan sayuran yang bermanfaat, suasana tenang. Selidik punya selidik ternyata suasana dibuat sedemikian rupa agar sapi tidak stress sehingga kualiatas susu yang dihasilkan juga lebih baik. Menurut penjaganya ada anjing besar dan galak jadi musti hati-hati. Tapi dua kali saya kesitu tidak ada anjing itu, Mama yg pernah lihat katanya memang galak. Jadi tidak bisa masuk sembarangan, harus menunggu penjaga. Juga ada perkebunan anggrek,  yang angreknya hanya dijual di Ragunan tidak boleh beli ditempat, lokasi villa kami dekat dengan highland park resort. Villanya tidak bernama, tapi penduduk sekitar tau kalau pemiliknya Ibu Wita. Bolehlah kapan-kapan nginap disini lagi. InsyaAllah.

One thought on “Curug Nangka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s