Dinamis

Teman lama adalah emas. Yup bener banget, teman lama atau sahabat lama tak peduli seberapa lama kami tidak bertemu, tidak komunikasi. Tapi…jika ada sekian jam dipertemukan maka cerita tidak akan berhenti mengalir dari hal-hal bersifat rahasia sampai hal yang gak penting sekalipun. Seolah ingin mengejar ketinggalan selama kami tidak bertemu. Sering banget mengalami hal ini, masing-masing dari kami menyadari kalau teman lama tidak akan menghakimi untuk kebodohan sebesar apapun yang saya atau dia lakukan. Saya beberapa kali mengalami hal ini ketika tanpa sengaja mendapat kontak teman SMA, dan kebetulan saya sedang ada urusan kearah rumahnya. Seingat saya, kami hanya sempat akrab ditahun pertama sekolah karena begitu penjurusan tiba, kami memilh jurusan yang berbeda. Begitu bertemu, saya sampai kaget kalau dia bisa cerita hal sangat pribadi kepada saya, masalah yang dia hadapi, sampai membuat saya tidak bisa berkata-kata. Pada akhirnya saya mengerti atau mencoba mengaitkan sesuatu bahwa sebagai seorang Ibu Rumah Tangga yang sangat menjaga etika pergaulan, sangat sulit untuk mengeluarkan isi hati kepada orang yang dikatagorikan dekat, baca tetangga. Dia dengan susah payah menjaga hati agar terlihat baik-baik saja, tidak mengeluh, menjalani hidup senormal mungkin. Tapi begitu ketemu teman lama yang belum kadaluarsa mengalirlah cerita-cerita itu, beban-beban dia selama ini. Dan saya merasa bersyukur menyiapkan waktu saya untuk mendengar ceritanya, kebayang kalau seandainya saya mengalami apa yang dia alami wow… woooow…. woooow….. Saya berdoa kedepannya dia kan baik-baik saja, aamiin.

Lain lagi ketika bertemu disalah satu acara saya ketemu teman saya yang orangnya sangat humoris, kami berteman akrab hanya satu tahun menjelang akhir sekolah. Tapi itu intensif, sekolah, les, ketemu terus berenam, sampai akhirnya dipisahkan ketika kuliah. Gantian giliran saya yang cerita tidak ada habisnya sampai dia takjub. Dengan sedikit menyesal dia juga menceritakan kisah-kisah temannya yang luput dari perhatian dia karena kesibukan kerja. Giliran saya dengan semena-mena membully dia dengan kata-kata sombong, sok sibuk, kurang perhatian dan lain-lain saya sampai lupa. Tapi dia menerima dengan senyuman saja, tidak marah. Ya dengan teman yang mengerti kapan kita bercanda, kapan serius, itu menyenangkan. Bahkan dia membandingkan hubungan dia dengan saya, dan dia dengan teman kami yang sama-sama akrab juga katakanlah satu gank *sedaaap. Keluarlah kata-kata diawal tulisan ini. “Begini ya ketemu teman lama, kita bisa menceritakan dan mentertawakan kebodohan kita masing-masing tanpa perlu ditutup-tutupi, tanpa perlu menjaga image. Kalau sama dia semua terlihat sempurna dan baik-baik saja.” Pelajaran hari itu, tidak semua yang “sempurna” itu menyenangkan hehehehe

Cerita ketiga, sahabat terbaik yang pada waktu itu kami sangat-sangat cocok, saling mendukung, bekerjasama bahkan bisa dibilang partner in crime. Akan tetapi dengan berjalannya waktu, terpisah karena kesibukan masing-masing perlahan kebutuhan untuk bertemu itu jauh berkurang. Melihat dia dengan kumpulan teman-temannya, saya dengan gank lawas yang masih kumpul ya, kami memilih jalur berbeda. Ketemu hanya setahun atau 2 tahun sekali itupun hanya kulit luar, tidak bisa berbagi cerita secara mendalam. Pertama saya merasa ini sesuatu yang sangat disayangkan, saya tetap berusaha kontak walau dia terkesan biasa saja. Lama-lama saya merasa hanya saya yang berusaha. Saya pun berubah sikap mengikuti ritme dia.Ternyata itu bukan solusi dan dia menjadi tidak nyaman. Pada pertemuan terakhir beberapa dari kami menyadari bahwa cerita kami dengan dia hanya dimasa lalu, tidak dimasa sekarang. Saya berubah semakin santai, sementara dia berubah semakin eehmm somehow, classy. Ya saya tertinggal, tertinggal jauh. Sampai hari ini saya menyadari bahwa hubungan apapun bentuknya harus diusahakan oleh kedua belah pihak dan tidak ada unsur paksaan. Jika dia merasa saya teman yang tidak sejalan memang sudah waktunya dia mundur, dan sudah waktunya juga saya berhenti berusaha. Terlepas dari banyaknya keseruan, pengalaman dan apa yang kami jalani dimasa lalu. Saat itu kami masih satu frekuensi, tapi sekarang frekuensinya sudah berbeda. Bukan berarti pada saat itu hubungan kami “palsu” bukan, saat itu sangat-sangat menyenangkan, cuma sekarang kami memilih jenis pertemanan yang berbeda. Things change, people too.

Walau bagaimanapun bentuk hubungannya, saya sangat bersyukur mempunyai teman lama yang awet sampai sekarang. Sekian banyak bertemu orang baru pun tidak bisa semendalam pertemanan dengan mereka. Pentingnya saling pengertian dan mengedepankan kebersamaan membuat hubungan lebih awet. Semoga kalian juga mempunyai sahabat lama untuk bertukar cerita suka dan duka.

 

 

2 thoughts on “Dinamis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s