Kuliner Halal @Singapore

17 & 18 September 2016

Short trip to Singapore with my partner in “crime”. Sudah lama sekali janjian mau jalan bareng ke Bogor sama Ayu, iya ke Bogor saja kuliner naik Commuter Line. Tapi ya begitu, kami sesama emak-emak jadi susah nyocokin jadwalnya. Sampai tibalah waktunya rejeki itu datang. Dua tiket PP cgk-sin-cgk, dari Fandiego Travel (FT), jadi ceritanya pas lounching FT si Irfan bagi-bagi tiket gratis ke Kuala Lumpur, Singapore dan Jeddah. Waktu itu sih gak berani bermimpi kalau bakalan dapat doorprize, namanya susah keluar, kalau arisan saja dapatnya hampir terakhir. Kadarullah dapat juga, alhamdulillah.

Itin sih sempat dibuat tapi ya…hhmm karena Ayu first time ngikutin dia ajalah, taunya Ayu malah ngikutin aku. Jadi itinnya kemana kaki melangkah saja. Banyak banget ulasan Singapore di blog orang jadi kita ngulas makanan saja ya sesuai hobi kami berdua, kulineran hehehe.

Pertama kuliner kami mau coba di China Town, susah menemukan logo halal dan terpesona oleh lingkungannya yang rapi dan bersih jadi lupa niat awal. Malah sibuk foto-foto aish. Pertama saya kurang tertarik ke China Town karena yang terbayang Petak 9, pernah kesitu waktu nyari barang buat toko and saya nyerah karena bau dupa eh hio ya…pokoknya itulah yang kaya lidi dibakar. Cuma kali ini sayang saja kalau di skip, ternyata beda banget China Townnya apik, selain pernak-pernik oleh-oleh banyak juga penjualan obat herbal, teh, segala macem deh. Sempat membeli beberapa souvenir yang cukup murah dibanding beli di tempat lain. Kuliner gagal, malah beli mie instan rasa tom yam di sevel hehehe. Padahal ayu sudah tergoda dengan berbagai hidangan disitu, kalau saya tergoda untuk mengambil foto, sudah tidak ingat makan.

 

Kedua, kuliner didepan masjid Sultan, restoran zamzam. Saya  pesan martabak ukuran medium. Begitu datang kaget ini sih ukuran besar buat berdua juga belum tentu habis. Isinya dominasi daging bukan daun bawang apalagi telor beda lah dengan martabak Yanto. Saya pesan mutton, rasa bumbunya pas dan dagingnya banyak. Karena saya bukan meat lover dan biasa makan martabak berebut sama anak-anak, kali ini kurang seru martabak seporsi dimakan sendiri. Ayu nyerah karena dia pesan mie goreng isinya daging ada kali 1/4 kg dikasi taburan mie sebagai garnish. Sebagai emak-emak sejati saya bungkus martabak, lengkap dengan kuah karinya, untuk makan siang di Hotel. Ketika membayar hanya $6  saja. Mie gorengnya ayu $7 worth the price la… Loh itu harga martabak small size, ealah jadi yang gede itu sejatinya adalah small, lain kali pesannya ukuran xs yak. Makanan disini enak-enak, saya pernah coba nasi briyani, kari udang, baiknya untuk makan siang atau makan malam, kalau untuk sarapan akan terkaget-kaget dengan porsinya bagi yang tidak terbiasa sarapan. Ayu bilang juga enak, apalagi sambil memandangi lalu lintas pagi yang tidak begitu ramai, melihat orang-orang mampir beli kopi dingin, berasa beda, alhamdulillah.

Ketiga, kuliner di daerah Geylang Serai atas rekomendasi Pak Cik Raja, yang katanya hanya 10 minit walk dari MRT Paya Lebar. Ok jangan percaya yah kalau Singaporian bilang 10 minit walk berarti itu 15-20 menit ukuran orang Indonesia apalagi kalau plus bawa koper dan selfie bisa lebih lama. Menurut Pak Cik, Geylang Serai adalah tempat komunitas Melayu di Singapore di komplek Joo Chiat (baca Ju Chat). Saya sempat ragu mendengar kata Geylang, ternyata beda toh.  Geylang Serai Food Court, biasanya paling ramai ketika Ramadhan, tapi tidak ada salahnya mencoba. Ternyata oh ternyata sudah 10 minit belum ketemu juga, malah ketemu Mbak Yuli, WNI yang kerja di sana. Atas rekomendasi Mbak Yuli disarankan ke Mall saja banyak makanan Halal. Okelah  ke Mall didepan mata saja, lupa nama mall nya dan pilihan jatuh ke restoran Qi Ji setelah memastikan ada sertifikasi Halal. Saya pesan Laksa Prawn sedang Ayu memilih kebab eh Sopiah, keliatannya seperti kebab. Isinya daging dan sayur dibungkus kulit lumpia😀 Ayu bilang dia sudah pernah makan laksa Singapore di Ah Mei, jadi dia tidak begitu tertarik, malah dia mendeskripsikan Laksa Betawi yang menurut dia enak banget. Begitu aku sampaikan kalau aku belum pernah makan laksa dia bengong, tidak percaya. Sama aku juga gak percaya beberapa tahun tinggal di Condet dan sering bolak balik ke Bogor belum pernah nyobain laksa. Terlaluh.

Oh iya pernah liat kan alat bulat yang ada lampunya, seperti di film-film itu, ketika pesanan selesai, maka alatnya bergetar dan lampunya menyala. Saya tertarik untuk mengamati tetapi tidak sempat keburu pesanannya datang. Maklum ya up town girl. Laksa datang, dan mencicipi enak banget segar rasanya, udangnya apalagi medium size dan ketauan banget masih fresh ketika dimasak. Isinya hhmm potongan sesuatu yang saya kurang paham tapi rasanya enak, mie, toge, udang 4 ekor ukuran sedang, telur setengah, disiram kuah santan, daun ketumbar dan sedikit sambal. Sopiah yang Ayu pesan tidak jadi dimakan, take away dan dipesawat ketika Ayu makan dia bilang enak, tapi saya tidak mencoba karena sudah kenyang. Jadi lumayan sukseslah kuliner kita.

Selingannya kami cuma beli aneka minuman dingin, salah satunya wheat grass juice, the healthiest drink in the world, cadas. Belum tau dia zamzam lebih okeh. Rasanya mirip rumput, sesuai judulnya, secara saya belum pernah makan rumput jadi cuma ngarang saja. Lalu es krim walls dipinggir jalan, saya suka rasa Yam, yang sudah dipastikan enak, kedua kali saya beli rasa strawberry yang bisa diprediksi rasanya cuma lebih dominan rasa susu. Saran saya coba rasa yam, mocha dan mint chocolate, itu enak. Sempat ada adegan Ayu kebingungan ditawarin stow, saya yang nahan tertawa malah nyebut, itu loh yu, strawberry -sambil memperagakan orang minum pakai sedotan-  makin absurd. Akhirnya beneran ketawa berdua. Kata pertama buat Ayu, Stow = straw. Pelajaran pertama buat Ayu, pintar-pintarlah menterjemahkan kata di Singapore.

Kami yang berniat berburu buah, ketemunya malah buah lokal seperti manggis, klengkeng, rambutan, duku, sunkist, jeruk Bali, ya itu sih di Jakarta juga banyak. Melewati stand durian, pingin coba juga durian Musang King cuma $2. Teringat cerita Tok Dalang kalau durian Musang King itu rasanya biasa saja. Berhenti di depan stand durian, mau beli yang Musang King tapi ragu, niatnya cuma menghabiskan koin saja karena kami bingung nominal koinnya. Lebih parah karena jika traveling saya membawa dompet andalan, dompet biru CHANEL beli di pasar Senen *bisa disimpulkan sendiri. Disitu isinya koin campur sgd, ringgit, bath, riyal yang memang tidak pernah saya keluarkan,  malah jadi makin bingung. Kata yang jual duren eh durian beli yang super saja $6, padahal ditulisannya $8 mungkin karena masih pagi dan kami kucel belum mandi membuat Mas’e terharu. Kita yang heboh milih-milih koin, si Mas’e nurunin harga lagi jadi S5, itupun koinnya  Ayu masih kurang 3 cent. Aku pikir semakin lama kami memilih koin semakin turun harganya, ternyata tetap ditambah dengan koinku $1 *modus . Di MRT itu harum durian rada semerbak, bikin ngiler, sama Ayu dimasukan ke dalam tas. Sampai di hotel disantap memang top duriannya, beda dengan durian montong yang cuma manis, ini ada legitnya juga dan bijinya kecil, weizz mantap gak nyesel beli jatuhnya murah. Rejeki emak-emak modis *modal diskon. Jadi kalau beli durian, beli saja yang mahal (tapi diskon) dijamin enak,  lupa nanya nama duriannya apa. Segitu saja ulasan kuliner kali ini, sampai bertemu di Jepang ya *ini doa* aamiin.

 

2 thoughts on “Kuliner Halal @Singapore

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s