Wajar?

Pernah membaca di timeline seorang pedagang makanan yang mengeluh jika ada yang meminta resep dagangannya. Karena dia telah berusaha trial and error sehingga menghasilkan makanan yang layak dijual. Tidak etis jika dibagikan cuma-cuma. Wajar.
Yang tidak wajar justru sahabat saya, ketika saya main kerumahnya dan diskusi mengenai dagangannya sebaiknya dipasarkan seperti apa, logo, kemasan dan lain sebagainya. Sambil ngobrol dia malah menunjukkan resepnya kepada saya. Bentuknya kertas hvs tulisan tangan yang dilaminating lengkap dengan ukuran bahan-bahan dalam takaran gramnya. Saya panik, gimana tidak, disatu sisi saya bisa buat makanan itu versi saya, disisi lain saya penasaran apakah resep saya sudah benar. Jadilah saya menolak membaca secara detail karena saya paham untuk mendapatkan resep itu dia butuh belajar kepada ahlinya, praktek, membayar biaya kursus dan naik pesawat pula. Kenapa saya menolak karena saya takut saya hapal rinciannya, kalau bahannya memang sudah hapal. Jadi kertas itu hanya saya pegang dan lihat sekilas dan mengembalikan ke tempatnya, lalu kami melanjutkan ngobrol.
Pulang dari rumahnya saya berfikir, kok bisa ya dengan semudah itu memberikan resep kepada saya, apa gak takut saya bikin sendiri, seandainya pun saya tidak jualan, paling tidak saya bisa membuat untuk konsumsi pribadi. Berkurang dong pelanggan tetapnya yang bawel. Bisa saja resep itu saya “jual“ kepada orang lain.Ternyata kejadian seperti ini bukan sekali dua kali dalam kehidupan saya.
Tukang bakso yang berdagang di komplek saya, ketika saya pertama kali membeli bakso dan ngobrol. Saya malah mendapat kursus singkat cara membuat bakso, milih daging, belinya dimana, plus resep sambel yang enak *sudah dipraktekkan. Sekarang abangnya tidak jualan lagi karena dia tidak mau mengurangi kualitas sementara bahan bakunya mahal.
Juga dengan dokter gigi, yang baru 2-3 kali saya sambangi, ketika gigi saya sakit dan dia tidak bisa menemukan akar masalahnya, dia menyerah. Lalu meminta izin untuk meminjam hasil ronsen saya untuk dibawa ke temannya dokter gigi yang ahli bedah. Well biasanya dokter cuma menyarankan ke rekannya spesialis bedah gigi. Alasan dia sederhana, dia penasaran dan agar saya tidak keluar terlalu banyak biaya pindah-pindah dokter gigi. Karena saya cerita sudah pindah ke 3 dokter gigi tapi belum ketemu masalahnya.
Mirip kejadiannya dengan ahli akupuntur yang selalu mengratiskan saya setiap kali melakukan tindakan. Alasannya sederhana harga jarumnya murah kok, ilmunya yang mahal, tidak butuh effort yang besar hanya menusukan jarum.
 Juga dengan teman dokter, cuma menunjukkan foto hasil lab bisa konsultasi via WA. Bisa dikasi resep sekalian hehehe.
Juga dengan teman pengacara, konsultasi gratis.
Juga dengan saudara notaris, konsultasi gratis.
Juga dengan teman pakar ekonomi syariah, konsultasi gratis.
Juga dengan pakar self healing, belajar gratis.
Juga dengan teman psikolog, konsultasi gratis
Dan masih banyak gratis-gratisan lainnya.
Sampai saya menyimpulkan sendiri bahwa orang-orang ini sadar ilmu harus dibagikan agar semakin bertambah, semakin berilmu semakin banyak sedekahnya, memberi gratis disini dapat yang lebih besar disana, tidak membatasi rejeki hanya dari nominal. Khusus sahabat saya, dia tidak takut akan muncul saingan baru dan mungkin lebih baik dengan modal lebih besar. Dia sudah melampaui ketakutan itu. Dia paham bukan bersaing tapi bersinergi, dia yakin akan hakikat rejeki yang tidak tertukar.
Dan rejeki saya adalah dipertemukan dengan orang-orang yang hebat dan suka berbagi, alhamdulillah.

2 thoughts on “Wajar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s