Baca dan Pahami

Lagi iseng baca-baca group WA sambil melakukan tugas negara *nyetrika. Agar pekerjaannya tidak terasa membosankan. Benar tidak bosan tapi terbengkalai juga karena malah fokus di WA Group. Salah satu teman yang tinggal di luar negeri pamit, mau tutup toko katanya. Padahal saat itu tengah membahas urusan rokok. Topik yang kurang menarik menurut saya, tetapi ketika dia mengirimkan foto stok rokoknya di balik layar monitor tertulis :

img-20161005-wa0005_1_1

Saya yang terbiasa gagal fokus malah tertarik dengan tulisan tersebut. Bertanya apa sebenarnya yang dia jual. Ternyata dia menjual jasa perbaikan kunci dan remote mobil. Baru tau saya ada penyedia jasa itu. Dari jasa yang dia tawarkan terbantahlah bahwa konsumen adalah raja. Keren banget, jika selama ini stigma bahwa konsumen bisa sesuka dia bak raja, di perusahaan temanku konsumen wajib ikut aturan main yang dia buat. Take it or leave it.

Jadi ingat beberapa waktu lalu ketika saya menjual mukena secara semi online. Pesanan bisa melalui WA atau BBM. Terkadang dipagi buta sudah banyak BBM masuk, jika tidak dijawab maka di ping berkali-kali. Hey, ini belum jam buka toko loh. Menjawab WABBM pun berurutan dari yang pertama kali masuk terlebih dahulu alias dari bawah. Itu aturan main saya. Begitu melihat kita online, mereka malah ngirim pesan ulang sehingga semakin lama saja dibalasnya. Konsumen adalah raja, tapi tetap saja Raja kalau bertamu kekerajaan tetangga harus mengikuti aturan main yang ada.

Jika kita punya aturan, maka komplennya sia-sia. Saya juga punya supplier dan saya mengikuti aturan supplier. Di negeri yang penuh drama ini memang orang terzalimi banyak banget simpatisannya, jadi terkadang penjual mengesampingkan urusan dia sendiri demi service yang bagus.

Kelemahan kita warga negara Indonesia tercinta adalah malas membaca. Coba deh ketika sign up sesuatu baik itu medsos, e-mail dll, pernahkah kita membaca term and condition sampai selesai, baru klik tombol accept? Yang baca ngacung! Satu, dua, tiga…… ya cuma 3 dari seratus orang, survey tidak valid😀.

Pesan alm. Nenek saya, jangan pernah menandatangani sesuatu jika belum dibaca dan dipahami, kebetulan nenek saya kerja di bidang hukum. Karena bisa jadi bumerang buat kita. Pengalaman saya ketika akad kredit rumah, itu point-point yang tebalnya berlembar-lembar saya baca satu demi satu. Sampai ketemu point bahwa meskipun cicilan flat apabila terjadi huru hara bla bla bla …. maka akan mengikuti suku bunga saat itu. Wew…ketika saya tanyakan point ini pegawainya agak susah menjawab/ngelesnya. Cuma memberi contoh ketika krismon tahun 1998 naiknya cuma sekitar 5% kok tidak banyak. Baiklah 5 persen dari pokok hutang  sedikit kok sedikit hahahahha. Lucunya lagi mereka, pegawai bank, terkesan tidak sabar menunggu saya membaca sambil mengatakan:

P.B : “Poinnya mirip-mirip kok Bu dengan akad kredit rumah pada umumnya.”

Me :”Oh maaf, ini baru pertama saya akad kredit, jadi saya musti baca dan pahami isi kontraknya terlebih dahulu baru saya tanda tangan.”

Begitulah nasib kreditor, yang notabena pembeli. Ya pada dasaranya kita semua juga konsumen yang ingin dilayani dengan baik. Pengalaman next time beli apa-apa usahakan cash, karena sistem kredit itu tidak berpihak kepada konsumen, bunganya tinggi sekali. Itu perjanjiannya masih mudah dipahami karena dalam bahasa Indonesia. Bagaimana dengan perjanjian yang menggunakan bahasa Inggris dengan bahasa hukum yang berlaku di negara mereka, wassalam. Mulai hari ini biasakan membaca dan memahami sebelum menandatangani sesuatu agar tidak terjebak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s