Senggigi

Part 1
Banyak banget hal menarik yang dialami ketika berwisata ke Lombok kemarin, seru banget dan tidak rugi ketika saya dan adik memutuskan berangkat lebih dulu dan pulang belakangan, abis gimana Lombok itu destinasi wisata kami yang sudah lama belum terlaksana, alasannya klise, tiket mahal. Untuk normalnya sekitar 1,8 – 2 juta itu Garuda atau Batik air. Kesempatan kali ini tidak saya sia-siakan dimana anak sudah mulai besar sukanya main jadi sudah bisa ditinggal. Kebetulan Abang dan Kakak dari Surabaya juga ke Jakarta ada acara jadi diminta titip anak-anak. Makasi.

Ketika mbak Riris menawarkan untuk join dengan mereka wisata bisnis ke Lombok saya antusias sekali, wisata sambil belajar bisnis dari mentor-mentor yang sudah lebih dulu terjun kedunia usaha itu kesempatan langka. Alhamdulillah bisa kenal dengan Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang funky, benar-benar menambah wawasan. Semoga tetap terjalin silaturahimnya.

Hari pertama saya dan adik begitu tiba di Lombok naik damri dengan ongkos 25.000 idr, langsung kopdar dengan teman lama yang sudah lama bertegur sapa lewat medsos, sambutan yang hangat seperti kebiasaan orang Lombok pada umumnya yaitu disuguhi kopi plus pisang goreng, serta makan siang ikan hasil tangkapan mereka sehari sebelumnya. Itu ikan yummy sekaleee… cuma dibakar dengan bumbu garam dan air jeruk nipis plus sambal khas lombok …aiih sedapnya. Bukan hanya hidangan yang sedap, lebih sedap lagi sambutan hangat tuan rumah yang sangat berkesan, terima kasih om Duta, dik Feni dan Langit.

Perut kenyang, hati senang, langsung cus menuju Senggigi dimana saya sudah booking homestay. Diperjalanan kami mampir dipusat oleh-oleh atas rekomendasi Duta yang harganya cukup murah, akan tetapi jenisnya tidak terlalu banyak variasinya. Dodol rumput laut yang menjadi pilihan, beberapa kali sering dibawakan oleh teman saya suka karena tidak terlalu manis seperti dodol pada umumnya. Bisa dibilang agar-agar kali ya dalam bentuk padat. Sampai di Senggigi sempat nyasar, karena kami menggunakan gmap, tapi kok tidak terditeksi, terlewat lah. Rupanya letak homestay didalam gang kecil persis dibelakang Hotel Aruna yang keren banget itu. Kekurangan homestay itu cuma dua, masuk gang, dan tidak menggunakan AC. Dimana menurut saya keduanya tidak masalah karena cuaca juga bersahabat, jadi kamipun tidak menghidupkan kipas angin.

Setibanya di Homestay kami disambut seorang anak kecil kira-kira sepantaran anak saya yang kecil namanya Angga, dia cekatan sekali membersihkan kamar, mengganti sepre bersama Om nya. Homestay itu milik keluarga Angga dan dia terbiasa membantu, Ayah Ibunya keren banget anak kelas 6 SD sudah mandiri, salut sama orang tuanya. Malam setelah main ke pantai yang jaraknya sekitar 250m dari penginapan kami makan Ayam Taliwang, sambil ngobrol-ngobrol seru direstoran pinggir jalan. Berasa banget liburannya, Senggigi mirip Legian dengan tingkat keramaian 20% dibanding Legian, nyaman sekali. Pulang ke homestay biasanya saya suka ngobrol-ngobrol dengan tamu yang lain yang tapi karena malam sebelumnya saya begadang dan pertimbangan adik saya merokok, bakalan pusing ini kepala kalau join sama mereka, saya putuskan tidur, dan benar saja sampai subuh saya pulas, karena suasana homestay yang nyaman, bersih dan tenang.

Paginya saya baru dengar cerita dari Benny bahwa pemilik homestay heran, kenapa kami mau tinggal disitu, kebanyakan turis lokal begitu melihat lokasinya mereka urung menginap karena suasananya yang tenang dan akses juga tidak bisa dilalui mobil. Eh mereka belum tau ya saya seleranya internasional mirip-mirip bule dan pakle gituu deh😀
Paginya sepulang dari pantai, giliran saya ngobrol sama Ibu pemilik homestay yang orang Makassar, diapun melontarkan hal yang sama kok tumben wisatawan lokal mau nginap disitu. Ini yang saya suka dari homestay, ngobrolnya itu, jadi bisa tau Lombok dari orang lokal. Sarapannya terdiri dari roti bakar dan potongan buah. Semangka kuning dan nanas khas lombok yang manis. Seru, jika ada kesempatan bolehlah nginap disitu lagi, cuma sayangnya Senggigi hanya menawarkan pantai yang tenang tidak lebih, jadi sehari saja cukuplah, tidak banyak yang bisa dilakukan disana.

4 thoughts on “Senggigi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s