Desa Sade, Desa Tenun Sukarara, Tanjung Aan, dan Pantai Kuta

Hari ke 4

Hari ini rombogan akan pulang hanya tersisa saya dan Benny baru besok malam pulang dan ambil penerbangan malam biar puas.

Rute hari ini adalah desa Sasak Sade, lalu Tanjung Aan, Pantai Kuta, dan bandara.

Destinasi pertama desa Sade, perjalanan sekitar 2 jam dari Mataram disambut oleh guide dari desa itu. Menggunakan pakaian adat Lombok, kami diperkenalkan akan budaya Lombok dimana mereka tinggal disitu beranak pinak sekitar 500 kepala keluarga tinggal disitu. Saya lupa entah sudah berapa generasi mereka disitu. Mata pencaharian utama bertani dan perempuan menenun. Anak perempuan sudah diajarkan menenun sejak usia 8 tahun. Salah satu syarat anak perempuan bisa dinikahkan apabila sudah mahir menenun.

Saya sempat melihat alat tenunnya dan Anggie diajarkan cara menenun, posisi kaki menjulur kedepan, lalu bagian bandan yang belakang diikat dengan kayu. Dalam menentukan pola kemahiran berhitung juga diutamakan. Kebetulan anak kecil itu sedang menenun motif Rang Rang tidak terlalu sulit. Walaupun demikian hanya untuk memantaskan sebuah benang saja memakan waktu cukup lama jika belum terbiasa. Bisa- bisa motifnya meleset. Membayangkan menenun satu kain saja saya lelah. Jangan terlalu sadis kalau menawar ibu-ibu, itu mata pencaharian mereka, dan bikinnya rumit.

Rumah adat suku Sasak memiliki pintu yang rendah sehingga ketika akan masuk kita otomatis menunduk. Ternyata design pintu lebih rendah sengaja dibuat untuk menghormati tuan rumah. Rumahnya berdinding bilik dan beratap ilalang. Mereka membersihkan lantai menggunakan kotoran kerbau guna menghalau datangnya serangga seperti nyamuk.Melihat kesederhaaan disini sempat membuat sebagian rombongan merasa kalau hidup di Jakarta terlalu banyak tuntutan. Tidak seperti mereka hidup sederhana berkelompok dan saling membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Puas berkeliling dan berfoto kami melanjutkan ke tempat menenun Desa Sukarara (dibaca Sukarare). Sesampainya ditempat menenun sebagian rombongan merasa lapar sehingga mereka sibuk membeli siomay yang dijual dengan sepeda, juga ada rujak. Saya sendiri sudah lapar tapi rasa penasaran mengalahkan rasa lapar. Sedang asik memperhatikan dua orang nenek menenun tiba-tiba dari dalam toko pegawainya langsung memakaikan baju adat Lombok. Saya dan Anggie  pasrah saja dipakaikan baju karena menyangka itu bagian dari service mereka, mbak Riris dan yang lain sibuk ngemil. Mengenakan baju adat kami pun berfoto dirumah Adat Lombok. Puas foto-foto dengan rasa terima kasih saya membeli hasil tenun berupa pasmina dengan harga 100 ribu rupiah tanpa menawar. Motifnya sederhana saja hanya berupa garis, Mereka bilang itu motif untuk pemula, ya sudahlah warnanya saya suka hitam, itu saja.

Bergabung dengan teman-teman yang lain ikut ngemil siomay. Lumayan rasa ikannya berasa, awas aja kalau tidak ini kan Lombok banyak ikan dan murah hehehe. Perjalanan kami lanjutkan ke Tanjung Aan, sebelumnya Jejay mampir di tempat penjual Nasi Balap Puyung, salah satu makanan khas Lombok. Nasi dengan sayur buncis diiris, ayam goreng, ayam dimasak pedas,dan  kacang kedelai goreng dikemas dalam box. Cocok untuk dimakan di Tanjung Aan plus air kelapa tentunya. Benar saja begitu sampai di tepi pantai Tanjung Aan semua langsung cari posisi di dalam saung membuka makanan dan sibuk menikmati makanan masing-masing. Nasi dalam porsi kecil yang pas, sepotong ayam goreng, ayam suwir berbumbu pedas khas Lombok, tumis kacang buncis dan taburan kacang kedelai goreng ajib deh. Itu ayam pedasnya enak banget tapi ternyata saya sari awan gegara menghabiskan keripik kentang berbumbu dalam ukuran besar. Saya beli karena berniat berbagi, ternyata tidak ada yang tertarik. Langsung deh besoknya sariawan. Semua makanan yang tadinya pedas saja menjadi pedas banget. Sampai keluar air mata, hingga saya urung memakan ayam suwirnya. Ini sih bertanda harus balik lagi ke Lombok 😉

Di pantai Tanjung Aan karena siang hari cukup terik, kami tidak menjelajah tempat, hanya menginjakkan kaki di pasir berbulir-bulir seperti merica khas pantai ini. Kalaulah dijadikan kartu pos pasti keren banget pemandangannya. Di bagian pantai sebelah kiri bukit banyak perahu layar parkir menambah dramatis. Hebatnya pantai itu dipisahkan oleh sebuah bukit, disisi kiri bukit pantai dengan pasir berbulir disebelah kanan bukit pantai dengan pasir halus. Hanya ada di Lombok you should visit Lombok once in life time. Kalau saya sih belum cukup sekali ke Lombok. Puas menikmati pantai kamipun mulai sibuk foto-foto pengarah gaya Fery dengan kamera canggihnya. Biasanya foto saya tidak banyak, kali ini berbagai pose dengan arahan Fery. Thanks ya Fer. Benny yang jarang berfoto pun ikut-ikutan gaya dan lumayan bagus. Terhalang teriknya cuaca membuat kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Kuta.

Pantai kuta beda lagi pemandangannya, pantai dengan bebatuan karang. Tetiba saya kehilangan kata-kata untuk melukiskannya. Liat foto saja ya, itupun kalau masih ada hehehe.

IMG-20161102-WA0025

 

One thought on “Desa Sade, Desa Tenun Sukarara, Tanjung Aan, dan Pantai Kuta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s