Menjaga AKAD

Hari pertama memantau dari ketinggian akan kemana saja esok harinya. Kami memutuskan jalan-jalan diseputar penginapan. Terlihat bangunan seperti design masjid, ketika di dekati ternyata catedral kamipun hanya melihat-lihat dari luar. Sampailah pada salah satu gang kecil disampingnya. Ternyata disitu berjejer toko souvenir penjualnya dari timur tengah dan sekitarnya. Keluar masuk toko untuk sekedar survey, cuci mata apalah namanya. Sampai mata tertuju pada salah satu toko yang menjual tempat lampu design klasik yang mengemaskan. Tapi saya sadar TDL naik buat apa menambah lampu dirumah (ngeles aje). Cukup sekedar mengagumi dan foto biar dikirain belanja.
Puas memandangi lampu mata beralih ke magnet kulkas yang memang designnya unik, beda dengan toko lainnya yang sudah saya susuri. Pilah-pilih magnet kulkas tiba-tiba penjualnya datang yang belakangan saya tau namanya lutfi.

Lutfi : “Foto disini untuk kamu bayar 2 euro, karena pakai jilbab, teman kamu 5 euro karena tidak pakai.”
Saya :”Bagaimana kalau 1 euro saja buat saya?”
Lutfi : “No…no…no… tetap 2 euro kamu dari mana? Malaysia?
Saya : “Bukan dari Indonesia.”
Lutfi : “Saya hanya bercanda it’s free…

Lanjut saya pilih-pilih magnet kulkas dengan seksama dan penuh pertimbangan mengingat harganya diatas rata-rata magnet kulkas lain, karena ada yang hand made dari kayu.
Lutfi :”Saya suka jilbab kamu, kamu masih punya jilbab lain di hotel”
Saya :”Banyak dong…*sombong”
Lutfi :”Boleh tidak saya minta satu untuk adik saya?”
Saya :”Boleh saja, insyaAllah saya nanti balik lagi kesini ya.”
Lutfi :”Terima kasih, nanti saya doakan kamu.”
Saya :”Saya tidak berharap apa-apa karena saya memberinya dengan ikhlas, tapi kalau kamu mau mendoakan saya, alhamdulillah.”

Duh alamat tidak jadi nih beli magnet kulkas takut di gratisin (Gede Rasa maksimal). Tidak balik modal dia kalau gratisin magnet kulkas 2, sementara harga jilbab saya cuma 3 euro dan second pulak. Lalu saya beragumen dengan Ika, saran Ika beli sekarang aja daripada nanti setelah memberi malah di gratisin. Lalu saya bilang enggak ah nanti kalau beli sekarang malah digratisin karena berharap akan dikasi jilbab. Dilema banget deh karena memang suka dengan design magnetnya dan ditoko lain tidak ada. Tidak ada kata sepakat, kamipun memutuskan pulang ke hotel saja tanpa membeli, setelah Lutfi memberikan kartu namanya. Urusan rejeki nanti gimana terserah pemilik rejekilah yang penting saya tidak mau gratis, *masih aja GR.

Balik ke hotel bongkar-bongkar jilbab ternyata setelah diperhatikan satu-satu yang masih layak pakai memang yang warna biru ini. Sombong sih, tadi ngaku-ngaku banyak. Tanpa pikir panjang langsung dicuci dan dikeringkan pakai hairdryer. Dibungkus dengan tas belanja dari kertas, agak cemas semoga jilbab ini masih layak pakai.
Sampai di tokonya Lutfi yang menjaga berbeda, lalu saya bertanya Lutfi kemana, dan mejelaskan maksud kedatangan saya sambil bilang saya titip ya buat Lutfi. Penjaganya tidak mau terima malah mengantar saya ke toko lain tempat Lutfi berada.

Lutfi:”Hai…you are back… terima kasih ya, mohon maaf saya masih bingung apakah saya akan memberikan jilbab ini untuk adik saya atau untuk ibu saya? Kamu tidak keberatan kan?”
Jleb…..Keren ini orang menjaga akad.

Saya: ‘Aku hanya memberikan jilbab ini buat kamu, nantinya akan kamu berikan ke siapapun itu sudah menjadi hak kamu.” Yah ni Babang harusnya bilang dong kalau ada dua kandidat saya rela deh ngasi dua, di Thamcit murah kok jilbab.

Setelah mengajari cara menggunakannya, saya pamit diiringi dengan senyuman lebar, janji akan mendoakan dan rasa syukur yang menurut saya berlebihan. Cuma bisa kasi jilbab second yang biasa tapi penghargaannya besar sekali. Hola…..Hola Afi, yang selalu merasa kekurangan jilbab, di Indonesia jilbab murah, aneka model, masih juga merasa kurang? Kapan bersyukurnya………? Lalu apa salahnya diberikan sesuatu biasa-biasa saja diterima dengan penuh rasa syukur? Jleb moment kedua.

Kembali ke toko awal dengan perasaan campur aduk, plus senang karena Lutfi tidak menjaga toko itu. Ambil dua magnet, ketika dikasir mata melirik ke arah yang handmade dari kayu itu, tak mau lepas dari padangan. Sudahlah beli saja tinggal bayar, pak Suami juga tidak ada…ampun Bang *sungkem 😀
Ketika membayar liat struknya cuma 3 euro untuk 3 magnet kulkas.
Saya: “Kamu tidak salah ini saya beli 3 dan satu lagi ambilnya dari situ loh (deretan yang beda harga maksudnya).
Dia: “Iya tidak apa-apa, itu untuk jilbab.”
Saya: “Loh jangan begitu kamu kan dagang, saya akan beli dengan harga wajar, kalau jilbab tadi saya kasi dengan sepenuh hati.”
Note: bacanya sambil membayangkan bahasa Inggris saya yang seadanya, lalu dibantu dengan gerak tubuh ya. :p
Dia: “Kalau kamu ikhlas, saya juga ikhlas kasi kamu dengan harga segitu, it’s ok.”
Maka berbinar-binarlah mata ini dengan suka cita membawa 3 magnet kulkas keren cuma 3 euro, namanya juga emak-emak modis (MOdal DISkon).
Dudududu…. sesuai dengan doa tidak gratis plus dikasi bonus tidak memberatkan.
Lain kali kalau kemana-mana bawa stok jilbab baru deh beberapa potong, sesuatu yang mungkin bermanfaat bagi orang lain dan tidak memberatkan untuk kita.

*Menulis dengan ragu-ragu untuk diposting, kemudian akhirnya posting juga karena segala sesuatu bisa dilihat dari cara berbeda tergantung isi kepala dan hati masih-masing.
Terima kasih buat bebeb yang membolehkan istrinya raun-raun, karena setiap perjalanan pasti mengajarkan sesuatu.

Granada 7-7-2017

One thought on “Menjaga AKAD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s