Jerusalem

DSC01279
Hari itu subuh terakhir di Aqsha, memasuki masjid dengan langkah terburu melewati gerbang Zahra. Sebelumnya kami melewati Lion Gate, kali ini di droup bus dan tempat termudah untuk drop off penumpang adalah di gerbang Zahra. Zahra, saya tidak akan lupa nama itu, nama yang selalu mengingatkan kepada anak perempuan “kami” yang cantik yang tinggal dilingkungan dekat rumah. Zahra itu artinya bunga, cocok disematkan dengan nama gadis kecil itu. Di atas pintu gerbang Zahra terdapat gambar bunga terbuat dari ukiran batu alam. Dikarenakan saya foto menggunakan hp teman jadi tidak bisa kasi liat foto gerbangnya, search atau percaya saja atau nanti liat sediri seperti apa gerbang Zahra, aamiin.

Kami berjalan terburu-buru disamping cuaca yang sangat dingin juga dikarenakan waktu sudah mendekati sholat subuh. Belum ada yang bisa terlihat jelas disubuh hari hanya kucing-kucing cantik berkeliaran. Sempat melewati masjid atau mushollah? Saya tidak pasti karena tidak ada plangnya dimana sebagian laki-laki bersiap-siap untuk sholat subuh disitu. Padahal komplek aqsha hanya bebera ratus meter dari situ pahalanya 500 kali lipat dibanding sholat dimasjid lain. Lalu kenapa mereka sholat ditempat kecil itu?
Saya ingat ketika kemarin kami melewati gerbang Zahra, banyak penjual buah-buahan yang ukuran buahnya serba jumbo. Delima jumbo, jeruk jumbo, dan yang paling penting strawberry jumbo. Tanah yang diberkahi dengan berbagai macam sayuran dan buah-buahan kualitas baik. Dalam perjalanan kami ke Hebron pun terlihat kembang kol di jual di pinggir jalan, ukuran XXXL yakin kalau ditimbang lebih dari sekilo. Subuh ini masih tutup jejeran tokonya, nanti pulangnya lewat lagi deh, begitu rencana saya.

Setelah subuh kami masih berkesempatan mengelilingi sebagian area masjid, ke tembok ratapan, dan menyaksikan sunrise yang masyaAllah bikin susah move on. Kami tau akan ditinggal bus maka kami memutuskan untuk mencoba jalan keluar yang berbeda, lalu naik taksi ke Hotel. Kamipun memilih keluar melewati Damaskus Gate. Didalam perjalanan kami melewati rumah nenek Muftia, juga gereja yang masih tertutup. Sempat juga memperhatikan pakain lengkap pasangan yahudi, yang perempuan menggunakan mantel dan stocking, cukup tertutup, yang pria mengenakan jubah panjang, lengkap dengan topi dan rambut panjangnya. Pingin saya foto tapi takut tidak sopan. Sama-sama berjalan keluar menuju gerbang. Sebentar-sebentar tercium aroma roti yang baru kelaur dari oven menyeruak dari pintu rumah atau toko yang terbuka. Jalan kecil yang kami lewati terbuat dari susunan batu alam, yang ternyata sebagian masih bisa dilewati mobil satu arah. Kucing-kucing gemuk, lucu dan berbulu tebal berkeliaran. Beberapa toko kecil terlihat mulai beraktifitas. Penjual jus delima, dan teh manis mulai menawarkan dagangannya. Damai, kehidupan terlihat berjalan normal. Lalu apa yang diberitakan di media?
DSC01274

Tanpa mereka, teman-teman saya sadari, saya sengaja memilih rute yang berbeda dari biasa. Bukan tanpa pertimbangan saya memilih keluar komplek Al Aqsha melewati gerbang Damaskus, beberapa kali saya membaca buku sejarah, nama Damaskus sering disebut-sebut. Betapa pentingnya kota ini sehingga sering disebut-sebut. Siapa tau sekarang melewati gerbangnya next time tinggal masuk kotanya, aamiin. Alasan keduanya klise, mau beli strawberry ukuran jumbo. Tapi manusia punya rencana Dia juga yang menentukan. Toko sayur sudah buka sebagian tapi penjual buah masih tutup. Keluar gerbang Damaskus terlihat diseberang jalan toko roti sudah buka, roti digelar begitu saja tanpa ditutup. Bisa dipastikan kalau di Indonesia saya tidak akan beli terbayang lalat dan debunya juga asap knalpot hehehe. Tapi karena ini di Yerusalem belilah mau coba seperti apa sih rasa rotinya. Maka saya pun membeli roti dua buah dengan tujuan dibagi-bagi dengan teman di hotel, icip-icip roti Jerusalem karena sebelumnya kami sudah mencoba roti gandum yang enak dirumah Nenek Muftia. Ternyata roti yang saya beli agak keras, seret dan rasanya hhmmm…hhmm….sudahlah. Seketika saya bersyukur roti tawar abang-abang yang lewat setiap sore, masih lebih lembut dibandingkan roti ini. Tapi saya paksa juga teman ambil biar mencicipi dan urung membagikan kepada teman di hotel.

Kami memesan dua taksi menuju hotel, supir taksinya cukup ramah kami bisa bertanya macam-macam, yang susah diceritakan disini, sampai pada pertanyaan .
Kami :“Sebenarnya Aqsha ini aman kan ya?”
Supir :” Seperti yang kalian lihat jika sedang aman seperti ini, tapi jika ada kerusuhan maka tidak aman untuk turis, tapi bagi kami biasa saja. Kami sudah terbiasa.”
Jleb moment buat saya. “Sudah terbiasa dengan konflik”. Dan banyak lagi percakapan lainnya yang intinya membuat saya semakin bersyukur tinggal di Indonesia dengan roti tawar yang lezat bahkan donat gagal buatan sendiripun masih lebih enak. Di Indonesia beribadah dengan tenang di masjid-masjid manapun adalah hal wajar. Bresyukurlah, masih ada tempe di atas meja makan, oncom, walau makanan desa tapi dimakan dalam suasana aman dan damai. Sementara di Jerusalem bagi warganya yang masih usia produktif sangat sulit untuk sholat di masjid Aqsha. Ini juga terlihat di Masjid Ibrahim, kalau sempat saya ceritakan detailnya. Aqsha aman, hidup berdampingan 3 agama dengan damai, betul…betul sekali. Definisi damai disini apakah termasuk setiap pemeluk agama bebas dalam melakukan ritual agamanya masing-masing tanpa ada larangan? …dan…. sudahlah Dia Maha Tau mana yang terbaik, saya (kita) cuma menjalankan skenarioNya.

Terlanjur jatuh hati dengan Jerusalem, semoga kelak keturunan kami bisa menginjakkan kakinya di tanah ini. Jerusalem, we will back soon, insyaAllah. Tulisan ini saya buat tanpa tendensi apa-apa, hanya mengenang salah satu moment terbaik dalam perjalanan hidup saya. Mohon sekiranya jika tidak setuju di skip saja karena setiap kepala isinya berbeda-beda dan setiap orang punya fase kehidupannya masing-masing, nikmati dan syukuri fasemu. Sayang energi untuk berdebat sementara diluar sana masih bingung memikirkan apa yang bisa dimakan hari ini, apakah kehidupan ini masih berlanjut sampai besok, apakah keluarga ini masih tetap utuh sampai malam nanti?
Make love not “war” and eat your food thankfully.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s