Kembali

Minggu yang mengobrak-abrik perasaan.
Beberapa hari lalu, sepupunya sahabatku meninggal dunia di usia belum 30 tahun. Baru sekitar sebulan melangsungkan pernikahan. Malam takbiran kemarin, om Teddy meninggal diusia 54 tahun. Tidak ada keluhan sakit sebelumnya. Seminggu sebelum meninggal mengeluh dada sakit, tapi tidak mau diajak ke dokter. Puasa 9 Dzulhijah walau dalam kondisi payah, dan sekitar pukul 8 malam om Teddy menghembuskan nafas terakhirnya.
Penguburan dilaksanakan setelah sholat Idul Adha. Anak-anaknya kelas 6 SD dan 3 SMP tabah dan ikhlas sekali mereka hanya beberapa kali menitikkan air mata, menangis seperlunya. Dari rumah sudah terbayang Tanteku yang manja, bagaimana kabarnya? Benar saja Tante menangis sejadi-jadinya, beberapa kali pingsan. Tapi Rizky tetap menyemangati Mamanya. Ya Allah anak sekecil itu bisa setegar ini.
Rizky :”Mama ikhlas, kasian Papa Ma…..ini sudah ketetapan Allah kita cuma bisa mendoakan.”
Itu bukan hanya omongan kosong tapi dia betul-betul buktikan ucapannya, anak yang shaleh. Prosesi penguburan, dia tegar hanya beberapa tetes airmata yang jatuh, entah air mata apa, hanya dia yang paham. Alhamdulillah aku juga belajar memaknai kehilangan sebagai kembali. Kembali ke Allah, yang jiwa kita dalam genggamannya. Seharusnya proses kembali dihadapi dengan suka cita bukan kesedihan, di ikhlaskan. Karena sebenarnya jiwa-jiwa yang berpulang kepada pemilikNya, sudah ridho. Tidak boleh diperberat dengan tangisan berlebihan, apalagi ratapan. Teringat ketika Abah meninggal, kami sudah siap karena sudah melalui proses sakit cukup lama. Air mata yang keluar tanpa suara…. cuma sebentar. Lalu malamnya panas tinggi sampai ngigau, antara sadar dan tidak. Ya masih cemen, cuma berusaha tegar dalamnya gak kuat. Asli dua hari gak bergerak dari ruang tamu tidur, makan, tidur…tidur. Sakit kepala hebat sehingga tidak bisa diangkat, walllahu’alam.

Pagi ini mendapat berita suami teman meninggal dunia di usai 67 thn. Mati memang tidak memandang umur dan bisa datang tiba-tiba. Pertanyaannya sudah siapakah? Sudah punya bekal apa? Abah enak anaknya 8 banyak yang mendoakan. Anakku 2 saja, pertanyaannya apakah anak-anakku sudah didik dengan benar. Subuh tadi si Sulung akan berangkat naik KA kembali ke pondoknya. Dia mengatakan sesuatu yang bikin airmata ini jatuh. Apa daya punya Ibu cengeng, ada Ibu temannya, satu-satunya cara ke Toilet dan kamuflase pakai bedak dan lipstik, tapi itu gak menolong. Mau dandan secantik apapun kesedihan hati tidak bisa ditutupi. Sedih bukan karena perkataannya tapi yang paling sedih adalah bahwa selama ini saya masih belum benar mendidik anak. Salah saya murni salah saya, Yang bikin airmata ini jatuh adalah kesadaran bahwa 15 tahun kebersamaan dengan dia tapi belum bisa membuat dia bangga mempunyai ibu seperti saya. Sampai disatu titik saya tersadar bahwa hidup dan mati ini terletak ditangan saya sepenuhnya, mau hidup cara apa dan mati cara apa. Tugas saya mendidik anak, karena ketidakmampuan saya mendidik maka dia disekolahkan ke sekolah yang baik dengan harapan bisa menutupi kekurangan kami sebagai orang tua. Dia berproses, saya sudah mentok, ini yang bikin saya nangis. Tangisan yang dibalut doa agar anak saya selamat sampai tujuan tidak kurang suatu apapun, jadi anak yang shaleh yang bisa mendoakan kami jika kami sudah meninggal.
Saya sudah tenang tidak sedikitpun rasa marah untuknya, saya sudah maafkan. Sampai tadi dia menelpon saya angkat tanpa suara, saya tidak mau GR kalau ternyata itu hanya telpon kepencet saja. 15 detik tanpa suara akhirnya dia bicara. Diam-diam tangis saya pecah lagi….dia minta maaf. Saya memang selalu mengajarkan untuk minta maaf untuk semua kesalahan walaupun dengan paksaan dan dia selalu terpaksa melakukannya. Apabila maafnya belum terdengar tulus, paksa lagi diulang, sampai dia mengeluarkan suara lembut (dengan terpaksa juga agar siksaan ini berakhir hahahha). Tapi kali ini dia inisiatif menelpon, mengabarkan kalau sudah sampai sekolah. Saya hanya menjawab alhamdulillah. Dia diam, saya diam.
Lalu dia bicara :”Bunda, maafkan Abang ya tadi.”
Saya :”Sudah dimaafkan dari tadi.”
Abang : “Abang tadi salah.”
Saya :”Abang gak salah, Bunda yang salah mendidik anak, Bunda gagal. Bunda gak akan buat malu Abang lagi, tenang aja. Sekolah aja yang benar biar nanti Bunda mati ada yang mendoakan.”

Terdengar seperti orang dendam kan, tapi tidak ada dendam sama sekali sama anak sendiri selalu mendoakan kebaikan. Sedih….sedih karena selama ini merasa paling tau, paling mengerti anak, ternyata salah. Sedih karena tidak bisa menjadi orang tua yang dibanggakan anak sendiri. Tapi saya sudah bertekad tidak akan membuat dia tidak nyaman, meyerahkan sepenuhnya urusan sama Allah agar dia selalu didalam koridor agamanya. Agar menjadi pemimpin yang bijaksana. Waktu saya tidak lama, sekecil apapun saya tidak boleh berharap dari anak. Saya ridho untuk semua perbuatannya dan saya selalu berdoa untuk kebaikannya, Semoga Allah ridho kami menjadi orang tuanya.
Semua usaha kami dalam mendidik anak, kami kembalikan kepadaMu ya Rabb. Tiada daya upaya selain ridho dan pertolonganMu. Berkahilah keluarga kami, aamiin.

One thought on “Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s